Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi, PT Wijaya Karya (Persreo) Tbk (IDX: WIKA) memang sudah benyak menggarap proyek-proyek infrastruktur penting di Indonesia. Termasuk proyek yang masuk kategori Proyek Strategis Nasional (PSN).
Dan dalam mengoperasikan bisnisnya agar berjalan sukses, WIKA juga sudah mengandalkan digitalisasi. Terlebih digitalisasi tersebut sudah menjadi salah satu Misi WIKA. Dengan Misi: “Terdepan dalam Investasi dan EPC (Engineering, Procurement, dan Construction) berkelanjutan untuk Kualitas Kehidupan yang Lebih Baik”, Misi kelima WIKA adalah: “Menciptakan rekam jejak di kancah global melalui inovasi dan teknologi termutakhir.”
Dengan agar TI bisa mendukung bisnis perusahaan, maka WIKA menurunkannya lagi menjadi Misi TI. Yakni, pertama, eksploitasi dan eksplorasi benefit atas improvement proses bisnis berbasis TI. Dalam hal ini, dilakukan identifikasi eksploitasi dan eksplorasi potensi benefit implementasi TI untuk meningkatkan kualitas proses bisnis; dalam rangka penurunan risiko bisnis, peningkatan efisiensi biaya, peningkatan mutu produk atau cara bisnis baru yang lebih efektif.
Kedua, Penyediaan Layanan Sistem Informasi Terintegrasi. Dengan menyediakan layanan sistem informasi yang terintegrasi untuk mendukung proses bisnis manajemen, proses bisnis utama dan proses bisnis pendukung; merujuk kepada perkembangan dinamika bisnis dan benchmarking industry.
Ketiga, Infrastruktur yang aman dan handal. Ini dengan menyediakan layanan jaringan komunikasi, data center/disaster recovery center yang aman dan handal melalui adopsi platform teknologi yang memperhatikan aspek keberlangsungan layanan dan skalabilitas beban ke depan.
Dan keempat, Peningkatan kematangan Tata Kelola TI dan Data. Ini dengan meningkatkan kematangan atau kapabilitas pengelolaan teknologi dan data, dalam rangka pemenuhan kepatuhan regulasi dan kebutuhan pemenangan persaingan industry.
Menurut Anang Yulianto selaku Senior Vice President IT Division WIKA, dengan Misi TI tersebut, WIKA menyusun roadmap IT untuk periode 2022-2026. Pada 2022 masuk fase global collaboration core inteligention, yang telah dilakukan IT Maturity: 3,5 (Cobit 4.1); 3,3 (Cobit 2019), serta pengembangan SAP Core, pengembangan Supply Chain Management (SCM), Customer Relationship Management (CRM) & Contract Management (CCM), INDI 4.0 Assessment, dan peningkatan QIS (QHSE Information System).
Di 2023 ini masuk integrated for sustainability growth. IT Maturity: 3,4 (Cobit 2019), implementasi SAP Core + HCM, integrasi SAP + Support Aplikasi, Digital Control Tower, Supporting SAP Entitas Anak, meningkatkan Application SCM, CRM, CCM, HCMS, INDI 4.0 Alignment, ReSertifikasi ISO 20000 & ISO 27001, dan Platform Bersama BUMN.
Di tahun 2024, WIKA masuk ke dalam ERP optimizing. Dalam hal ini sudah dilakukan IT Maturity: 3,4 (Cobit 2019), Supporting SAP Entitas Anak, Cashflow Management, meningatkan Mobile Application, meningatkan Office Automation, meningkatkan Knowledge Management (KM), integrasi Building Information Modeling (BIM), dan Surveillance ISO 20000 dan ISO 27001.
Lalu di 2025, sudah masuk Big Data Implementation. Dengan tingkat IT Maturity: 3,45 (Cobit 2019), dikembangkan Platform SOA, Big Data Implementation, peningkatan Integrasi BIM, peningkatan Mobile Application, implementasi AI, IoT, AR (Augmented Reality), Surveillance ISO 20000 dan ISO 27001, dan Cybersecurity Appliance.
“Dan di 2026 WIKA akan masuk ke busniness driver. Dalam hal ini, IT Maturity level kita akan di 3,45 (Cobit 2019), dilakukan Big Data Optimization, peningkatan Enhanced AI, IoT, AR, Microsite Portal Aplikasi/ Colaboration, serta Enterprise Network Infrastructure,” ungkap Anang, saat mengikuti penjurian Top Digital Awards 2023, secara online, Kamis (2/11/2023). “Dan untuk maturity IT-Cobit 2019 saat ini di 3,35. Dan untuk INDI 4.0 Readiness di level 2,67 atau level 3 yakni kesiapan matang.”
Dalam penjurian kalin ini, tim IT WIKA hadir lengkap, yakni Riha Rizanah sebagai Senior Manajer Sistem Informasi, Ernawan – IT Planning Assurance & Compliance, Dadang K sebagai IT Operasion & Maintenance, Bogi – IT Infrastruktur & Networking, Asti – IT Planning, dan Faiz sebagai IT Software Development.
“Jadi IT Maturity Level kita menggunakan Cobit. Dan untuk IT Compliance-nya menggunakan ISO 20000-1:2018 dan ISO 27001:2013. Kita sudah mengadopsi dua ISO itu,” katanya.
ISO 20000-1 (Standar Internasional untuk Manajemen Pelayanan Teknologi Infomasi) adalah standar IT Service Management System (SMS) yang menentukan persyaratan bagi penyedia layanan untuk merencanakan, menetapkan, menerapkan, mengoperasikan, memantau, meninjau, memelihara dan memperbaiki SMS (Operasi Sistem Manajemen Layanan).
Adapun terkait ISO 27001:2013 adalah untuk melindungi dan mempertahankan keamanan informasi yang terdiri dari aspek Confidentiality (Kerahasiaan), Integrity (Integritas) dan Availability (Ketersediaan).
Implementasi SAP Terintegrasi
Kembali dijelaskan Anang dan timnya, secara periode implementasi SAP dimulai tahun 2020. Di sini, WIKA masih menggunakan aplikasi core inhouse sebagai embrio ERP terdiri dari CRM, ESCM, HCIS, PMCS, PIS, FMS.
Di 2021, adanya integrasi aplikasi core sebagai ERP WIKA dengan aplikasi utama: CRM, ESCM, HCIS, PMCS, PIS, FMS dan dilakukan sertifikasi ISO 27001 & ISO 20000. Lalu di 2022, dilakukan implementasi ERP SAP WIKA Pusat dengan modul: FICO, MM, SD, HCM, PS, FM. Parallel Run ERP existing & SAP.
“Dan di tahun ini, pengembangan lanjutan SAP WIKA Pusat BPC, Digital Control Tower, dan Anak Perusahaan serta penerapan SAP JO di proyek-proyek JO,” tegas dia.
SAP WIKA sendiri, kata dia, sama dengan digitalisasi proses bisnis. Karena sudah banyak system yang dikembangkan dan terkait denggan beberapa divisi perusahaan. Sepert KM (Knowledge Management), BIM 5D, CRM (Customer Relationship Management), HCMS (Human Capital Management System), QIS (Quality Information System), DCT (Digital Control Tower), E-SCM, LCTS (Logistic Control Tower System), VMS (Vendor Management System), digital asset, digital marketing, FLACS (Filed Labor Access Control System), CCMS (Control Claim Management System), WRM (WIKA Risk Management), CDE-WDMS (WIKA Document Management System), dan LMS (Learning Management System).
“SAP WIKA ini sudah diterapkan pula di anak usaha, yakni WIKA Beton, WIKA Gedung, dan WIKA Realty,” ucap dia.
Andalkan CST dan CRM
Lebih jauh dibeberkan Anang terait keberhasilan digitalisasi di WIKA yang cukup membanggakan adalah adanya aplikasi Digital Control Tower (DCT). DCT dalam enterprise sistem merujuk pada platform digital yang mengintegrasikan data dan informasi dari berbagai sumber dalam organisasi atau perusahaan untuk memonitor, menganalisis, dan mengelola kinerja bisnis secara efektif.
Dan DCT dalam dalam enterprise sistem ini terdiri dari beberapa modul atau aplikasi yang terintegrasi, termasuk di dalamnya modul-modul dalam SAP, manajemen rantai pasokan (supply chain management), manajemen pelanggan (customer relationship management), manajemen risiko, dan manajemen performa bisnis.
“Dengan menggunakan Digital Control Tower, perusahaan dapat memantau dan mengelola operasinya secara real-time, sehingga memungkinkan perusahaan untuk merespon perubahan pasar dan menyesuaikan operasi bisnis dengan cepat dan efektif,” ungkap dia.
Adapun tujuan dari implementasi DCT ini adalah untuk meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi biaya operasional, dan meningkatkan produktivitas secara keseluruhan. Selain itu, DCT juga dapat membantu perusahaan dalam pengambilan keputusan bisnis yang lebih baik dan mempercepat inovasi produk dan layanan.
“DCT ini juga dapat membantu perusahaan dalam memonitor kinerja karyawan, memantau dan memperbaiki proses bisnis, dan meningkatkan pengalaman pelanggan dengan memberikan layanan yang lebih baik dan efektif,” kata dia.
Selain itu, lanjut Anang, dalam hal cyber security yang dimiliki oleh WIKA juga sangat membanggakan. Seperti Cyber Security Maturity (CSM) dan Cyber Security Incident Response Team (CSIRT). CSM adalah tingkat kematangan keamanan siber suatu organisasi. Ini menggambarkan sejauh mana organisasi memiliki kontrol dan proses keamanan yang efektif untuk melindungi aset dan data mereka dari ancaman siber.
“Tingkat kematangan biasanya berkisar dari tingkat rendah hingga tingkat tinggi, dan organisasi berusaha untuk mencapai tingkat kematangan yang lebih tinggi melalui perencanaan, implementasi, dan evaluasi keamanan siber,” kata dia. “Dan berdasar hasil verifikasi tingkat kematangan keamanan siber melalui CSM Tools untuk level maturitasnya berada di posisi 3,44,” tandasnya lagi.
Untuk CSIRT, yaitu tim yang ditugaskan untuk merespons dan mengelola insiden keamanan siber di suatu organisasi. Mereka bertanggung jawab untuk mendeteksi, merespons, menginvestigasi, dan memulihkan diri dari insiden keamanan siber, seperti serangan malware, peretasan, atau pelanggaran data. “CSIRT berperan dalam menjaga keamanan siber organisasi dan meminimalkan dampak insiden,” ujar dia.
Penulis: Busthomi














