Survei Kaspersky bertajuk “Mapping a secure path for the future of digital payemnts in APAC” yang diadakan 2021, menemukan hampir satu dari dua orang (45 persen) di Asia Tenggara kehilangan uang karena penipuan dari kencan online.
“Rata-rata penduduk Asia Tenggara yang pernah menjadi korban penipuan kurang dari 100 dolar AS berjumlah 22 persen, namun, penipuan meski kecil-kecilan ini dialami oleh berbagai kelompok usia,” dikutip dari siaran pers, Rabu, 09/02/2022.
Generasi baby boomer (kelahiran 1946-1964) dan di atasnya (1918-1945) paling sering menjadi korban penipuan kecil-kecilan ini, mencapai 33 persen.
Berikutnya, hampir dua dari lima orang di kelompok usia paling senior pernah kehilangan antara 5.000 sampai 10.000 dolar AS karena ditipu teman kencan online.
Sementara sebagian kecil generasi Z (8 persen) pernah tertipu lebih dari 10.000 dolar AS karena kencan online.
Baca: Banyak Jomblo, Pengguna Pelanggan Berbayar Aplikasi Tinder Tembus 4,1 Juta Orang
Menurut Kaspersky penipuan kencan online meningkat sejak 2020, ketika pandemi mewajibkan hampir semua kegiatan menggunakan internet termasuk untuk bersosialisasi.
Peneliti di Kaspersky menemukan ciri-ciri yang ditemui pada pelaku penipuan kencan online, antara lain menunjukkan emosi yang kuat, dalam waktu singkat dan cepat sekali beralih dari aplikasi kencan ke saluran pribadi.
Mereka ingin tahu banyak tentang korban karena semakin banyak mereka tahu, semakin mudah memanipulasi korban. Penipu kencan online sering memberikan cerita yang tidak konsisten dan seringkali tidak memiliki jejak digital.
Ketika meminta uang, mereka menggunakan alasan kesulitan pribadi, misalnya keluarga sakit atau bisnis gagal.
Baca: Pilih Mana?, Aplikasi Kencan Facebook Dating atau Tinder














