Jakarta, ItWorks- Kemajuan teknologi informasi atau digitalisasi yang semakin cepat, mendorong Nanang Victor Hambali, Aparatur Sipil Negara (ASN) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Jawa Barat membangun berbagai terobosan. Salah satunya dengan mengembangkan aplikasi ID FACE guna mendukung dan memberi kemudahan pekerjaannya di bidang Kepabeanan dan Cukai.
Hasil kerja kerasnya selama ini telah mengantarkan Nanang meraih penghargaan Top 6 ASN Inspiratif pada ajang Anugerah ASN 2021 dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB). Anugerah ASN merupakan bentuk penghargaan bagi ASN dengan kinerja melampaui ekspektasi, organisasi dan masyarakat.
Dalam paparannya Nanang menjelaskan, aplikasi ID FACE merupakan aplikasi berbasis web yang digunakan untuk menampung dan menyimpan informasi-informasi yang diperoleh dari kegiatan digital forensic. Aplikasi tersebut dapat digunakan dalam membantu pengembangan kasus maupun memperoleh informasi keterkaitan antar-perkara.
Dikatakan bahwa saat ini belum ada database penyidikan di Kanwil DJBC Jawa Barat, yang dapat dijadikan penyimpanan data hasil penanganan perkara. “Dengan adanya ID FACE diharapkan dapat membantu dalam me-recall data dan informasi yang dibutuhkan, kapanpun, dan dimanapun,” jelasnya seperti dilansir dalam portal web KemenPANRB (19/01/2022) lalu.
Sebelum aplikasi dibangun, tahun 2019 Nanang secara mandiri mengikuti dan memperoleh sertifikat internasional di bidang mobile forensic dari Oxygen Forensics. Ia menjadi pegawai Bea dan Cukai pertama yang mempelajari dan memperoleh sertifikat internasional tersebut. Pada tahun berikutnya ada 10 orang penyidik atau pegawai DJBC yang mengikuti pelatihan yang sama. Hal tersebut membuat para penyidik DJBC menerapkan pendekatan digital forensic dalam melakukan investigasi sebuah kasus.
Dijelaskan, pendekatan digital forensic bekerja dengan mencari informasi lebih dari gadget pelaku, sehingga dengan informasi yang ditemukan dalam gawai, dapat ditemukan otak pelaku yang sesungguhnya. Berdasarkan catatan DJBC Jawa Barat, penerapan digital forensic berdampak pada peningkatan jumlah penindakan dimana tahun 2019 sebanyak 1.326 penindakan dan di tahun 2021 sebanyak 3.795.
Berkat pengalaman dan pendidikan yang dimiliki, pria kelahiran Banyuwangi ini kerap melakukan sharing knowledge tentang pentingnya penerapan digital forensic dalam penanganan perkara kepabeanan dan cukai kepada para penyidik lain.
Perkembangan teknologi yang kian pesat juga membawa Nanang yang pernah bertugas menjadi Pelaksana Pemeriksa (Customs Inspector) pada KPPBC Malang ini menjadi Inisiator dan Founder ID PEDIA. Terobosan tersebut merupakan sebuah aplikasi perpustakaan digital digabungkan dengan Donasi Online pertama yang ada pada DKM (masjid/mushala) di instansi pemerintah. “Aplikasi ini diharapkan dapat membangun budaya literasi sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial di tengah pandemi,” ujarnya.
Sebagai Top 5 ASN Terbaik Bidang Pengawasan pada ASN Award DJBC 2021, Nanang juga mendirikan Petani Muda Berkah Argo, yang merupakan forum komunikasi dan komunitas para petani muda dan kaum milenial. Wadah tersebut bertujuan membantu pelaku UMKM sektor pertanian dengan memberikan edukasi dan memanfaatkan teknologi informasi dalam manajemen agribisnis, memberikan kesempatan lapangan kerja bagi sekitar 50 kepala keluarga dan puluhan pemuda di Kabupaten Lampung Timur dan sekitarnya. (AC)














