ItWorks- Maraknya penyebaran berita atau informasi yang tidak jelas sumbernya, tidak akurat dan mengandung unsur kebohongan (hoax), bisa berdampak luas terhadap kelangsungan bisnis dan investasi di suatu negara. Hoax, bisa membingungkan public, menurunkan reputasi dan kepercayaan, hingga mempengaruhi ekspektasi dan perilaku investasi yang dapat mengganggu kalangsungan perekonomian nasional.
Sejalan dengan meningkatnya transformasi digital di tengah masyarakat, hoax menjadi fenomena yang kian mengkhawatirkan. Penyebaran hoax kian berlangsung cepat, seiring dengan tingkat penetrasi penggunaan internet Indonesia yang meningkat signifikan sejak pandemi covid-19. Hoax kian cepat meluas melalui berbagai media digital yang kian massif penyebarannya, termasuk melalui berbagai media sosial (medsos).
Hoax dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, mulai dari keresahan masyarakat, kerugian finansial, hingga rusaknya reputasi individu, institusi, hingga korporasi atau perusahaan. Dari perspektif ekonomi, bisnis dan investasi, bahaya hoax bisa merusak reputasi, menurunkan kepercayaan konsumen, dan bahkan menyebabkan kerugian finansial yang juga berdampak negatif pada operasional bisnis dan kelangsungan investasi.
Hoax yang menyebar luas dapat mencemarkan nama baik perusahaan, produk, atau layanan yang ditawarkan, sehingga sulit untuk mendapatkan kembali kepercayaan pelanggan. Oleh karena itu, perlu langkah dari partisipasi semua pihak, termasuk pemerintah untuk pencegahan dan penanggulangan yang tepat terhadap hoax dan menjaga kelangsungan usaha di era digital ini.
Demikian beberapa benang merah dari Diskusi Media yang dihelat Klub Jurnalis Ekonomi Jakarta (KJEK) dengan tema “Badai Hoax dan Dampaknya Terhadap Kepastian Berusaha dan Iklim Investasi” pada (13/06/2025) yang berlangsung di Restoran Tazawa, Senayan Park, Jakarta. Hadir sebagai nara sumber, di antaranya Algooth Putranto -Koordinator Riset Satgas Anti Hoax PWI Pusat dengan materi “Memecah Gelombang Hoax di Era Digital”. Wiendarto, jurnalis Senior-Ketua KJEJ dengan materi “Dilema Menepis Hoax, Antara Etika Jurnalistik dengan Tuntutan Klik”. Serta Faisal Rahman, Pemimpin Redaksi Periskop.id membawakan materi bertema “Ancaman dan Dampak Hoax Terhadap Dunia Bisnis dan Investasi”, yang dimoderatori oleh Burhan Abe, Jurnalis Senior.
Dalam kesempatan ini, Algooth Putranto yang juga dosen salah satu perguruan swasta Jakarta ini mengatakan, untuk menyikapi maraknya hoax, kekuatan masyarakat seperti “Gerakan Masyarakat Anti Hoax” dan gerakan sejenis lainnya, perlu didukung semua pihak, termasuk tentunya pemerintah. Apalagi seiring dengan meningkatnya penetrasi pengguna internet di kalangan masyarakat, fenomena hoax juga makin mengkhawtirkan penyebarannya.
“Sebenarnya sudah ada gerakan-gerakan dari masyarakat untuk menangkal dan memerangi hoax ini. Pemerintah waktu itu melalui Kominfo juga sempat gencar untuk menggalakkan perang menangkal hoax ini, namun sepertinya masih kurang optimal dan selalu naik turun. Ganti menteri ganti lagi kebijakan, konsistensinya tidak terjaga dengan baik. Ini yang saya kira harus jadi perhatian kita semua, termasuk dari kalangan media. Melawan hoax ini harus konsisten dan terus menerus ditingkat. Bisa menggalang kerja sama dengan instansi lain dalam memerangi hoax, ini termasuk dengan pers,” ungkapnaya.
Ketiga nara sumber sepakat bahwa hoax harus lebih diwaspadai dan dilakukan upaya kongrit untuk menekannya. Apalagi keberadaan hoax bisa meresahkan dan dinilai bisa menjadi ancaman serius bagi stabilitas keamanan, kelangsungan investasi dan ekonomi nasional.
Berbagai upaya untuk memerangi penyebaran informasi palsu atau hoaks, angtara lain bisa dilakukan melalui peningkatkan literasi digital masyarakat, mendorong penyebaran konten positif, edukasi publik, dan lainnya. Pemerintah terutama Kementerian Komdigi harus menjadi garda depan dengan melibatkan Kementerian dan Lembaga lain untuk terus memeranginya. Konsisten menjadi hal penting karena berita bohong atau hoax bisa berdampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi dan investasi secara luas. “Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab bersama untuk preventif menjaga viralnya hoax,” tambah Algooth putranto.
.














