ItWorks.id –Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan komitmennya dalam memastikan investasi yang masuk ke Indonesia tidak hanya bersifat finansial semata, tetapi mampu memperkuat kapabilitas industri nasional melalui alih pengetahuan dan teknologi (Iptek), penguatan linkage rantai pasok domestik, serta integrasi industri Indonesia ke dalam rantai pasok global.
– Pemerintah Indonesia memanfaatkan ajang World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, Swiss, sebagai momentum strategis untuk memperkuat posisi industri nasional dalam rantai pasok global. Kementerian Perindustrian menegaskan, investasi yang masuk ke Indonesia harus memberi dampak nyata bagi penguatan struktur industri dalam negeri.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa arah kebijakan investasi industri difokuskan tidak hanya pada arus modal, tetapi juga pada peningkatan kapabilitas nasional melalui transfer atau alih pengetahuan dan teknologi (Iptek), penguatan keterkaitan rantai pasok domestik, serta integrasi industri Indonesia ke jaringan produksi global.
“Investasi yang kami pacu adalah investasi yang membawa know-how, teknologi, dan keterlibatan pelaku industri lokal secara nyata. Indonesia tidak ingin investasi bersifat enclave, tetapi terhubung erat dengan ekosistem industri dalam negeri serta memberi peluang produk Indonesia terlibat dalam rantai pasok dunia,” ujar Agus dalam keterangannya, di Jakarta, yang dilasnir dalam siatran lpers, baru-baru ini.
Menurutnya, kebijakan tersebut sejalan dengan pesan strategis yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri WEF Davos 2026 pada Kamis (22/1). Dalam forum ekonomi dunia itu, Indonesia menegaskan diri sebagai negara yang stabil, kredibel, dan terbuka terhadap kemitraan investasi global, sekaligus siap mendorong kemajuan industri nasional secara signifikan.
Salah satu langkah strategis yang disampaikan Presiden Prabowo di Davos adalah pembentukan sovereign wealth fund Danantara Indonesia. Instrumen ini dirancang untuk mempercepat transformasi ekonomi dan industrialisasi, membuka ruang kolaborasi investasi jangka panjang, serta memperkuat kemitraan strategis dengan investor global.“Danantara merupakan fondasi kemitraan Indonesia dengan pelaku investasi global. Oleh karena itu, Indonesia menawarkan peluang investasi yang tidak hanya berorientasi pada modal, tetapi juga pada pengembangan nilai tambah industri nasional,” jelas Agus.
Kementerian Perindustrian menegaskan, investasi berkualitas akan diarahkan pada sektor-sektor unggulan yang menjadi prioritas penguatan kapasitas industri. Selain mendorong transfer teknologi dan pengetahuan, Kemenperin juga memperkuat peran industri kecil dan menengah (IKM) agar terintegrasi dalam rantai pasok industri besar melalui berbagai program fasilitasi dan insentif berbasis komponen dalam negeri.
Tak hanya itu, setiap investasi baru juga diharapkan memberi dampak pada penguatan pendidikan vokasi dan peningkatan keterampilan sumber daya manusia (SDM) industri. Langkah ini ditujukan agar industri nasional tidak hanya tumbuh dari sisi produksi, tetapi juga dari kualitas tenaga kerjanya.“Jadi, sesuai dengan Asta Cita pemerintah, kolaborasi global ini akan membuka peluang investasi berskala besar untuk industrialisasi dan pembangunan manusia Indonesia,” pungkas Menperin.
Melalui momentum WEF Davos 2026, pemerintah ingin memastikan Indonesia tidak sekadar menjadi tujuan investasi, tetapi juga menjadi pemain aktif dalam rantai nilai industri global.














