Di tengah tekanan ekonomi global dan dinamika geopolitik yang tak kunjung mereda, perusahaan-perusahaan Indonesia mengambil langkah yang semakin berani: menjadikan keberlanjutan sebagai senjata strategis untuk bertahan sekaligus mempercepat pertumbuhan. Temuan survei Schneider Electric Green Impact Gap 2025 mengungkap lonjakan signifikan dalam adopsi keberlanjutan, digitalisasi, dan terutama kecerdasan buatan (AI) sebagai akselerator utama.
Tahun 2025 menjadi titik kritis. Sebanyak 32% CEO di Indonesia kini menerapkan agenda keberlanjutan untuk memperkuat resiliensi bisnis—melonjak dari 23% pada 2023. Lebih dari itu, 49% eksekutif menilai keberlanjutan sebagai cara paling efektif menekan biaya operasional, sementara 43% melihatnya sebagai pendorong reputasi yang makin bernilai di tengah persaingan ketat.
Namun cerita terbesar tahun ini datang dari dunia teknologi. 48% perusahaan di Indonesia telah mengadopsi AI untuk mempercepat target keberlanjutan. AI tidak hanya memperbaiki otomatisasi data, tetapi juga menghasilkan efisiensi energi yang krusial di tengah fluktuasi harga energi yang masih dianggap sebagai risiko utama oleh 45% perusahaan.
Tidak berhenti di sana, pusat data muncul sebagai sektor yang paling agresif mendorong inovasi hijau. Dengan permintaan komputasi yang meroket akibat AI, 65% pelaku industri ini menyatakan investasi teknologi berkelanjutan sebagai kebutuhan mendesak. Tren green IT pun semakin menguat, dengan 37% pemimpin bisnis di Indonesia menerapkan kebijakan untuk menekan jejak karbon digital.
Meskipun demikian, tantangan tak sepenuhnya sirna. Ketidakpastian ekonomi masih menjadi batu sandungan terbesar, disusul kebijakan dan regulasi yang berubah cepat. Namun kabar baiknya, hambatan-hambatan struktural seperti minimnya alternatif energi bersih, kurangnya sumber daya pendukung, hingga imaturitas teknologi terus menunjukkan tren penurunan.
Yang menarik, meski 97% perusahaan memiliki target keberlanjutan, hanya kurang dari setengah yang sudah mengambil langkah komprehensif. Green Impact Gap masih nyata, tetapi optimisme tetap tinggi: 89% perusahaan yakin mencapai target 2030, bahkan 23% merasa sudah tiga tahun lebih cepat dari jadwal.
Indonesia sedang memasuki fase baru: keberlanjutan bukan lagi sekadar jargon korporasi—tetapi strategi inti untuk menang di era disrupsi ekonomi dan teknologi yang tak kenal ampun.















