Jakarta, ItWorks- Terpilih menjadi salah satu dari 17 universitas untuk menggelar Program Wirausaha Merdeka, Universitas Prasetiya Mulya mentargetkan bisa melahirkan 750 startup atau rintisan pebisnis pemula dari kalangan mahasiswa. Tak hanya dari internal, bahkan dalam program ini, 90% di antaranya diharapkan berasal dari mahasiswa umum atau dari luar Universitas Prasetiya Mulya (Prasmul).
“Universitas Prasetiya Mulya dipercaya untuk menyelenggarakan program Wirausaha Merdeka, salah satunya karena memang kita punya ekosistem yang lengkap, baik dari kajian akademisi melalui dukungan kurikulumnya, maupun infrastruktur pendukung untuk membantu mahasiswa mewujudkan ide-ide bisnis menjadi kenyataan atau dipraktekkan secara langsung. Jadi selain dukungan teori, kita juga punya mentor khusus untuk menggembleng calon pebisnis, termasuk dari para pelakunya langsung atau dari para praktisi bisnis,” ungkap Ketua Program Wirausaha Merdeka Prasmul Dr. Hesti Maheswari dalam acara media gathering ajang “Creatifest 2022 Universitas Prasetiya Mulya” (23/07/2022), di Mall of Indonesia, Kelapa Gading, Jakarta.
Melalui program Wirausaha Merdeka, diharapkan mahasiswa yang memiliki minat dan potensi dalam kewirausahaan dapat terfasilitasi dengan baik serta mendapatkan dukungan berupa mentoring dan pendampingan dari para ahli dan praktisi wirausaha. Dalam program Wirausaha Merdeka ini, Prasmul menerapkan kolaborasi antara Sekolah Bisnis & Ekonomi dengan departemen Science, Technology, Engineering and Math (STEM), sehingga mahasiswa yang ikut dalam program ini memiliki wawasan dan pengetahuan yang lengkap untuk menggeluti dunia usaha. Mulai dari kemampuan untuk membangun ide dan mewujudkannya menjadi bisnis, kemampuan dari segi managerial, marketing dan aspek terkait lainnya. Bahkan strategi kolaborasi ini sudah dirintis jauh sejak 2016, sehingga hingga kini telah meluluskan banyak wirausahawan baru dari mahasiswa yang akhirnya bisa sukses menjadi pebisnis.
Dalam program Wirausaha Merdeka yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) ini, proses pembelajaran lebih ditekankan pada pengalaman praktis. Terutama ditujukan bagi para mahasiswa yang memiliki ketertarikan terhadap dunia wirausaha. Nantinya mereka yang lolos dalam program ini, juga diberikan kesempatan mendapat pengalaman praktis untuk belajar di luar kampus.
“Program ini gratis karena mendapat dukungan pendanaan dari Kementerian Keuangan dan Kementerian Diknas. Kita targetnya untuk 750 mahasiswa. Tak hanya untuk mahasiswa dari Prasetiya Mulya, namun juga terbuka untuk mahasiswa umum yang punya ketertarikan dengan kewirausahaan. Dalam program ini kita justru ingin menarik lebih banyak peserta dari luar, sekaligus sebagai bentuk kontribusi kita untuk membantu mencapai target dalam mencetak wirausaha- wirausahawan baru di Tanah Air. Dalam program ini, 90% kita harapkan justru berasal dari luar Prasmul. Namun tetap ada proses seleksi,” ujarnya.
Dalam program ini, mahasiswa kampus lain di antaranya berkesempatan untuk berkuliah di Prasetiya Mulya selama 1 semester dan maksimal 20 SKS dapat dikonversi ke universitas asal secara gratis. Adapun syaratnya adalah sebagai berikut: Mahasiswa aktif kuliah semester 5 atau 7 yang dibuktikan dengan transkrip nilai, ada surat rekomendasi dari program studi kampus asal, Surat izin dari orang tua, Surat pernyataan mau mengikuti program hingga selesai, serta Entri KRS MBKM. Sedangkan syarat khusus Prasmul, calon mahasiswa harus membuat narasi tentang motivasinya mengikuti program dan ide bisnis.Bagi yang tertarik, dapat mengunjungi www.wirausahamerdeka.id dan mengupload berkas-berkas yang dibutuhkan. Mahasiswa yang tertarik nantinya juga harus mengikuti tes seleksi terlebih dahulu.
Kepala Sub Program Bisnis Manajemen Prasmul M. Setiawan Kusmulyono menjelaskan pentingnya pendidikan secara resmi lewat jenjang sekolah dan perkuliahan untuk membantu mengurangi potensi gagal bisnis di masa depan. “Perlunya belajar secara resmi itu adalah mengurangi potensi-potensi gagal di masa depan. Jadi ada tahap menciptakan ide, lalu disimulasikan di kampus untuk selanjutnya direalisasikan atau dipraktekkan menjadi bisnis sungguhan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Setiawan mengungkapkan hal yang membuat program wirausaha di Prasmul berbeda dengan kampus lainnya adalah ekosistem yang mendorong mahasiswa untuk berbisnis. “Kalau di Prasmul, ngomongin bisnis bukan cuma di mata kuliah aja. Dosen ketika konsultasi ngomongin bisnis, praktik mahasiswa ekskulnya itu bisnis. Jadi istilahnya ke depan ngomongin bisnis, ke belakang ngomongin bisnis, ke samping kiri kanan atas bawah ngomongin bisnis. Sehingga mahasiswa termotivasi full untuk menjadi pebisnis. Jadi memang didesain seperti itu ekosistemnya,” terangnya.
Dalam kesempatan itu juga dilakukan testimoni dari peserta “Creatifest 2022 Universitas Prasetiya Mulya”, yakni M Sidito Oktobilliandy (Tio) dan Clarisa Mitzi (Mitzi). Tio dan Mitzi adalah mahasiswa S1 Bisnis semester 4 Prasmul yang turut serta memamerkan produk inovasi mereka dalam ajang kali ini.
Tio adalah CEO dari Sera, yang menghadirkan produk beauty berupa hair care bahan baku alami (natural) yang membantu mengatasi masalah rambut kering, rontok dan rambut yang tidak wangi. “Inovasi produk kami adalah menggunakan bahan alami sehingga tidak merusak rambut. Praktis digunakan. Ide dari bisnis ini muncul dari salah satu anggota founder Sera yang mengalami masalah rambut,” ujarnya.
Sedangkan Mitzi bersama timnya mengembangkan produk beverage -frozen yoghurt dengan merek Kukka. Ia menceritakan awal tercetusnya produk ini adalah melirik pada kebiasaan orang-orang yang suka menyantap cemilan manis di malam hari, seperti ice cream yang kurang menyehatkan, terutama bisa memicu kegemukan. Lalu diciptakan produk ini dengan menggunakan pemanis alami dan rendah kalori dengan taste yang tetap menarik.
Dalam proses pengembangannya, Mitzi dan Tio mengaku banyak mendapat masukan dan bimbingan dari para mentor, alumni yang berkecimpung di bidang terkait, serta mahasiswa STEM Prasmul yang membantu mengembangkan teknologi yang dibutuhkan untuk produksi maupun marketingnya. Keduanya mengaku saat ini masih mengadalkan sistem online dan sama-sama optimistis ke depan bisa lebih dikembangkan. Creatifest 2022 yang merupakan ajang unjuk inovasi bisnis dari Mahasiswa Prasmul ini diikuti sekitar 80 produk. Di tengah situasi ketidakpastian akibat pandemi-19, ternyata tak menyurutkan semangat membangun bisnis dari generasi muda Indonesia, bahkan memiliki antusias makin tinggi dalam menyusun strategi membangun bisnis mereka di masa depan. (AC)














