Oleh: Vony Tjiu, Red Hat Country Manager for Indonesia
Organisasi di kawasan Asia Pasifik memasuki tahun baru dengan fokus yang lebih tajam daripada sebelumnya. Mereka tidak lagi sekadar mencoba teknologi baru, namun sudah mulai melakukan transformasi dengan teknologi tersebut. Para pemimpin bisnis telah melampaui fase eksperimen dan kini berfokus pada bagaimana mengoperasionalkan teknologi secara bertanggung jawab, dalam skala besar, dan dengan hasil yang terukur, dengan mengintegrasikan AI ke dalam inti platform digital mereka.
Era AI kini bergerak menuju spesialisasi dan organisasi-organisasi menginginkan sistem yang disesuaikan dengan industri, data, dan realitas operasional mereka. Mereka juga menginginkan kebebasan untuk menjalankan beban kerja AI di lingkungan yang paling masuk akal: baik di lingkungan on-premise, di cloud, maupun di edge. Saya yakin, kombinasi antara kecerdasan yang dibuat khusus dan fleksibilitas arsitektur inilah yang akan membentuk tren-tren yang menentukan pada tahun 2026.
AI menjadi semakin praktis dan model yang tepat guna akan menjadi pusat perhatian
Jika di sepanjang tahun 2023 hingga 2025 ditandai oleh euforia terhadap AI generatif, maka pada tahun 2026 akan ditentukan oleh kepraktisannya. Dalam dua tahun terakhir, kita sudah beralih dari pembuktian potensi AI menjadi pembuktian value AI dalam menjawab kebutuhan bisnis yang spesifik.
Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, AI mendorong transformasi yang signifikan di berbagai sektor seperti retail, keuangan, telekomunikasi, dan manufaktur. Pertumbuhan infrastruktur AI dipacu oleh meningkatnya permintaan aplikasi berbasis AI, percepatan transformasi digital, serta investasi pemerintah dalam pembangunan pusat data yang siap mendukung AI.
Studi terbaru IDC menemukan bahwa 70% organisasi di Asia Pasifik memperkirakan agentic AI akan mendisrupsi model bisnis mereka dalam 18 bulan mendatang.¹ Perusahaan mulai menyadari bahwa masa depan AI bukan terletak pada model yang mencoba melakukan segalanya, melainkan pada sistem yang dirancang khusus, ukurannya tepat, dan dapat dijelaskan, yang didesain untuk industri dan alur kerja tertentu. Pergeseran ini sejalan dengan prediksi IDC lainnya: bahwa pada tahun 2027, sebanyak 40% organisasi akan menggunakan custom silicon, termasuk prosesor ARM atau chip khusus AI/ML, untuk memenuhi kebutuhan pengoptimalan performa, efisiensi biaya, dan komputasi spesifik² yang terus meningkat.
Di sektor jasa keuangan, khususnya, AI yang tepat guna dapat membantu mengotomatiskan proses yang kompleks dan berskala besar seperti onboarding klien baru, pemantauan transaksi, dan analisis penipuan, area-area yang hingga kini masih dilakukan secara manual. Bagi institusi yang menghadapi tekanan regulasi dan operasional yang semakin besar, sistem AI yang dirancang khusus menawarkan cara yang lebih jelas untuk meningkatkan akurasi, menekan biaya, dan memperkuat manajemen risiko.
Para pemimpin bisnis perlu meninjau kembali strategi infrastruktur mereka untuk mendukung beban kerja AI yang semakin beragam dan menuntut. Kita akan melihat makin meningkatnya ketertarikan terhadap layer inferensi terpadu yang bisa mendukung berbagai model AI tanpa mengorbankan performa dan penghematan biaya. Pada saat yang sama, terdapat momentum yang kuat untuk menghubungkan platform aplikasi enterprise dengan akselerator AI berbasis cloud, sehingga organisasi dapat mengoperasionalkan AI dalam skala besar dengan lebih mulus. Dengan memadukan platform yang fleksibel dan komputasi yang dirancang khusus, perusahaan dapat mempercepat transisi dari proyek percontohan menuju dampak bisnis yang terukur.
Virtualisasi berkembang untuk menjawab tuntutan beban kerja era AI
AI mengubah cara perusahaan melihat infrastruktur. Pendekatan virtualisasi tradisional, yang dirancang untuk beban kerja yang dapat diprediksi dan seragam, kini berada di bawah tekanan akibat kebutuhan AI modern yang menuntut kinerja lebih tinggi, latensi lebih rendah, dan fleksibilitas yang jauh lebih besar.
Pada tahun 2026, perusahaan akan semakin banyak mengadopsi strategi virtualisasi yang menyatukan virtual machine, container, dan komputasi khusus dalam satu model operasional. Pendekatan ini memungkinkan tim platform melakukan modernisasi sesuai dengan kecepatan mereka sendiri, sambil tetap mensupport aplikasi yang sudah ada maupun beban kerja AI yang baru. Hasilnya adalah fondasi infrastruktur yang cukup fleksibel untuk menjalankan aplikasi tradisional dan sistem cerdas secara bersamaan tanpa mengorbankan tata kelola maupun kontrol.
Hybrid cloud menjadi arsitektur standar untuk AI modern
Seiring model AI semakin bergantung pada data real time, sistem terdistribusi, dan sumber daya komputasi yang dirancang khusus, perusahaan membutuhkan arsitektur yang memungkinkan mereka menjalankan beban kerja sedekat mungkin dengan sumber data, sekaligus tetap menjaga skalabilitas dan ketahanan sistem.
Demand terhadap AI menjadikan hybrid cloud sebagai kebutuhan. Pada tahun 2026, hybrid cloud akan semakin mengukuhkan posisinya sebagai model operasional standar bagi sistem enterprise cerdas. Organisasi akan memprioritaskan platform yang membantu mereka mempertahankan kontrol atas beban kerja sensitif di lingkungan on-premise, berkembang dengan memanfaatkan kemampuan public cloud, dan membawa intelligence lebih dekat ke sumber data di edge.
Bagi institusi keuangan, model hybrid cloud sangat krusial. Beban kerja yang sensitif dan sangat diawasi ketat oleh regulasi harus tetap berada di lingkungan on-premise, sementara analitik berbasis AI seringkali membutuhkan elastisitas dan komputasi khusus dari lingkungan public cloud. Keseimbangan ini kini menjadi fondasi dalam modernisasi sistem risiko, kepatuhan, dan layanan nasabah di sektor jasa keuangan.
Hal ini mencerminkan realitas industri yang lebih luas: tidak akan ada satu tempat tunggal untuk menjalankan AI. Perusahaan yang mampu merancang lingkungan yang mampu menjalankan AI di mana saja akan berada pada posisi terbaik untuk menggali valuenya.
Kerangka tata kelola membentuk ulang strategi digital di Asia Pasifik
Seiring adopsi AI yang semakin cepat, tata kelola akan menjadi salah satu kekuatan yang paling menentukan dalam membentuk strategi digital di Asia Pasifik. Kerangka tata kelola yang semakin kuat akan memengaruhi bagaimana AI diadopsi di seluruh kawasan ini. Organisasi menginginkan sistem dengan tingkat keamanan yang lebih kuat, transparansi, dan keselarasan dengan regulasi setempat, serta berharap platform teknologi mereka mampu mendukung kebutuhan tersebut di lingkungan hybrid dan multi-cloud.
Di Indonesia, untuk mempercepat pengembangan dan pemanfaatan AI yang inklusif, berkelanjutan, aman, dan bertanggung jawab, pemerintah telah menerbitkan Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial 2020 – 2045 dan akan mengeluarkan regulasi untuk Peta Jalan dan Etika AI pada awal 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga telah merilis Panduan Kode Etik untuk AI yang bertanggung jawab dan tepercaya dalam industri teknologi keuangan.
Sektor jasa keuangan akan memainkan peran yang sangat besar dalam membentuk standar tersebut. Dengan persyaratan ketat terkait audit, ketertelusuran (traceability), dan perilaku model, organisasi di sektor jasa keuangan sudah menetapkan tolok ukur dalam adopsi AI yang bertanggung jawab, menciptakan pola yang kemungkinan besar akan diikuti oleh industri lainnya.
Rambu-rambu pengaman ini bukanlah penghambat inovasi, melainkan justru memungkinkannya. Pada tahun 2026, perusahaan akan semakin memprioritaskan sistem AI yang dapat diaudit, dimonitor dan dikelola di lingkungan hybrid, sehingga setiap keputusan tetap dapat ditelusuri dan perilaku model dapat dikendalikan. Pergeseran tata kelola ini juga akan memengaruhi pilihan arsitektur, pemilihan vendor, dan prioritas pengembangan keahlian. Perusahaan akan mencari solusi yang terbuka dan tepercaya, yang memungkinkan mereka memahami bagaimana model dibangun, bagaimana data digunakan, dan bagaimana keputusan diambil. Dalam industri yang diawasi sangat ketat oleh regulasi seperti layanan keuangan, kemampuan ini tidak bisa ditawar.
Sejalan dengan Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial 2020 – 2045, Indonesia terus memperkuat infrastruktur digitalnya untuk memenuhi ambisi menjadi salah satu pusat pengembangan AI di kawasan ini. Upaya ini termasuk pembangunan jaringan serat optik sepanjang 12.100 kilometer serta pembangunan fasilitas pusat data di berbagai kota. Indonesia juga mendirikan AI Innovation Hub sebagai pusat pengembangan inovasi AI.
Keahlian, komunitas, dan kolaborasi menjadi akselerator sesungguhnya
Tidak ada transformasi yang berhasil tanpa manusia. Permintaan akan talenta cloud-native, AI dan keamanan siber terus melampaui ketersediaan di Asia Pasifik. Pada tahun 2026, kesenjangan ini diperkirakan akan semakin melebar kecuali organisasi berinvestasi pada pendekatan yang berfokus pada pengembangan keahlian untuk membangun, mengoperasikan, dan mengoptimalkan sistem digital modern.
Komunitas open source akan memainkan peran sentral dalam perubahan ini. Mereka menyediakan pengetahuan bersama, transparansi, dan ekosistem global yang berakar pada kolaborasi. Berbagai tool dan kerangka kerja tersedia bagi semua pihak, bukan hanya untuk segelintir orang. Seiring semakin banyak perusahaan berkontribusi kembali ke komunitas ini, dengan mengembangkan ide secara cepat dan bertanggung jawab, Asia Pasifik akan memperkuat posisinya dalam inovasi digital, tidak hanya sebagai konsumen namun juga sebagai kreator.
Sekitar 42% organisasi di Asia Tenggara (40% di Indonesia) telah mengimplementasikan agentic AI, baik sebagai solusi mandiri maupun terintegrasi dalam aplikasi SaaS mereka yang sudah ada, dengan fokus pada pengembangan kapasitas talenta dan menumbuhkan kemitraan publik-swasta. Survei lain menemukan bahwa 92% knowledge worker sudah menggunakan AI generatif dalam pekerjaan mereka. Tingginya adopsi ini didukung oleh para pemimpin bisnis, di mana 92% menyadari bahwa AI merupakan faktor penting agar mereka tetap kompetitif.
Model yang tepat, di lingkungan yang tepat, dengan arsitektur yang tepat akan menentukan era berikutnya dari enterprise AI. Keberhasilan agentic AI tidak hanya bergantung pada kekuatan modelnya, namun juga pada infrastruktur, tata kelola, dan keahlian yang mendukungnya. Pada tahun 2026, keterbukaan, fleksibilitas, dan kolaborasi akan tetap menjadi prinsip utama yang membantu organisasi bergerak dari potensi menuju outcome yang nyata dan terukur. Karena tidak ada satu model pun yang cocok untuk semua konteks enterprise, open source akan terus menjadi fondasi kebebasan dan inovasi dalam membangun masa depan.














