Generasi muda harus peka terhadap kemajuan zaman mengingat revolusi industri 4.0 saat ini telah mengubah kehidupan manusia.
Mengutip siaran pers di Jakarta, Minggu, 05/03/2023, Menteri Sekretaris Negara RI Pratikno mengatakan bahwa Revolusi industri 4.0 telah mengubah banyak sekali lanskap kehidupan.
“Belakangan ini, Artificial Intelligence memberikan kontribusi perubahan yang luar biasa,” kata Pratikno saat membuka diskusi “The Future of Work and the Skills Needed for Indonesia’s Growth”, di Jakarta, Sabtu, 04/03/2023.
Ia menambahkan bahwa kehadiran platform-platform AI tersebut membuat manusia harus melakukan banyak penyesuaian karena sangat mungkin mendisrupsi pekerjaan.
“Dunia dituntut untuk merancang sebuah tatanan baru, the post pandemic world, termasuk di antaranya post pandemic government. Kita harus memperbaiki seluruh kerentanan kita di segala bidang,” katanya.
“Namun, semua tantangan pasti ada peluangnya, yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang prediktif, antisipatif, cepat, dan tepat dalam menyongsong disrupsi,” kata dia.
“Tantangan-tantangan baru menuntut kita terus adaptif di segala bidang, tapi di setiap tantangan juga ada peluang. Peluang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang antisipatif dan prediktif, cepat dan tepat menyongsong segala disrupsi,” ujar dia.
Untuk mengantisipasi tantangan disrupsi, kata Pratikno, maka diperlukan softskills yang mumpuni. Menurut dia, sotfskills tidak bisa digantikan oleh kecerdasan buatan (AI).
“Selain memperkuat substansi, sebaiknya perkuat softskills yang sering saya sebut essential skills karena kehadiran AI dalam proses kerja telah mengubah workflow, maka softskills akan mengubah kolaborasi, komunikasi, problem solving, dan lain-lain. Softskills tidak bisa diganti platform AI,” kata Pratikno.
Keterbukaan pola pikir untuk lebih fleksibel dengan hybrid knowledge juga sangat diperlukan. Menguasai hanya satu skill saja, menurut Pratikno, tidaklah cukup. Dia pun menekankan pentingnya memiliki pikiran yang terbuka, selalu beradaptasi dengan skill-set baru, dan siap untuk “learn, unlear dan re-learn“.
Baca: Peran Generasi Muda Terus Didorong dalam Program Making Indonesia 4.0














