Mengganti server-server perusahaan yang sudah memasuki masa end-of-support bukanlah pekerjaan yang mudah. Sebab di dalamnya terdapat data perusahaan yang jumlahnya amat banyak dan kompleks. Terlebih jika perusahaan menggunakan infrastruktur on-premise, on-cloud, atau perpaduan keduanya. Maka server yang digunakan pun harus proven dan sesuai kebutuhan.
Tapi jangan kuatir, sebab baru-baru ini IBM, perusahaan teknologi multinasional asal Amerika Serikat, mengakomodasi kebutuhan itu dengan memperluas lini server IBM Power10-nya dari yang tahun lalu fokus untuk skala enterprise ke model mid-range dan scale-out yang lebih fleksibel dan aman.
Dengan lini server IBM Power10 yang baru ini, perusahaan-perusahaan penggunanya dimungkinkan untuk memodernisasi, melindungi, dan meng-automasi aplikasi bisnis dan operasi teknologi informasi (TI) mereka secara mudah, serta cocok untuk lingkungan hybrid cloud dan ekosistem cloud native.
Lini server IBM Power10 terbaru juga menggabungkan kinerja, skalabilitas, dan tingkat keamanan tinggi tersebut.
“IBM Power10 dengan server mid-range dan scale-out menghadirkan kemampuan server kelas atas yang dapat diterapkan di lingkungan multi-cloud, baik cloud native maupun hybrid cloud,” klaim Yohan Gunawan, Director Hybrid Infrastructure Services Business PT Multipolar Technology Tbk. (Multipolar Technology) dalam seminar “Gaining Business Agility in Uncertain Times” di Fairmont Hotel, Jakarta, Kamis (25/08/2022).
Yohan menjelaskan, perusahaan yang tengah melakukan akselerasi digital tentunya butuh dukungan platform infrastruktur seperti IBM Power10 yang tangguh untuk mission critical environment mereka, sehingga bisa meluncurkan aplikasi dengan cepat dan terjamin keamanannya.
Hal itu dapat dilakukan berkat prosesor IBM Power10 memiliki waktu respons lebih cepat, dilengkapi PowerPrivate Cloud dengan kapasitas resource yang sangat dinamis dari platform seperti Red Hat OpenShift, Linux, AIX, dan IBM i (AS/400) untuk area public cloud, private cloud, dan hybrid cloud. Prosesor tersebut juga memiliki perlindungan data menyeluruh dengan enkripsi end-to-end, serta fitur Artificial Intelligence (AI) untuk otomatisasi pada server dan menampilkan wawasan secara lebih cepat.
Baca: Multipolar Technology Tawarkan Platform Cortex CDR, Sistem Keamanan Siber Berbasis Machine Learning
Kerugian Biaya Akibat Downtime
Menurut Yohan, server mid-range dan scale-out seperti yang ditawarkan IBM Power10, amat diperlukan karena perusahaan saat ini harus sanggup mengikuti tuntutan konsumen yang kian cepat serta beradaptasi terhadap perubahan yang tak terduga, dengan biaya operasional yang lebih ekonomis.
“Kinerja perusahaan akan terganggu jika aplikasi yang digunakan sering mengalami downtime,” ia memperingatkan.
Mengutip penelitian firma riset IDC bertajuk IDC The Sweet Spot of Modern Enterprise Computing, Yohan mengungkapkan, ada tiga penyebab utama aplikasi mengalami downtime: pertama, karena kegagalan jaringan (16,2%); kedua, kegagalan server (15,5%), ketiga, serangan malware (10,3%).
“Padahal, biaya downtime amat mahal. Penelitian IDC itu juga menemukan bahwa biaya downtime bagi 20,7% perusahaan di dunia berkisar US$5.000-10.000 per jam; bagi 18,4% perusahaan bernilai US$10.000-25.000 per jam; bagi 17% perusahaan sekitar US$25.000-100.000 per jam; bahkan bagi 1,4% perusahaan bisa mencapai US$500.000 per jam,” imbuhnya.
Multipolar Technology sendiri adalah anak perusahaan PT Multipolar Tbk (IDX: MLPL) yang berperan sebagai mitra dalam mendukung pengembangan teknologi digital berbagai sektor di Tanah Air.
“Sebagai IBM Platinum Business Partner, Multipolar Technology akan membantu pelanggan untuk dapat menikmati kinerja server yang lebih cepat, dengan konsumsi energi lebih rendah, juga lebih ekonomis dari sisi biaya, tanpa mengurangi ketangguhan dan perlindungan keamanannya,” tutur Lindra Heryadi, Department Head Presales IBM Hardware Multipolar Technology.
Baca: Tahun Ini, Multipolar Technology Fokus Pada Empat Inisiatif Strategi Bisnis
Reporter: Fauzi
Editor: Teguh IS














