Jakarta, Itech- Kementerian Riset Teknologi Dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) akan terus mendukung pengembangan kapal paralon pertama di Indonesia yang dibuat oleh putra bangsa asal Pekalongan, Jawa Tengah. Operasional perdana kapal paralon ini menjadi momentum awal kebangkitan teknologi nasional terutama di bidang maritim,” imbuhnya.
Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristek Dikti Dr. Ir. Jumain Appe berharap agar kapal paralon yang diklaim ramah lingkungan ini dapat disertifikasi dan menginspirasi produsen lain agar menggunakan mesin lokal dalam pengembangan kapal. Untuk bersaing dan efisien, inovasi mutlak diperlukan. Termasuk dalam pembuatan kapal.
Sementara itu, Agus Triharsito, kreator kapal paralon yang juga Direktur Utama PT. Barokah Marine Pekalongan mengatakan, kapal yang perakitannya menggunakan paralon ini memiliki panjang 17 meter, lebar 4,2 meter, dan total telah menggunakan 60 paralon. Paralon yang dipergunakan harus berdiameter 14 inchi, dan 12 inchi. Untuk pengerjaannya, kapal paralon ini membutuhan waktu sekitar 2,5 bulan. Sedangkan untuk perakitan lengkapnya, menggunakan mesin 70 PK dengan kapasitas muatan maksimal 3,5 ton.
Agus Triharsito mengaku puas dengan resmi dioperasikannya kapal paralon pertama di Indonesia tersebut. Kapal ikan dari bahan paralon itu akan menjadi kapal nelayan masa depan di Indonesia. Kapal paralon tersebut lebih ramah lingkungan dan membantu menjaga kelestarian lingkungan, karena bisa mengurangi penggunaan kayu yang semakin hari semakin langka.
Peletakan tunas kapal paralon unit kedua oleh PT Barokah Marine di galangan kapal, Slamaran, Pekalongan Utara, Kota Pekalongan. Peletakan tersebut disaksikan Dirjen Penguatan Inovasi Kementerian Ristek dan Dikti dan Walikota Pekalongan HA Alf Arslan Djunaid, Dirut PT Barokah Marine Agus Triharsito, Hapsari Herawati dari Banten selaku pembeli kapal paralon pertama, Veronica dari Pontianak selaku pemesan kapal paralon ke dua, serta sejumlah pejabat terkait.
Pembeli kapal, Veronika menilai, lebih menguntungkan jika mengelola kapal paralon unit kedua tersebut, yakni KM Karya Utama karena perawatannya lebih murah dan irit bahan bakar. “Maintenance-nya sangat murah, bahan bakarnya ebih irit karena kapal yang berjalan stabil meski terhempas ombak,” ujar dia.
Kapal unik dengan terobosan baru tersebut, totalnya menggunakan paralon bikinan dalam negeri. Bilang Agus, karena memakai paralon produk dalam negeri yang harganya relatif lebih rendah ketimbang produk impor, biaya pembuatan kapal bisa dihemat. “Kata gunakan paralon buatan dalam negeri. Nilai ekonomis ada pada harganya. Yakni 30 persen lebih murah bila dibandingkan dengan kayu atau baja,” jelas dia.














