Menurut riset International Data Corporation (IDC), nilai pasar deteksi dan respons terkelola global diperkirakan akan meningkat dari US$2,6 miliar pada tahun 2022 menjadi US$5,6 miliar pada tahun 2027.
Penelitian IDC juga menunjukkan bahwa tenaga ahli keamanan TI semakin dibutuhkan, karena pertumbuhan pesat ancaman yang terjadi di dunia maya seiring adopsi perluasan tenaga kerja hybrid saat ini dan besarnya peningkatan volume transaksi digital yang berdampak pada bisnis.
“Beberapa faktor yang mendorong pertumbuhan pasar termasuk kekurangan profesional keamanan siber yang terampil dan kendala anggaran, peraturan pemerintah, dan kepatuhan ketat untuk mengadopsi layanan keamanan respons dan deteksi terkelola,” kata Craig Robinson, Research VP IDC, dalam siaran pers NTT Ltd., 29/03/2023.
Menangkap peluang pasar tersebut, NTT Ltd., perusahaan infrastruktur dan layanan TI global, meluncurkan layanan keamanan respons dan deteksi terkelola (Managed Detection and Response/MDR) untuk membantu perusahaan meningkatkan bisnis melalui peningkatan ketahanan siber.
“Layanan berbasis cloud dan analitik ini menggabungkan keahlian manusia dan kecerdasan mesin dengan teknologi terdepan dan threat intelligence (kecerdasan ancaman) sehingga bisa mendeteksi dan merespons serangan siber lebih cepat,” kata Charlie Li, Senior Executive Vice President Managed Cloud and Infrastructure Services, NTT Ltd.
Layanan MDR ini dibangun di atas sistem Microsoft Sentinel, platform keamanan informasi dan manajemen acara (SIEM) dari Microsoft, yang digerakkan oleh kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, dan kecerdasan ancaman. Sentinel memungkinkan perusahaan untuk mengumpulkan data dalam skala besar di semua pengguna, perangkat, aplikasi, dan infrastruktur, baik di lingkungan lokal maupun multicloud.
Baca: Laporan IDC: Pasar Ponsel Pintar Indonesia Tahun 2022 Turun 14,3 Persen














