PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) telah mengembangkan sebuah server jaringan bernama Netmonk yang bisa membantu perusahaan mengoptimalkan operasional bisnis sekaligus reputasinya.
“Dengan teknologi AI dan predictive analytics yang dihadirkan oleh Netmonk, kami membantu perusahaan meningkatkan efisiensi operasional jaringan mereka. Solusi ini memungkinkan perusahaan untuk bersikap proaktif dalam menjaga stabilitas jaringan dan mengurangi downtime, sehingga bisnis dapat terus berjalan tanpa hambatan,” kata EVP Digital Business & Technology Telkom, Komang Budi Aryasa, lewat alam keterangan resmi, Kamis, 15/01/2025.
Server jaringan yang mengalami downtime dapat mengganggu hubungan perusahaan terutama yang bergerak di bidang e-commerce dengan para pelanggan. Downtime adalah masalah serius yang bisa berdampak besar terhadap kepercayaan pelanggan, pendapatan, dan operasional perusahaan.
Downtime dapat menyebabkan perusahaan kehilangan pendapatan, menghambat hingga mempengaruhi kepercayaan pelanggan. Pada bidang e-commerce, ketika platform e-commerce tidak dapat diakses, maka pelanggan tidak dapat melakukan pembelian yang sudah pasti akan langsung mengurangi potensi pendapatan. Penjualan yang hilang selama masa downtime sering kali tidak dapat sepenuhnya dipulihkan.
Kondisi serupa juga bisa terjadi pada perusahaan yang bergerak di bidang jasa keuangan, saat downtime berlangsung, layanan seperti transfer, pembayaran, atau perdagangan saham yang dilakukan oleh pelanggan menjadi terhenti.
Tidak mungkin membuat pelanggan dari perusahaan tersebut mengalami frustasi karena tidak dapat menyelesaikan transaksi atau melacak pesanan mereka, ujarnya.
Sama halnya dengan pelanggan di perusahaan jasa keuangan yang kesal lantaran tidak dapat mengakses dana atau menyelesaikan transaksi penting, memicu kepanikan dan menurunkan kepercayaan mereka terhadap perusahaan keuangan tersebut.
Pada beberapa kasus yang pernah terjadi, downtime dapat disertai serangan siber atau kehilangan data. Kondisi tersebut dapat memperburuk situasi dan memerlukan investasi besar dalam penanganan serta audit sistemnya.
Sementara itu, secara lebih spesifik perusahaan yang bergerak di bidang e-commerce akan mengalami kerugian operasional akibat gangguan dalam inventaris, sistem pembayaran, dan logistik.
Barang mungkin tidak dapat dikirim tepat waktu sehingga mengganggu hubungan perusahaan dengan pelanggan dan mitra logistik.














