PT Pelindo Multi Terminal (SPMT), anak usaha non-petikemas dari PT Pelabuhan Indonesia (Persero), terus berbenah lewat transformasi digital secara besar-besaran. Mengelola 32 cabang pelabuhan yang tersebar di seluruh Indonesia sejak 2021, SPMT menangani berbagai jenis kargo, seperti curah cair, curah kering, hingga kendaraan.
SVP Teknologi Informasi SPMT Indra Siregar mengungkapkan bahwa transformasi digital perusahaan dilakukan untuk mendukung efisiensi dan efektivitas layanan pelabuhan di PT Pelindo Multi Terminal serta mewujudkan visi perusahaan untuk menjadi Indonesia’s Connectivity Champion.
“Selain itu, transformasi digital juga menjadi komitmen SPMT dalam meningkatkan kualitas layanan dimulai dari tahap standarisasi, sistemisasi, serta integrasi. Dengan fokus pada digitalisasi, SPMT berupaya memastikan semua pelabuhan yang dikelolanya memiliki standar pelayanan yang sama,” kata Indra dalam wawancara penjurian Top Digital Awards 2024 yang diselenggarakan Majalah It Works secara virtual pada Jumat (11/10).
Salah satu transformasi digital andalan yang telah dilakukan SPMT antara lain adalah sistem operasi pelabuhan multi terminal terintegrasi yang disebut PTOS-M (Pelindo Terminal Operating System Multipurpose). Sistem ini merupakan single platform aplikasi pendukung operasi untuk layanan kepelabuhanan pada kargo non petikemas berbasis fungsi planning dan controlling yang dipergunakan di seluruh cabang Pelabuhan SPMT.
“Sistem operasi pelabuhan terintegrasi ini memungkinkan pengelolaan layanan kepelabuhanan non-petikemas secara digital, mulai dari planning sampai dengan billing dan pemantauan kargo. Ini juga sudah terintegrasi dengan surrounding system lain seperti ERP system, billing management, host to host bank, Bea Cukai, dan sebagainya,” ujar Indra.
“Selain terintegrasi dengan beberapa sistem, PTOS-M memiliki fitur yang memberikan kemudahan layanan seperti online booking request, operation planning, storage inventory, serta control & monitoring,” tambah dia.
Indra mengungkapkan dengan menjadikan PTOS-M sebagai standar pelayanan di seluruh kerja wilayah pasca merger Pelindo, diharapkan dapat mempersingkat waktu tunggu pelabuhan (port stay) dan waktu tunggu kargo (cargo stay), serta menutup celah pungli di pelabuhan.
“Digitalisasi layanan kepelabuhanan melalui PTOS-M ini mempermudah pengguna jasa karena pengajuan layanan dilakukan melalui portal website. Pembayaran transaksi pun bisa dilakukan secara non-tunai sehingga mencegah ruang terjadinya korupsi di lingkungan pelabuhan,” terang Indra.
“PTOS-M kami luncurkan agar tercipta standarisasi layanan operasional multipurpose untuk mendukung kinerja Pelindo Multi Terminal untuk konektivitas Indonesia sesuai dengan visi SPMT yaitu Indonesia’s Connectivity Champion yang bebas korupsi,” sambung dia.
Pengelolaan layanan secara digital terbukti meningkatkan efisiensi yang turut mendorong produktivitas hingga waktu tunggu kapal dan kargo berkurang signifikan. Hal ini salah satunya bisa dilihat dari Branch Jamrud Nilam Mirah yang menunjukkan kinerja positif dari transformasi pelabuhan yang dilakukan.
Di mana Branch Jamrud Nilam Mirah mencatat pada Triwulan I 2024 terjadi peningkatan produktivitas kinerja General Cargo dari sebelumnya 1.272,6 T/S/D pada Triwulan I 2023 naik 18.64 persen menjadi 1.509,8 T/S/D secara year on year (yoy) pada Triwulan I 2024. Hal yang sama juga tercatat pada kinerja Curah Kering yang meningkat 15,66% dari 3.034 T/S/D menjadi 3.509 T/S/D dan Curah Cair meningkat lima persen dari 2.315 T/S/D menjadi 2.433 T/S/D pada periode yang sama
Tak hanya itu, efisiensi operasional pasca transformasi juga ditandai dengan penurunan berthing time atau waktu sandar yang mencapai 14,8 persen dimana pada Triwulan I 2023 angka berthing time adalah 57,39 jam per kapal yang turun pada Triwulan I 2024 menjadi 48,88 jam per kapal. Efisiensi operasi ini juga dapat dilihat melalui penurunan idle time dari 6,4 jam per kapal menjadi 3,8 jam per kapal, atau turun drastis sebesar 40 persen.
Sementara secara keseluruhan transformasi digital ini juga berdampak positif pada kinerja SPMT khususnya di sepanjang tahun 2023. Di mana, pelayanan arus muatan barang curah kering, seperti batu bara, bijih besi, gula, kedelai dan lainnya sebesar 55,1 juta ton atau naik 5,9 persen, dan curah cair 30,3 juta ton atau naik 8,9 persen. Di sisi lain, arus general cargo dan bag cargo meningkat 9,89 persen, yaitu 25,2 juta ton.
Arus barang berupa gas mengalami peningkatan 49,8 persen, yaitu 13,1 juta MMBTU. Arus barang berupa kendaraan juga meningkat, mencapai 1,5 juta unit, naik 8,4 persen dari tahun sebelumnya. Sedangkan arus peti kemas naik 1,1 persen menjadi 429 ribu TEUs.
Editor: Fauzi














