Yudho Giri Sucahyo, Ketua Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) menyampaikan mengenai pelestarian bahasa asli (daerah) di forum diskusi bertajuk “Safeguarding and revitalizing indigenous language in Asia for sustainable development”
Forum itu berupa diskusi tingkat Asia yang digelar oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).
Yudho yang jadi wakil Indonesia, menjelaskan peran teknologi digital dalam revitalisasi dan pengembangan bahasa daerah. “Cara melestarikan bahasa daerah yang dilakukan atau sedang dilakukan oleh PANDI saat ini adalah dengan mengikuti dan menggunakan teknologi digital,” ujarnya
“Juga perlu ada kerja sama antara pegiat teknologi informasi dan pegiat bahasa daerah. Tentang digitalisasi aksara dan bahasa daerah, kita perlu melakukannya bersama-sama,” ungkapnya dalam keterangan resmi, 12/05/2021.
Baca: PANDI Lestarikan Aksara Nusantara Lewat Digitalisasi
Menurut Yudho kebijakan pemerintah memiliki peranan dalam merangkul penggunaan bahasa daerah. “Jadi kita perlu mendekati pemerintah daerah agar bahasa daerah memiliki status hukum bahasa tersebut.”
Dalam forum ini, ia juga menyoroti kesenjangan digital dan literasi dalam hal pengembangan aksara dan bahasa daerah melalui teknologi.
“Mereka yang harus menguasai bahasa daerah belum memiliki keterampilan yang mumpuni untuk menguasai teknologi.”
Sementara, belum banyak aktivis IT yang memperhatikan perkembangan bahasa daerah di platform digital.
“Jadi di sinilah PANDI hadir bersama pegiat bahasa daerah di seluruh Indonesia, akademisi, pemerintah, pegiat IT, dan juga UNESCO,” tegas Yudho.
“PANDI punya program Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara atau MIMDAN, yaitu digitalisasi aksara-aksara daerah yang ada di Indonesia,” jelas Yudho.
Diskusi UNESCO tersebut merupakan konsultasi regional wilayah Asia sebagai persiapan aksi global International Decade of Indigenous Languages (IDIL) 2022–2032 yang dideklarasikan oleh PBB.














