Sebagai perusahaan yang telah beroperasi lebih dari satu abad di Indonesia, PT Pegadaian (Persero) terbukti memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman. Berdiri sejak 1901, Pegadaian telah melewati berbagai fase—dari masa pra-kemerdekaan, menjadi perusahaan umum (Perum), lalu bertransformasi menjadi Perseroan Terbatas (PT), hingga kini menjadi bagian dari holding ultra mikro bersama BRI dan PNM sejak tahun 2021.
“Pegadaian itu merupakan perusahaan yang lahir sebelum kemerdekaan. Dari 1901. Jadi sekarang sudah 124 tahun ada di Indonesia. Artinya, bicara transformasi, Pegadaian sudah mengalami segala bentuk perubahan perusahaan, perubahan ownership stakeholder, maupun perubahan pasarnya,” ujar Supriyanto, Kepala Divisi Strategi, Arsitektur, dan Perencanaan Teknologi Informasi Pegadaian, dalam sesi penjurian TOP Digital Awards 2025, Rabu (5/11/2025).
Memiliki peran penting dalam mendorong inklusi keuangan, Pegadaian berfokus pada segmen ultramikro dan UMKM. Dengan lebih dari 28 juta nasabah aktif, 4.000 outlet, dan 269.000 agen, Pegadaian menjangkau masyarakat hingga pelosok negeri.
“Pegadaian melayani segmen ultramikro ini di seluruh pelosok Indonesia dan menjadi agen inklusi keuangan di seluruh Indonesia,” jelas Supriyanto.
Selain mendukung akses pembiayaan, Pegadaian juga berkontribusi besar terhadap lapangan kerja, dengan 12.000 karyawan tetap dan 21.000 tenaga outsourcing, menciptakan lebih dari 33.000 kesempatan kerja di Indonesia.
Transformasi Bisnis
Transformasi yang dijalankan Pegadaian bukan hanya soal teknologi, tetapi juga mencakup perubahan bisnis, brand, dan budaya kerja internal. Selama ini, Pegadaian dikenal dengan tagline klasiknya, “Mengatasi Masalah Tanpa Masalah”. Kini, makna tersebut diperluas untuk menegaskan posisi Pegadaian sebagai mitra keuangan yang modern, aman, dan membanggakan.
“Kalau dulu orang datang ke Pegadaian karena kepepet, bahkan ada rasa malu, hal inilah yang kita transform. Sekarang kita ingin nasabah merasa bangga punya emas di Pegadaian, bangga bisa gadai di Pegadaian,” tutur Supriyanto.
Transformasi brand ini juga diwujudkan melalui penyegaran identitas visual. Warna hijau khas Pegadaian kini dipadukan dengan sentuhan warna emas, mencerminkan semangat baru sebagai Bank Emas pertama di Indonesia.
Menjadi Bank Emas Pertama di Indonesia
Tonggak sejarah baru Pegadaian dimulai pada 26 Februari 2025, ketika Presiden Prabowo Subianto meresmikan Pegadaian sebagai Bank Emas pertama di Indonesia, setelah memperoleh izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 23 Desember 2024.
“Kami diperkenalkan menjadi Bank Emas oleh Bapak Presiden Prabowo di Gedung Pegadaian Tower. Kami sudah mengelola emas dalam jumlah yang besar,” ujar Supriyanto.
Saat ini, Pegadaian mengelola 124 ton emas, terdiri dari 92 ton emas gadai dan 25 ton emas bullion. Melalui ekosistem “Bank Emas”, Pegadaian menghadirkan empat produk utama berbasis emas: tabungan emas, titipan emas, deposito emas, dan perdagangan emas.
Seluruh transaksi dicatat dalam gramasi emas, termasuk bagi hasil dan laporan neraca—menjadikan Pegadaian benar-benar beroperasi dalam sistem “neraca emas.”
“Yang disebut ekosistem bullion adalah produk-produk emas yang semua transaksinya dicatat dalam bentuk emas. Bagi hasilnya emas, pencatatannya emas, neracanya juga emas,” terang Supriyanto.
Inovasi Digital: Tring! by Pegadaian dan ATM Emas
Sebagai bagian dari transformasi digital, Pegadaian meluncurkan aplikasi baru bertajuk “Tring! by Pegadaian” pada 8 Oktober 2025. Aplikasi ini menyatukan seluruh layanan Pegadaian—konvensional, syariah, dan layanan pelanggan—ke dalam satu platform digital yang mudah diakses.
“Tring! ini mempunyai tagline ‘Segala urusan emas kita layani melalui aplikasi Tring! by Pegadaian.’ Kita ingin lebih dekat dengan anak muda, Gen Z, dan milenial yang lebih dinamis dan bersahabat,” ujar Supriyanto.
Dalam waktu hanya satu bulan sejak peluncuran, lebih dari 1,7 juta pengguna telah mengunduh aplikasi ini, dengan total 3,6 juta nasabah bertransaksi digital.
Tring! memudahkan pengguna untuk menabung emas, memantau portofolio, menggadaikan barang, dan bahkan menarik emas fisik melalui layanan ATM Emas.
Dengan peluncuran ATM Emas, nasabah dimungkinkan untuk menarik emas fisik dengan pecahan mulai dari 1 gram hingga 100 gram langsung dari mesin otomatis. “Kalau di bank keluarnya uang, di Bank Emas Pegadaian keluarnya emas. Jadi kalau mau mengambil emas, ya keluarnya emas,” jelas Supriyanto.
Dan melalui integrasi aplikasi Tring! by Pegadaian, nasabah dapat melakukan konversi dari emas digital ke emas fisik dengan mudah, menjadikan pengalaman bertransaksi emas semakin praktis dan aman.
Tata Kelola dan Keamanan Siber
Tidak ketinggalan dalam paparannya di hadapan dewan juri, Supriyanto juga mengungkap soal tata kelola dan keamanan siber. Disebutkan bahwa Transformasi digital Pegadaian dibangun di atas fondasi tata kelola dan keamanan teknologi informasi yang kuat. Pegadaian menerapkan berbagai standar global seperti COBIT 2019, Agile Framework, serta NIST Cybersecurity Framework 4.0.
“Transformasi Pegadaian kita landasi dengan tata kelola yang baik. Kita juga telah tersertifikasi ISO 27001 dan mendapatkan skor maturity 3,52 dari skala 5 untuk transformasi digital,” kata Supriyanto.
Pegadaian juga telah mengintegrasikan Computer Security Incident Response Team (CSIRT) dengan BSSN, memastikan seluruh sistem digital terlindungi dari ancaman siber.
Selain itu, perusahaan juga mengadopsi Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung pengelolaan data, analitik bisnis, dan deteksi anomali operasional, baik di sisi IT maupun layanan pelanggan.
Menuju Agen Inklusi Keuangan
Melalui transformasi digital dan inovasi berbasis emas, Pegadaian menegaskan kembali perannya sebagai agen utama inklusi keuangan Indonesia. Transformasi yang dilakukan tidak hanya meningkatkan efisiensi dan daya saing, tetapi juga membuka akses keuangan yang lebih luas dan mudah dijangkau masyarakat.
“Pegadaian terus berinovasi dan bertransformasi dengan implementasi teknologi digital dalam meningkatkan akselerasi kinerja bisnis, daya saing operasional, dan layanan menuju misi agen inklusi keuangan yang utama untuk masyarakat Indonesia,” tutup Supriyanto.














