Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) terus mendigitalisasikan aksara nusantara ke dalam format internationalize domain name (IDN), yang dapat diakses dan dipergunakan di internet.
IDN merupakan nama domain untuk bahasa lokal atau aksara tiap daerah atau negara. Nama domain ini bersifat khusus, karena tidak menggunakan huruf latin yang merupakan kode dari American Standard Code for Information Interchange (ASCII).
Yudho Giri Sucahyo, Ketua PANDI mengatakan bahwa upaya ini dilakukan untuk melestarikan budaya Indonesia. Untuk itu, PANDI membuat program khusus bertajuk Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara.
“Ini merupakan perjuangan panjang karena kita punya 718 bahasa daerah dan sekarang di Unicode hanya 10 yang terdigitalisi,” kata Yudho Giri Sucahyo dalam acara peluncuran Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara di Jakarta, Sabtu, 12/12.
Yudho mengatakan bahwa keberadaan IDN di era digitalisasi saat ini dirasa penting, mengingat pertumbuhan pengguna internet dunia yang semakin pesat.
Ditambahkannya, masyarakat internet terbiasa memakai huruf latin untuk menulis ataupun mengetik.
“Bukan tidak mungkin, ke depan aksara daerah di Indonesia akan punah apabila tidak dilestarikan,” jelasnya.
Yudho menjelaskan PANDI dalam mewujudkan program ini menjalin kemitraan dengan berbagai pihak, seperti pemerintah, komunitas, hingga lembaga akademis dan non akademis.
“Program ini juga mendapat dukungan penuh dari UNESCO dalam kaitannya terhadap pelestarian budaya. Ke depannya kami juga akan bekerja sama dengan UNESCO dalam hal pelestarian aksara Nusantara.”
Saat ini, PANDI sedang mengadakan lomba membuat website dengan konten aksara daerah yang sudah berjalan di beberapa daerah, seperti Jawa, Sunda, Bali dan Makassar.
Juga telah menyiapkan website www.merajutindonesia.id yang menyajikan konten seputar aksara nusantara mulai dari sejarah, proses digitalisasi hingga font aksara nusantara.














