PT Metra Digital Media (MDMedia) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang digital advertising bagian dari TelkomGroup sebagai cucu perusahaan PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Tbk. Sebagaimana dituturkan Mirza Taufik Ahmad, Digital Media Planner Specialist, MDMedia memiliki visi menjadi penyedia layanan kreatif digital & media komunikasi pilihan di Indonesia. Dengan misi yang dicanangkan antara lain
- Memberikan one stop solution untuk kebutuhan layanan kreatif digital & media komunikasi sesuai kebutuhan pelanggan.
- Menjadi penyedia layanan kreatif digital & media komunikasi yang bersinergi dengan Telkom Group
- Memberikan nilai tambah bagi seluruh stakeholder.
Sesuai bisnis yang digelutinya, MDMedia memiliki sejumlah aktivitas usaha, yakni Digital Media & Content Creative meliputi Media Placement, Creative Activation, dan Content Services; Integrated Digital Media meliputi Digital Advertising, Messaging Services, Data Analytic Solutions; serta Digital Printing yang terdiri dari Commercial Printing dan Smart Card.
Adapun untuk strategi bisnis perusahaan secara umum, MDMedia mengusung apa yang disebut sebagai GET ACTION yang merupakan singkatan dari
• Growing market and wallet share with discovering new strategic product and business development.
• Evolve improvement in healthy business performance.
• Towards most preferable full services agency with excellent services.
• Aiming to become leading digital media and content creative.
• Corporate Culture Enhancement with Akhlak.
• Thriving financial fundamentals for a healthier business.
• Increasing productivity to share best value for all stakeholder.
• Optimizing Digital internal process to Good Corperate Governance.
• Nourish Big Data as Digital enabler for customer business growth.
“Jadi singkatnya yang kita lakukan di MDMedia itu tidak cuma hanya media placement atau media creative placement, tetapi di belakang itu kita juga membantu dalam bentuk Big Data dan turunannya sampai eksekusinya,” jelas Mirza saat sesi penjurian TOP Digital Awards 2024 yang digelar Majalah It Works secara daring pada Jumat (15/11/2024) lalu.
AdXelerate, Platform Iklan Digital Berbasis Data Telko
Nah, sesuai dengan judul presentasi yang diusungnya, pada sesi penjurian kali ini MDMedia mengungkap banyak hal terkait ‘AdXelerate’.
”Jadi, apa yang baru dilakukan MDMedia belakangan ini adalah kita melakukan inovasi dan transformasi bisnis terkait dengan platform digital marketing jadi digital placement yang disebut AdXelerate, yaitu Breaking New Ground: Telco-Powered Ad Targeting,” ujar Mirza.
Sebelum membahas lebih jauh terkait Adxelerate, Mirza mengurai terkait perbedaan antara iklan digital dengan iklan-iklan di televisi atau TVC. Singkatnya, menurut Mirza, dengan beriklan di televisi (perusahaan) tidak bisa memilih siapa audience-nya. Hal itu, juga terjadi di radio dan majalah.
“Nah, makanya kalau di konvensional kita menaruh iklan itu berdasarkan kontennya, misalnya kalau jam 7 (malam) ada primetime (sinetron) kita anggap itu keluarga sudah ngumpul nonton televisi. Nah, kalau di (iklan) digital kita sudah bisa nih menargetkan (iklan) berdasarkan (audiennya), misalnya saya mau laki-laki saja atau saya mau perempuan saja, saya hanya mau Gen Z saja, saya mau milenial saja, saya mau perkotaan saja, saya mau daerah saja, misalnya begitu, itu bisa kita lakukan,” jelas Mirza.
“Cuma permasalahannya, data audiennya itu seberapa akurat? Jadi, kalau kita mengacu misalnya (pada) website-website berita saat ini, atau website-website yang ada ini mereka hanya (menangkap) berdasar cookies. Nah, cookies ini mengambil data dari browser kita. Cuma cookies ini tidak bisa menerka siapa kita sebenarnya lebih detil, umurnya berapa, laki-laki atau perempuan, yang mereka bisa tangkap misalnya berdasarkan konten apa yang selama ini kita lihat, lalu mereka mengansumsikan, oh ini laki-laki, ini perempuan, ini parenting,” sambungnya.
Pun dengan Google yang diketahui memiliki layanan Gmail. Itupun kata Mirza tidak bisa menangkap data lebih dalam karena mereka harus punya reason (alasan) kenapa harus mengambil data-data itu. “Apalagi sekarang dengan adanya peraturan penyalahgunaan data, jadi platform tidak bisa mengambil data sebegitunya, tanpa persetujuan dari kita sendiri (owner) dari data itu,” tandasnya.
“Ditambah lagi dengan teknologi telko yang bisa menarget lokasi, terus ARPU (average revenue per user), misalnya, berapa banyak kita spending di telko. Dengan aplikasi penunjangnya, misalnya kaya MyTelkomsel, dia bisa mengetahui aplikasi apa saja yang kita install. Ini yang membuat data yang kita punya yang dari telko itu menjadi sangat akurat,” ujar Mirza.
Di situ, lanjut Mirza, kita bisa melihat, bisa memvalidasi bahwa misalnya, kalau kita mau mencari orang dengan umur 30 tahun, itu di telko berapa banyak sih, dia bisa menghasilkan itu. “Tentunya tidak akan mungkin keluar data namanya, alamatnya, tidak mungkin, dia hanya akan mengatakan di telko itu memiliki misalnya sekian juta orang laki dan perempuan dengan usia 30 tahun secara precise. Karena memang telko memberi data itu. Dan data itu sudah divalidasi, saat kita mendaftar ketika menggunakan layanan telko. Nah, data ini yang kita pakai untuk menargetkan orang secara precise dibandingkan dengan iklan digital lain,” tutur Mirza.
Sementara iklan digital lain, seperti di Google atau di Facebook tadi, menurut Mirza datanya masih banyak redudansinya atau bias data, sedangkan kalau di telko sudah bisa dibuktikan divalidasi dari awal.
“Makanya di sini kita bisa menargetkan secara hyper personalize. Ibaratnya begitu. Misalnya kita ingin pria umur 30, contohnya profesional, worker dan dia smoker. Nah ini kita bisa mencoba menargetkan karakteristik smoker itu apa sih, mungkin kita ngga bisa ‘nembak’ smoker-nya langsung, tapi biasanya orang habis makan di kantin, tetapi kantinnya yang terbuka yang bisa merokok, nah kita bisa ‘nembak’ seperti itu misalnya,” pungkas Mirza.














