Group-IB, penyedia keamanan siber global, meluncurkan panduan tahunan kedua untuk evolusi ancaman nomor satu “Ransomware Uncovered 2021/2022”. Temuan dari edisi kedua laporan tersebut menunjukkan bahwa ransomware mempertahankan kemenangan beruntunnya dengan permintaan tebusan rata-rata tumbuh sebesar 45% hingga mencapai $247.000 atau setara dengan Rp 3,6 milyar pada tahun 2021.
Kumpulan-kumpulan ransomware telah menjadi jauh lebih rakus sejak 2020. Uang tebusan yang memecahkan rekor sebesar $240 juta atau sekitar Rp 3,5 triliun( $30 juta atau setara dengan Rp 439 milyar pada tahun 2020) diminta oleh Hive dari MediaMarkt. Hive dan pendatang baru lainnya pada tahun 2021 di Big Game Hunting, Grief,dengan cepat mencapai 10 geng teratas dengan jumlah korban yang diposting di situs kebocoran khusus ransomware (DLS).
Dalam keterangannya, 19/05/2022, Oleg Skulkin, kepala tim DFIR Group-IB menjelaskan bahwa antara Q1 2021 dan Q1 2022, APAC menjadi wilayah ketiga yang paling sering menjadi sasaran setelah Amerika Utara dan Eropa berdasarkan analisis data korban yang diposting di ransomware DLS. Data milik 335 perusahaan dari kawasan Asia-Pasifik diunggah ke ransomware DLS dalam periode peninjauan. “Top 10 Countries” di Asia-Pasifik berdasarkan jumlah perusahaan korban yang diposting di DLS adalah sebagai berikut: Australia (68), diikuti oleh India (48), Jepang (32), China (30), Taiwan (22 ), Hong Kong (20), Thailand (19), Indonesia (17), Singapura (17), Malaysia (14).
Antara Q1 2021 dan Q1 2022, informasi milik 17 perusahaan Indonesia telah diposting di DLS. Conti dan Avaddon menjadi geng ransomware paling agresif dengan 3 korban dari Indonesia masing-masing diposting di DLS dalam periode peninjauan. Vertikal industri yang paling sering menjadi sasaran di Indonesia adalah Energi (3 perusahaan data diposting di DLS) dan Sektor Keuangan (3 perusahaan korban).
Baca: Begini Cara Kalahkan Ransomware dengan Membangun Strategi Pencadangan Data














