ItWorks
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
ItWorks
No Result
View All Result

Ini 5 Prediksi Cloudera Terkait Strategi dan Adopsi AI di 2026

Fauzi
13 January 2026 | 19:14
rubrik: Business Solution
Ini 5 Prediksi Cloudera Terkait Strategi dan Adopsi AI di 2026

(Ki-ka): Sherlie Karnidta, Country Manager Indonesia, Cloudera dan Remus Lim, Senior Vice President, Asia Pasifik dan Jepang, Cloudera

Share on FacebookShare on Twitter

Cloudera, perusahaan yang menjalankan AI di mana pun data berada, mengumumkan prediksinya untuk tahun 2026. Dalam kesempatan ini Cloudera menyoroti pentingnya organisasi untuk meninjau kembali dan memperkuat fondasi data mereka di tahun mendatang.

“Kita melihat berita tentang organisasi besar yang berlomba-lomba mencurahkan banyak sumber daya untuk inovasi berikutnya, dan perusahaan yang lebih kecil mengambil pendekatan yang lebih terukur. Namun, terlepas dari ukuran dan ambisi mereka, setiap perusahaan pada akhirnya akan mencapai kesadaran yang sama: kesuksesan AI bergantung pada fondasi data yang kuat,” kata Remus Lim, Senior Vice President, Asia Pasifik dan Jepang, Cloudera.

“Seiring dengan tekanan regulasi yang semakin kuat dan ekspektasi yang meningkat, mendapatkan data yang tepat akan menentukan seberapa efektif organisasi dapat meningkatkan skalanya secara aman, berinovasi dengan percaya diri, dan memberikan dampak bisnis yang terukur,” sambung Remus.

Dalam prediksinya Cloudera mengungkap terkait akan terjadinya peninjauan ulang terhadap metode adopsi AI yang digerakkan oleh data di area-area utama seperti: AI silos, agen AI, private AI, talenta AI, dan strategi investasi AI

“Jadi di tahun 2026 ini kami melihat bahwa banyak perusahaan-perusahaan dan juga organisasi mulai melakukan peninjauan ulang terhadap data dan juga strategi AI yang mereka miliki saat ini. Kenapa mereka harus mengkaji ulang? Karena yang pertama, tekanan yang datang dari para regulator,” ujar Sherlie Karnidta, Country Manager Indonesia, Cloudera, pada acara Media Briefing yang digelar hari ini, Selasa (13/1/2026).

“Bersamaan dengan itu banyak sekali juga request dari para business user untuk mendapatkan use case yang lebih advance. Nah, dari tekanan kedua belah pihak ini mereka sebagai suatu organisasi mereka memikirkan bagaimana caranya supaya perusahaan tetap mendapatkan fondasi yang kuat dan terpercaya tapi juga tetap dapat berinovasi dengan percaya diri sekaligus mendapatkan impact atau dampak yang terukur,” lanjut Sherlie.

Berikut ini adalah lima prediksi yang akan membentuk bagaimana perusahaan menyikapi strategi AI mereka di tahun yang akan datang:

BACA JUGA:  Cloudera Rilis Operational Database Cloud-Native untuk Akselerasi Pengembangan Aplikasi

1.AI akan muncul sebagai tantangan terbaru bagi perusahaan
Ketika tren teknologi baru muncul, organisasi seringkali terburu-buru mengadopsinya. Saat GenAI diperkenalkan, semua orang ingin bereksperimen dengan teknologi ini, dan kini dengan semakin populernya Agentic AI, pola yang sama terulang kembali.

Tantangannya adalah banyak organisasi melakukan ini secara terpisah. Departemen yang berbeda memilih tools mereka sendiri, menjalankan POC mereka sendiri, dan menerapkan solusi mereka sendiri. Mirip dengan masa-masa awal Business Intelligence (BI), kita mulai melihat silo AI terbentuk di dalam perusahaan.

Fragmentasi ini menyulitkan perusahaan untuk mempertahankan konsistensi, tata kelola dan kontrol di seluruh organisasi. Perusahaan yang berpikiran maju, seperti OCBC, sudah melakukan standarisasi pada platform data dan AI terpadu, yang memastikan inovasi terjadi dengan aman dan kolaboratif, bukan dalam bagian-bagian yang terpisah-pisah.

2.Munculnya lebih banyak use case nyata agen AI
Setelah satu tahun dalam proyek percontohan dan prototipe, tahun 2026 akan menandai titik balik di mana agen AI mulai menghasilkan outcome bisnis yang nyata. Perusahaan bergerak melampaui fase eksperimen menuju fase adopsi dalam skala penuh, terutama di sektor layanan keuangan di mana use case-nya mencakup segala hal, mulai dari Source-of-Wealth assistant hingga sistem pencegahan penipuan yang cerdas.

Menurut laporan global terbaru dari Finextra Research, yang ditugaskan oleh Cloudera, 97% perusahaan jasa keuangan kini memiliki setidaknya satu use case AI/ML dalam produksi, yang mengisyaratkan bahwa AI telah beralih dari tren baru yang baru muncul menjadi kebutuhan penting bagi bisnis. Namun, hampir setengahnya masih terjebak di tingkat kematangan “middle stage”, di mana peningkatan skala, tata kelola, dan kontrol biaya menjadi hambatan utama.

Batas selanjutnya terletak pada pengoperasian agen AI dalam skala besar. Ini berarti menghubungkannya ke data yang terkelola secara real time dan mengintegrasikannya di seluruh alur kerja bisnis. Perusahaan yang berhasil melakukan ini akan membuka potensi otomatisasi yang tidak hanya cerdas, namun juga sadar akan konteks, bisa dilacak, dan aman.

BACA JUGA:  ManageEngine Kenalkan Log360, Platform Analitik Keamanan Terpadu Berbasis API Terbuka

3.Private AI akan menjadi prioritas utama perusahaan besar selanjutnya
Seiring dengan semakin ketatnya regulasi global dan meningkatnya kekhawatiran akan kedaulatan data, Private AI akan muncul sebagai prioritas utama selanjutnya bagi perusahaan. Industri yang sangat diawasi ketat oleh regulasi seperti layanan keuangan, kesehatan, dan sektor publik, akan mempercepat adopsi arsitektur Private AI, yang memungkinkan mereka memanfaatkan kekuatan AI generatif dan agentik AI tanpa mengekspos data sensitif.

Hal ini sangat penting karena keamanan siber tetap menjadi prioritas utama perusahaan. Digital Defense Report 2025 dari Microsoft mengungkapkan tentang 32% lonjakan dalam serangan yang menargetkan identitas digital pada paruh pertama tahun ini, yang menunjukkan peningkatan penggunaan AI untuk membuat umpan rekayasa sosial yang sangat meyakinkan. Ketika pelaku ancaman mengadopsi AI, perusahaan harus mengimbangi hal itu dengan pertahanan berbasis AI juga.

Kerangka kerja Private AI akan memainkan peran penting di sini, yang memungkinkan organisasi untuk menerapkan model di lingkungan yang terkontrol, mendeteksi anomali dengan lebih cepat, dan meminimalkan paparan terhadap kerentanan public cloud. Perusahaan yang berinvestasi pada AI yang aman dan patuh pada regulasi sekarang, akan menjadi perusahaan yang berinovasi dengan penuh percaya diri di kemudian hari.

4.Perusahaan perlu menutup kesenjangan antara talenta AI dan tanggung jawab AI
Seiring AI menjadi semakin mainstream, kesenjangan baru muncul: bukan antara mereka yang menggunakan AI dan yang tidak menggunakannya, tetapi antara mereka yang menggunakannya secara bertanggung jawab dan efektif, dan mereka yang kesulitan untuk meningkatkan skalanya secara berkelanjutan.

Pada tahun 2026, pengembangan talenta akan menentukan kesuksesan. Perusahaan yang gagal berinvestasi dalam literasi AI, upskilling kemampuan teknis, dan kesadaran etis, berisiko mengalami inefisiensi operasional, output yang tidak konsisten, dan pelanggaran peraturan. Karyawan tidak hanya harus memahami cara kerja AI, namun juga tentang kapan dan bagaimana mempercayai output-nya.

BACA JUGA:  Smartfren Business Luncurkan Layanan Fiber In The Air

Organisasi yang mengintegrasikan prinsip AI yang bertanggung jawab ke dalam pelatihan, tata kelola, dan desain alur kerja akan membangun tenaga kerja yang lebih percaya diri dan memiliki kemampuan. Kombinasi antara keterampilan manusia dan pagar pembatas yang terstruktur akan memungkinkan tim untuk berinovasi dengan lebih cepat, mengurangi risiko, dan memastikan setiap keputusan AI selaras dengan etika perusahaan dan standar tata kelola data.

5.Perusahaan perlu mencermati strategi investasi AI mereka
Di tahun 2026, tekanan ekonomi akan mendorong organisasi untuk beralih dari “AI untuk inovasi” ke “AI yang memberikan dampak.” Fase selanjutnya dari AI enterprise akan ditentukan oleh fokus yang lebih tajam pada return on investment, efisiensi, dan penerapan yang dibuat sesuai dengan tujuan.

Para CIO dan CTO harus membangun use case bisnis yang kuat untuk setiap inisiatif AI. Laporan Cloudera yang berjudul The Future of Enterprise AI Agents menyoroti bahwa 100% pemimpin IT di Indonesia menyatakan bahwa persepsi bahwa agen AI itu membingungkan atau sulit digunakan, telah membuat pengadopsiannya melambat.

Dalam hal ini, mereka perlu memahami bahwa tidak setiap beban kerja memerlukan GPU high-end atau model yang kompleks. Sebagai analogi: jika tujuannya hanyalah pergi dari rumah ke bandara, mobil sedan saja sudah cukup. Namun, jika Anda balapan di Formula 1 di mana setiap sepersekian detik diperhitungkan, Anda akan membutuhkan mobil F1. Prinsip yang sama berlaku untuk AI: organisasi harus berinvestasi sesuai dengan target mereka, bukan hanya mengikuti tren.

Pada tahun 2026, AI akan memisahkan antara para builder dari para believer. Pada akhirnya, para pemenang adalah mereka yang mengintegrasikan AI secara mulus ke dalam data fabric mereka, didukung oleh fondasi data yang kuat, metrik yang terstandarisasi, dan tata kelola yang berkelanjutan. Sementara itu, mereka yang tidak memiliki fondasi data yang tepat akan tetap terjebak di fase uji coba yang tak berujung.

Tags: Agentic AIAIClouderaGenerative AI
Previous Post

Samsung Luncurkan P9 Express, Kartu microSD untuk Gaming dan Workflow Profesional

Next Post

Telkom Sukses Kawal Lebih Dari 85 Ribu Ujian Digital di 31 Provinsi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP DIGITAL AWARDS

hanwha-life-top-digital-awards-2025-level-stars-5

Hanwha Life Raih TOP Digital Awards 2025 Level Stars 5

Teguh Imam Suyudi
23 December 2025 | 16:00

Rumah Pendidikan Kemendikdasmen TOP Digital Awards 2025

Rumah Pendidikan Kemendikdasmen Raih Penghargaan Bergengsi TOP Digital Awards 2025

Teguh Imam Suyudi
7 December 2025 | 09:00

Moratelindo TOP Digital Awards

Moratelindo Perkuat Kepemimpinan Transformasi Digital Lewat Dua Penghargaan Nasional TOP Digital Awards 2025

Teguh Imam Suyudi
6 December 2025 | 09:00

Ilham Habibie: Digital adalah Instrumen Strategis Daya Saing Global, Kedaulatan, dan Ketahanan Ekonomi Bangsa

Ilham Habibie: Digital adalah Instrumen Strategis Daya Saing Global, Kedaulatan, dan Ketahanan Ekonomi Bangsa

Fauzi
5 December 2025 | 13:58

PT Pertamina International Shipping (PIS) Raih Penghargaan TOP Digital Awards 2025 Bintang 5

PT Pertamina International Shipping (PIS) Raih Penghargaan TOP Digital Awards 2025 Bintang 5

Ahmad Churi
5 December 2025 | 11:14

Load More

TERPOPULER

  • Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Maxim Luncurkan Fitur e-Payment ‘Maxim Wallet KasPro’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tak Terdampak Corona, Samsung Indonesia Pastikan Pasokan Galaxy Z Flip Aman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kemenperin Siapkan SDM Dorong Industri Mamin Nasional Masuk Industri 4.0

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Inovasi Digital Jadi Fokus Strategi Komunikasi Indonesia Re di Tahun 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
iklan bni
cover it works
cover it works

ICT PROFILE

Transformasi Digital Kian Gencar, Akamai Luncurkan Akamai Connected Cloud dan Layanan Baru

Tunjuk Fiona Zhang, Akamai Perkuat Strategi Channel-First Kawasan APJ

Fauzi
8 April 2026 | 16:26

Akamai menunjuk Fiona Zhang sebagai Wakil Presiden Regional Bidang Penjualan dan Program Saluran untuk kawasan Asia-Pasifik dan Jepang. Penunjukan Fiona...

Intel Tunjuk Pimpinan Baru untuk Kawasan APJ

Intel Tunjuk Pimpinan Baru untuk Kawasan APJ

Fauzi
7 April 2026 | 11:46

Intel Corporation mengumumkan penunjukan Santhosh Viswanathan sebagai Vice President and Managing Director untuk kawasan Asia Pasifik dan Jepang (APJ). Dengan...

EXPERT

Red Hat Berambisi Capai Target Net Zero Emisi Gas Rumah Kaca di 2030

Titik Infleksi AI Selanjutnya: Mengubah Agen AI Menjadi ‘Superusers’ di Enterprise

Fauzi
21 May 2026 | 14:39

Oleh: Matt Hicks, President and CEO, Red Hat Jika Anda menyaksikan keynote di hari pertama Red Hat Summit 2026, Anda...

Seiring Jaringan yang Kian Cerdas, Ketahanan Telekomunikasi Akan Bergantung pada AI yang Tepercaya

Fauzi
20 May 2026 | 10:35

Oleh: Athul Prasad, Global Director, AI Industry Solutions, Telco, Media & Entertainment, Cloudera Ketahanan dalam industri telekomunikasi dulu berarti menjaga...

TIK TALKS

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

redaksi
16 August 2022 | 15:30

Di masa akan datang banyak aplikasi yang akan membutuhkan low latency connectivity. Lalu apa kaitannya dengan Edge DC yang hadir...

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

redaksi
15 August 2022 | 12:30

Bagaimana cara mengolah Big Data sehingga dapat divisualisasikan, serta bagaimana dapat melakukan analitik dan dapat memprediksikan apa yang harus dilakukan...

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Itworks - Inspire Great & Telco for Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto