ItWorks.id-Indonesia dan Belanda terus memperkuat kerja sama di bidang pendidikan dan riset sebagai langkah nyata menghadapi tantangan global dan mendorong masa depan yang berkelanjutan.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko, menegaskan, riset dan pendidikan berperan sentral dalam menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari perubahan iklim, krisis kesehatan global, ketahanan pangan dan energi, hingga dinamika geopolitik. “Tantangan-tantangan ini mungkin terasa berat, tetapi juga menyatukan kita. Tidak ada bangsa yang mampu mengatasinya sendiri. Kita saling membutuhkan,” kata Handoko, pada pertemuan The Week of Indonwesia-Netherlands Education and Research (WINNER) 2025, bertajuk “Building a Sustainable Future through Education and Research”, di Gedung B.J. Habibie, (07/10/2025), Jakarta, sebagaimana dirilis melalui portal web resmi BRIN, baru-baru ini.
Handoko menilai, hubungan Indonesia dan Belanda memiliki makna historis dan strategis dalam dunia riset dan pendidikan tinggi. Selama beberapa dekade, mahasiswa Indonesia telah belajar di universitas-universitas Belanda, dan banyak peneliti Belanda telah bekerja sama dengan rekan-rekan Indonesia.
Melalui WINNER 2025 edisi keenam ini, kedua negara telah lama bekerja sama dalam berbagai bidang, seperti pertanian, kelautan, kesehatan, dan banyak bidang lainnya. “WINNER mencerminkan komitmen kuat Indonesia dan Belanda untuk bekerja sama dalam memajukan pengetahuan dan inovasi. Selama lima edisi terakhir, telah terbukti bahwa Indonesia dan Belanda bukan hanya mitra di atas kertas, tetapi juga dalam praktik,” tegasnya.
Ditambahkan, pendidikan membentuk karakter dan kreativitas generasi muda, sementara riset menyediakan pengetahuan dan bukti ilmiah untuk menciptakan solusi inovatif dan berkelanjutan. “Bersama, pendidikan dan riset bukan hanya mempersiapkan kita untuk merespons krisis, tetapi juga membantu kita membayangkan berbagai kemungkinan baru,” katanya.
Sebagai lembaga riset nasional, BRIN berkomitmen memperkuat ekosistem riset Indonesia dan menghubungkannya dengan komunitas global. Evaluasi berkala terhadap program kerja sama, menurut Handoko, penting dilakukan agar hasilnya lebih terukur dan berdampak nyata bagi masyarakat. “Ilmu pengetahuan harus menjangkau masyarakat, meningkatkan kesejahteraan, dan melindungi planet kita,” ujarnya.
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Sains Belanda, Gouke Moes, menyebut, WINNER sebagai platform penting dalam mempertemukan para peneliti lintas disiplin. “Selama enam tahun terakhir, WINNER telah mempertemukan banyak pihak, menyoroti proyek bersama, dan memperluas ruang bagi lahirnya ide-ide baru,” ujarnya.
Salah satu contoh nyata adalah riset terhadap koleksi sejarah dan ilmiah yang memiliki konteks kolonial, yang melibatkan peneliti dari BRIN dan berbagai institusi di Belanda. Termasuk pengembalian Koleksi Dubois ke Indonesia sebagai simbol kemitraan yang saling menghargai.
Selain itu, berbagai proyek penelitian bersama juga dijalankan melalui pendanaan dari Netherlands Organisation for Scientific Research (NWO) dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI (Kemdiktisaintek).
Ia juga menekankan pentingnya kerja sama internasional sebagai kunci dalam menghadapi isu-isu global. “Sebagaimana pengetahuan bersifat tanpa batas, demikian pula mereka yang mencarinya harus bersikap terbuka dan kooperatif,” tuturnya.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Brian Yuliarto, menegaskan kolaborasi internasional menjadi semakin penting di tengah transformasi pendidikan tinggi menuju era University 4.0. “WINNER telah menjadi wadah kolaborasi yang dimulai di tingkat pemerintah dan berkembang ke ranah teknis. Ini adalah tempat bagi para pemangku kepentingan pendidikan dari kedua negara untuk berinteraksi dan bertukar ide,” ujarnya.
Dijelaskan hingga saat ini terdapat 159 dokumen kerja sama aktif antaruniversitas (U2U) antara Indonesia dan Belanda. Menurutnya, tema WINNER 2025 sejalan dengan kebijakan baru Kemdiktisaintek, yakni “Diktisaintek Berdampak”, yang menekankan pentingnya peran pendidikan tinggi dalam pertumbuhan ekonomi dan pembangunan masyarakat. “Pendidikan tinggi harus berperan tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga menjadi penggerak transformasi sosial dan ekonomi, serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs),” tegasnya.














