Jakarta, ItWorks- Konsep smart city (kota cerdas) yang diimplementasikan Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar terus ditingkatkan dengan aplikasi baru untuk berbagai layanan masyarakat. Terlebih di tengah pandemi, di mana digitalisasi kian jadi tumpuan, termasuk untuk penanganan dan pengendalian Covid-19 melalui pemanfaatan “Sombere Smart City”.
Di bawah Kepemimpinan Walikota Makassar Ir. H. Mohammad Ramdhan Pomanto atau biasa dikenal sebagai Danny Pomanto, implementasi konsep smart city di Kota Makassar terus diperkuat dengan aplikasi baru. Konsep smart City di Kota Makassar dikembangkan secara spesifik, dengan tetap mengakomodasi kearifan budaya lokal untuk mewujudkan Makassar sebagai yang kota cerdas (smart) dengan dukungan teknologi digital.
Peningkatan penggunaan teknologi informasi sekaligus sebagai kesiapan dalam memasuki era revolusi industri 4.0. Di antaranya pemanfaatan teknologi yang lebih modern berbasis internet atau Internet of Things (IoT) untuk mendukung berbagai layanan masyarakat melalui berbagai aplikasi Sombere Smart City. Bahkan juga sudah mulai diimplementasikan sistem aplikasi dengan dukungan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), dan big data.
“Implementasi Smart City kota Makassar, kami punya istilah Sombere Smart City supaya tujuan agar tetap selaras dengan budaya lokal. Sombere berasal dari bahasa Makassar yang di antaranya berarti keramahan atau baik hati dan terbuka yang juga merujuk pada pelayanan yang baik, persaudaraan yang erat. Hal itulah yang ingin dihubungkan dengan penerapan teknologi informasi dalam konsep smart city ini. Untuk optimalisasi implementasi konsep smart city, Pemkot Makassar juga sudah mengoperasikan Operation Room sebagai pusat kendali dan pemantauan digital kota Makassar untuk memberikan kenyamanan warga dan kehidupan yang lebih berkualitas,” ujar Plt. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Pemerintah Kota Makassar, Denny Hidayat saat presentasi dan wawancara penjurian “Top Digital Awards 2021” secara daring, baru-baru ini.
Tahun ini, Diskominfo Pemkot Makassar terpilih dan masuk sebagai kandidat untuk tahap wawancara penjurian TOP Digital Awards 2021. Top Digital Awards merupakan kegiatan corporate rating atau ajang penilaian untuk penghargaan di bidang IT dan Telco atau teknologi digital yang diberikan kepada perusahaan/ instansi pemerintahan yang dinilai berhasil dalam hal implementasi dan inovasi pemanfaatan teknologi digital. Terutama dalam upaya meningkatkan kinerja, daya saing, layanan pelanggan, maupun layanan masyarakat di tengah pandemi covid-19 dan era new normal di kota berpenduduk sekitar 1,5 juta ini. Kegiatan ini diselenggarakan oleh majalah ItWorks, bekerja sama serta didukung oleh beberapa asosiasi dan Lembaga konsultan IT & TELCO di Indonesia.
Dalam presentasi berjudul “Makassar Terus Dua Kali Tambah Baik Dengan Sombere & Smart City” Plt. Kadiskominfo Makassar, Denny Hidayat, memaparkan banyak hal terkait inisiasi dan inovasi aplikasi untuk mendukung percepatan transformasi digital untuk Makassar yang ramah dan berdaya saing dengan pemanfaatan teknologi. Selain inovasi smart city, juga pengembangan aplikasi untuk SPBE untuk memudahkan layanan masyarakat berbasis online sistem, terutama di tengah pandemi Covid-19.
Beberapa inovasi baik pengembangan infrastruktur dan aplikasi, terus ditingkatkan hingga kini. Semuanya dijalankan dengan semangat Sombere. Pemerintah percaya bahwa teknologi harus berjalan selaras dengan identitas dan budaya warga lokal. Beberapa aplikasi di antaranya difokuskan untuk meningkatkan layanan dasar pemerintah kepada masyarakat. Meliputi sistem manajemen layanan pemerintah berbasis elektronik -Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) atau e-government, bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi (Smart Economy), Smart Living, Smart Society, serta Smart Environment.
Bidang kesehatan antara lain dengan mengembangkan aplikasi Telemedicine Improvement with Multi-Platform Data collection termasuk layanan kesehatan baru: Home Care. Home Care merupakan fasilitas kesehatan dalam mobil yang beroperasi selama 24 jam dan berpindah-pindah. Seperti halnya ambulans, Home Care dengan dokter akan datang ke rumah warga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaan lanjutan seperti USG dan EKG dapat dilakukan di Home Care, kemudian datanya akan dikirim secara daring ke dokter spesialis dan hasilnya akan dikirim secara daring juga. Mobil Home Care ini kemudian diberi nama Dottoro’ta, yang dalam bahasa lokal berarti “Dokter Kita”. Bahasa lokal ini digunakan untuk membuat masyarakat familiar dan menciptakan lebih banyak sentuhan manusia pada fasilitas tersebut.
Secara garis besar, proyek Sombere & Smart City Makassar terdiri dari enam modul. Di antaranya Smart government, untuk mengoptimalkan pelayanan publik dari pemerintah kota. Smart branding, untuk meningkatkan kesadaran terhadap karakter kota, terutama untuk pariwisata. Smart economy, untuk membangun ekosistem yang baik dan mendorong less cash society. Smart living, untuk menciptakan kehidupan yang nyaman dan meningkatkan kesadaran terhadap Kesehatan. Smart society, untuk membangun masyarakat yang interaktif dan humanis. Smart environment, untuk mengurangi dan memanfaatkan sampah serta menciptakan sumber energi yang lebih baik.
Menggunakan CCTV Berteknologi Face Recognition
Denny menambahkan, terkait sistem aplikasi untuk mendukung keamanan dan kenyamanan masyarakat, Pusat Kendali Smart City Kota Makassar telah dilengkapi dengan penggunaan kamera CCTV (Closed Circuit Television) berteknologi face recognition untuk memantau keadaan dan keamanan masyarakatnya. Misalnya untuk memantau kondisi lalu lintas jalan, dan menempatkannya di daerah rawan, termasuk persimpangan jalan. “Saat ini pemanfaatan CCTV pun diperluas, di antaranya menggandeng pihak kepolisian untuk menerapkan Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) atau tilang elektronik. Bahkan Pemkot Makassar mengembangkan CCTV berbasis face recognition untuk menunjang sistem keamanan dan kenyamanan kota,” ujarnya.
Dengan teknologi kamera Face Recognition atau pendeteksi wajah, bisa berfungsi untuk pemantauan (surveillance). Fitur ini bisa mengidentifikasi gerak-gerik pelaku seseorang yang mencurigakan sekaligus mengenali wajahnya. CCTV face recognition tak hanya dipasang di lampu lalu lintas atau persimpangan jalan, namun juga di tempat-tempat umum atau obyek vital. Termasuk dipasang di daerah atau kawasan yang biasa dijadikan tempat pembuangan sampah sembarangan atau aksi-aksi vandalism, seperti daerah pinggiran kali agar masyarakat tidak buang sampah sembarangan. “CCTV ini juga dipasang di titik-titik yang rawan kejahatan. Hal ini juga sebagai salah satu langkah untuk mencegah tindak kejahatan atau kriminalitas di kota Makassar,” tambahnya.
Dengan inovasi ini, Pemerintah Kota Makassar telah berkomitmen untuk menjadi Sombere & Smart City yang lebih baik, tidak hanya melalui teknologi, tetapi juga karakter dan identitas lokal. Sombere akan menjadi panduan untuk menciptakan lingkungan berkelanjutan di Kota Makassar. Program-program tersebut dibangun dari pola pikir dan pendekatan masyarakat lokal sekaligus mendorong mereka untuk menjalani hidup lebih baik. (AC)














