Jakarta Satu, platform sistem informasi geospasial atau berbasis peta, menerapkan inovasi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligent/AI) untuk mendukung visi Jakarta menjadi kota global.
“Teknologi informasi sebagai kunci utama menuju kota global karena memungkinkan layanan yang cepat, transparan, dan efisien. Semua keputusan kebijakan akan lebih akurat dengan integrasi data yang baik,” kata Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan (CKTRP) DKI Jakarta Heru Hermawanto dalam Jakarta Satu Festival yang digelar di Jakarta, Selasa, 10/12/2024.
Portal Jakarta Satu, yang telah berusia enam tahun, kini dilengkapi sejumlah inovasi, seperti katalog data untuk memudahkan akses dan layanan berbagi pakai data.
Heru juga menyoroti potensi metode urun daya (crowdsourcing) sebagai sumber data yang cepat dan efektif. Ia pun mengingatkan pentingnya mengatasi resistensi internal dalam berbagi data.
Menurutnya, dengan integrasi data, inovasi IT dan kolaborasi lintas sektor, Jakarta diharapkan mampu menghadapi tantangan pasca pindah status ibu kota.
Mapping the Future
Dalam acara yang sama, Kepala Pusat Data dan Informasi Dinas CKTRP Provinsi DKI Jakarta Agung Nugroho mengatakan tahun ini Jakarta Satu Festival kembali digelar untuk untuk kedua kalinya. Tujuannya memperkuat kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam penyelenggaraan informasi geospasial.
Mengusung tema “Mapping the Future“, ajang ini jadi upaya Pemprov DKI Jakarta dalam mendukung transformasi Jakarta dari ibu kota menjadi kota global berkelanjutan.
“Tema ini menggambarkan visi Jakarta apabila tidak lagi menjadi ibu kota negara. Kami berupaya mempersiapkan Jakarta untuk menjadi kota global yang berkelanjutan dengan integrasi data yang kuat,” ungkap Agung.
Jakarta Satu Festival menghadirkan sejumlah kegiatan, mulai dari kompetisi di tingkat SMA hingga universitas.
Ajang ini juga memberikan apresiasi kepada 10 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang berkontribusi signifikan dalam integrasi data ke portal Jakarta Satu.
“Ini bentuk penghargaan kepada OPD yang telah membantu mewujudkan integrasi data geospasial sebagai pilar utama kebijakan berbasis data,” tambah Agung.














