Email spam telah berevolusi sejak pertama kali muncul pada tahun 1978. Evolusinya berkisar dari teknik, taktik, dan tren terbaru yang dibawa oleh para penjahat dunia maya untuk membuatnya lebih terlihat resmi dan terdengar mendesak – formula yang efektif untuk memangsa para pengguna yang tidak menaruh curiga.
Kaspersky menyelidiki lanskap ancaman spam di Asia Pasifik (APAC) tahun ini dan menemukan bahwa wilayah tersebut menerima setidaknya 24% dari email spam global berbahaya yang terdeteksi dan diblokir oleh solusi Kaspersky. Ini berarti satu dari empat pesan elektronik sampah dikirimkan kepada pengguna komputer di Asia Pasifik.
Spam berbahaya bukanlah serangan yang kompleks secara teknologi, tetapi bila dilakukan dengan teknik rekayasa sosial yang canggih, hal itu menimbulkan ancaman besar bagi individu dan perusahaan. Email sampah ini dikirim dalam jumlah massal oleh spammer dan para penjahat dunia maya yang ingin melakukan satu atau lebih hal berikut:
- Menghasilkan uang dari sebagian kecil penerima yang benar-benar menanggapi pesan
- Menjalankan penipuan phishing – untuk mendapatkan kata sandi, nomor kartu kredit, detail rekening bank, dan data penting lainnya.
- Menyebarkan kode berbahaya ke komputer penerima
“Pada tahun 2022, lebih dari setengah (61,1%) spam berbahaya yang terdeteksi di wilayah tersebut menargetkan pengguna Kaspersky dari Vietnam, Malaysia, Jepang, Indonesia, dan Taiwan,” ungkap Noushin Shabab, Peneliti Keamanan Senior untuk Tim Riset dan Analisis Global (GReAT) di Kaspersky, dalam siaran pers, 30/08/2022.
Ia mengutip tiga faktor utama yang menyebabkan sebagian besar email spam yang menargetkan Asia Pasifik, yaitu karena populasi, adopsi layanan elektronik yang tinggi, dan penguncian social di masa pandemi.
Wilayah Asia Pasifik memiliki hampir 60% populasi dunia dan ini berarti ada lebih banyak calon korban scammers di sini dibandingkan dengan bagian lain dunia. Penggunaan layanan online yang ekstensif seperti belanja online dan platform online lainnya untuk aktivitas sehari-hari di sini juga membuat individu lebih rentan menjadi korban penipuan.
Ada juga dampak pandemi yang berkepanjangan yang menyebabkan penguncian dan pengaturan kerja dari rumah di wilayah tempat orang membawa pulang perangkat kerja mereka. Jaringan rumah biasanya kurang terlindungi dari serangan siber.
“Sejak 2018, jumlah email spam berbahaya yang terdeteksi oleh solusi kami telah mengalami penurunan bertahap setelah mencapai puncaknya pada tahun 2019. Namun, hal ini tidak membuat kotak surat elektronik lebih bersih dan aman. Pemantauan terus-menerus yang kami lakukan terhadap Advanced Persistent Threats (APTs) saat ini dan yang baru yang beroperasi di Asia Pasifik menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku ancaman terkenal menggunakan phishing bertarget yang disebut spearphishinguntuk membobol sistem organisasi,” jelasnya.
Baca: Indonesia Alami Peningkatan Jumlah Telepon Spam Dua Kali Lipat Sepanjang 2021














