Masih ingat dengan Gedung Sarinah di Jl. M.H, Thamrin, Jakarta Pusat? Ini adalah pusat belanja modern pertama di Indonesia yang beroperasi sejak tahun 1966 di pusat kota Jakarta yang menyuguhkan berbagai macam produk UMKM dan Nusantara. Shopping Centre dan destinasi pariwisata ikonik Jakarta ini diprakarsai Proklamator RI, Bung Karno.
Sarinah berstatus cagar budaya, dan kini gedungnya sedang dipugar namun tetap menjaga dan melindungi warisan budaya arsitektur bangsa. Walau demikian, suasana belanja dan setupnya disesuaikan dengan Indonesia dalam modernitas dan Indonesia dalam identitas.
Sebagai Community Mall, Sarinah memberikan panggung untuk kreasi komunitas khususnya dari kalangan UMKM dan usaha perempuan serta para creator ekonomi kreatif dari seluruh Indonesia. Satu-satunya Mall di Indonesia yang tidak dipagari dan tidak ada tampak belakang ini adalah perwujudan inklusivitas dan keterbukaan dan rasa persahabatan bagi seluruh kalangan, baik konsumen maupun pengunjung yang ingin sekedar santai dan menikmati suasana dan vibrasi pusat kota.
Baca: Cashlez Dukung Sarinah Sediakan Pembayaran Non-Tunai
Seperti diketahui semenjak pandemi Covid-19, pertumbuhan transaksi digital meningkat pesat di Indonesia. Berdasarkan data dari Bank Indonesia, transaksi uang elektronik hingga kuartal III 2021 tercatat naik 45,05% year-on-year (YoY). Pertumbuhan tersebut diiringi oleh meningkatnya ekspektasi dan preferensi masyarakat untuk berbelanja secara digital. Oleh karena itu, pihak Sarinah pun turut mendukung pertumbuhan ekonomi keuangan digital Indonesia ini melalui digitalisasi yaitu penerapan pembayaran non-tunai bekerja sama dengan Cashlez.
“Asas sustainability juga sangat terbantu dengan digitalisasi ekosistem ritel ini. Sustainability adalah kunci bermain di pasar masa depan dan dunia. Selanjutnya ekosistem digital turut menyumbangkan peran besar terhadap Good Corporate Governance,” kata Fetty Kwartati Direktur Utama PT. Sarinah, dalam siaran pers, 25/01/2022.
“Digitalisasi pun memudahkan transparansi dan akuntabilitas yang menjadi landasan pelayanan pelanggan, pemegang saham, mitra usaha serta tenant Sarinah. Dengan kata lain, digitalisasi mendukung kredo BUMN yaitu AKHLAK, singkatan dari Amanah, Kompeten, Harmonis, Adaptif, dan Kolaboratif,” jelasnya.
Selanjutnya Fetty menambahkan bahwa digitalisasi memastikan terkelolanya rantai pasok hingga rantai nilai secara integral. Dengan demikian maka sistem ini akan masuk sebagai platform yang meningkatkan consumer insight dan service excellence, karenadigitalisasi membantu kita mengenal dan melayani konsumen lebih cepat dan tanggap sehingga bisa terus menerus menjadi landasan penyempurnaan pelayanan (continuous improvement).
Ritel adalah sebuah axis dan titik belanja serta titik konsumsi pelanggan atau dalam jargon bisnisnya dikenal dengan Point of Sale dan Point of Consumption. Istilah ini mencakup daya mengelola supply dan demand sisi industri.
“Digitalisasi memberikan pengalaman utuh berbelanja kepada pelanggan. Inilah dasar kekuatan bisnis ritel yang harus terus dipertahankan dan disempurnakan,” tegas Fetty.
Baca: TOP Digital Awards 2021: Dukung UKM Go Global, BNI Hadirkan BNI Xpora














