Penulis: Busthomi
Pandemi Covid-19 membuat banyak perusahaan menjadi semakin tancap gas untuk melakukan digitalisasi. Hal ini pun dilakukan oleh PT Bank CTBC Indonesia. Pasca pandemi Covid-19, bank asal Negeri Tirai Bambu itu melakukan transformasi digital demi bisa bersaing dengan bank-bank umum lainnya.
Bank CTBC Indonesia merupakan bank umum yang memiliki strategi bisnis fokus pada segmen nasabah tertentu dan terus melakukan investasi dalam sumber daya manusia, teknologi dan manajemen, untuk mencapai pertumbuhan dan memenuhi visi dan misi perseroan.
Untuk itu, dalam Master Plan IT, menurut Benny F Markus, IT Gorup Head PT Bank CTBC Indonesia, ada beberapa yang tengah dan akan dilakukan oleh pihak Bank CTBC ini, pertama, mengoptimalkan transformasi digital yang telah dilakukan sebelumnya dengan mengembangkan fitur-fitur, meningkatkan kualitas, performa dan stabilitas layanan perbankan elektronik / digital yang telah diimplementasikan agar lebih inovatif serta memudahkan nasabah dalam bertransaksi secara online.
“Kedua, meningkatkan efisiensi operasional dan mempercepat pengembangan sistem dengan memanfaatkan penggunaan teknologi dan penerapan konsep RPA (Robotic Process Automation) yang diawali pada proses manual di back office,” tutur Benny dalam proses penjurian TOP Digital Awards 2021 yang digelar Majalah It Work secara virtual itu.
Selanjutnya, dalam master plan IT itu, akan dilakukan re-engineering teknologi informasi dengan memperkuat infrastruktur (terutama dengan meningkatkan kapasitas jaringan komunikasi antar cabang dan kantor pusat) untuk mendukung akselerasi digitalisasi, termasuk rencana untuk pengembangan Pusat Data dalam hal kapasitas, skalabilitas dan kehandalan.
Dan terakhir, akan memperkuat keamanan informasi dan transaksi seiring dengan meningkatnya ancaman kejahatan siber pada saat menerapkan dan merespon perkembangan teknologi.
Dalam proses penjurian ini, Benny sendir didamping oleh tim IT dan retail banking, antara lain, Bambang S Simarmata, Head Divisi Retail Banking; I Nengah Dwijaya U, IT Application Department; Eddy Stephanus, IT Operation Department; Johan Lai, IT PM Department; Candra Kurniawan, IT QA & Support Department.
Proses transformasi digital di Bank CTBC sendiri sejatinya terus tancap gas di era pandemi ini. Makanya dari si tata kelola dan kebijakan IT perusahaan pun baru digelar pada 2020 dan 2021 ini. Tercatat, kata Benny, terdapat 15 kebijakan IT yang dapat mendukung terlaksananya proses transformasi digital tersebut berjalan sukses.
“Antara lain, kebijakan teknologi informasi tentang fondasi penerapan TI bank secara umum, yang dikeluaran pada tahun 2021 ini. Juga ada kebijakan terkait prosedur keamanan informasi yang mengatur tentang aturan dan standar dalam perlindungan informasi dan sistem informasi dari akses, pengungkapan, gangguan, dan pemusnahan yang tidak terotorisasi. Kebijakan ini dikembangkan di 2021,” jelas Benny.
Adapun untuk kebijakan IT di tahun 2020 lalu, antara lain, kebijakan Prosedur Penjaminan Mutu Sistem Aplikasi yakni tentang mekanisme untuk memastikan kualitas aplikasi melalui proses pengujian sebelum implementasi aplikasi.
Aplikasi Bank CTBC
Beberapa aplikasi yang dikembangkan Bank CTBC dalam proses transformasi digital tersebut bisa disebut cukup mutakhir, antara lain adalah:
Pertama, Solusi Bisnis RPA (Robotic Process Automation) untuk otomasi sistem back-end. Aplikasi ini dikembangkan pada 2021 ini dengan developer kominasi antara internal dan eksternal.
“Ini adalah otomasi manual proses yang rutin dan terstruktur serta melibatkan banyak bagian menjadi proses yang otomatis dan terintegrasi. Dengan fitur unggulannya kemudahan salam integrasi multi sistem; validasi yang cepat dan akurat serta konsisten; serta analitik dengan dukungan AI,” jelasnya.
Aplikasi ini sangat bermanfaat bagi perusahaan, yakni operasional lebih efisien sekaligus meningkatkan produktifitas, mengurangi human error, mempercepat pengembangan dan kesiapan sistem, dan mempercepat proses.
RPA sendiri, lanjut dia, berfungsi dalam empat hal, yaitu, sebagai analytics yakni mendukung analisis yang prediktif dan sebagai insight operasional yang real time. Lalu sebagai RPA sendiri dengan melakukan pekerjaan berulang yang rutin atau repetitive dan eksekusi bisnis proses yang terstruktur dengan minim kesalahan oleh robot.
Lalu sebagai process discovery and automation bisa mendapatkan gambaran proses bisnis dalam perusahaan, mengidentifikasi alur kerja atau proses yang bisa diotomasi, dan mengidentifikasi alur kerja atau proses yang kurang efektif. Terakhir bisa mengeluarkan Artificial Intelligence Capabilities yakni meng-convert data yang tidak terstruktur menjadi tersktruktur, terus menerus belajar dan adaptif terhadap proses bisnis, serta memproses dokumen dengan AI.
Kedua, aplikasi KTA Instan (web approval-in-principle) yakni melalui www.danacintadigital.com. “Aplikasi ini dikembangkan pada 2021 ini berdasar pengembangan kombinasi (internal-eksternal). Yakni sebuah solusi formulir pengajuan pinjaman KTA (Kredit Tanpa Agunan) berbasis web, yang dapat memberikan persetujuan awal (approval in principal/AIP) dalam waktu 60 detik,” imbuh Bambang, mengakui.
Dengan fitur unggulan berupa platform front-end berbasis web, sehingga dapat di akses dari mana saja, menggunakan alat apa pun (web-capable) baik ponsel maupun PC, bisa diakses setiap saat dan 24/7, tidak bergantung pada OS tertentu, tidak perlu download aplikasi (app) untuk memulai. Lalu, verifikasi identitas secara real-time dengan akses ke Dukcapil.
Selanjutnya, Credit Scoring real-time dengan API data dari biro kredit eksternal (Pefindo), sehingga dapat menentukan persetujuan awal serta jumlah pinjaman yang dapat di setujui dalam waktu kurang dari 60 detik. Juga untuk pengisian formulir yang sedikit dan sederhana, serta memiliki validasi dan auto-fill, sehingga seluruh formulir dapat diisi dengan waktu kurang dari 10 menit hingga selesai.
“Dan juga ini produk pinjaman KTA yang setara dengan produk konvensional dari bank, sehingga memiliki batas plafon yang besar hingga Rp200 juta,” ujar Bambang.
Dengan begitu, kata dia, aplikasi ini juga bermanfaat bagi perusahaan dan nasabah. Antara lain, mengotomasi proses analisa kredit, dengan data yang sudah diproses dan ditentukan oleh sistem di awal. Juga adanya efisiensi terhadap biaya dan sumber daya manusia/pekerjaan manual, biaya pencetakan/fotokopi, pengiriman dan penyimpanan dokumen.
“Keuntungan bagi nasabah yakni mendapatkan kepastian awal (60 detik) terhadap pengajuan pinjaman, bisa langsung dicoba tanpa harus melakukan riset produk lain. Karena analisa data debitur melalui sistem pengambil keputusan (decision engine). Serta benefit lainnya,” jelas dia.
Infrastruktur aplikasi KTA ini dengan pemanfaatan RPA dan e-KTP serta e-KYC (know your customer) dalam proses validasi calon nasabah. Selain itu juga untuk keamanan IT-nya adalah pemanfaatan NG-WAF (Next Generation-Web Application Firewall) untuk mendeteksi dan mencegah serangan siber berdasarkan analisis traffic behavioural. Juga implementasi DLP (Data Leak Prevention) dan sistem Tagging untuk mencegah kebocoran data.
“Adanya SOC (Security Operation Centre) untuk menjaga keamanan informasi 24/7 dan implementasi Anti-APT (Advanced Persistent Threat) untuk mencegah malware atau virus melalui web dan/atau email,” sambung Benny.
Selanjutnya, ada juga aplikasi mobile banking yakni CTBC Mobile, aplikasi perbankan yang memudahkan nasabah untuk melakukan transaksi perbankan dari mana saja dan kapan saja melalui ponsel. Dan ada yang namanya VMware Horizon, yaitu menyediakan fitur aplikasi virtual untuk pengguna dengan memanfaatkan teknologi virtualisasi VMware dengan fungsi utama sebagai media untuk bekerja secara remote dengan aman. Ini sangat efektif mendukung kebijakan WFH selama masa pandemi.














