ItWorks
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
ItWorks
No Result
View All Result

Lima Kekuatan yang Membentuk Masa Depan AI di Asia Pasifik Tahun 2026

Fauzi
6 February 2026 | 15:09
rubrik: Expert
Red Hat Perkenalkan Konsep Baru ‘Any Model, Any Accelerator, Any Cloud’

Vony Tjiu, Country Manager, Red Hat Indonesia

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Vony Tjiu, Red Hat Country Manager for Indonesia

Organisasi di kawasan Asia Pasifik memasuki tahun baru dengan fokus yang lebih tajam daripada sebelumnya. Mereka tidak lagi sekadar mencoba teknologi baru, namun sudah mulai melakukan transformasi dengan teknologi tersebut. Para pemimpin bisnis telah melampaui fase eksperimen dan kini berfokus pada bagaimana mengoperasionalkan teknologi secara bertanggung jawab, dalam skala besar, dan dengan hasil yang terukur, dengan mengintegrasikan AI ke dalam inti platform digital mereka.

Era AI kini bergerak menuju spesialisasi dan organisasi-organisasi menginginkan sistem yang disesuaikan dengan industri, data, dan realitas operasional mereka. Mereka juga menginginkan kebebasan untuk menjalankan beban kerja AI di lingkungan yang paling masuk akal: baik di lingkungan on-premise, di cloud, maupun di edge. Saya yakin, kombinasi antara kecerdasan yang dibuat khusus dan fleksibilitas arsitektur inilah yang akan membentuk tren-tren yang menentukan pada tahun 2026.

AI menjadi semakin praktis dan model yang tepat guna akan menjadi pusat perhatian
Jika di sepanjang tahun 2023 hingga 2025 ditandai oleh euforia terhadap AI generatif, maka pada tahun 2026 akan ditentukan oleh kepraktisannya. Dalam dua tahun terakhir, kita sudah beralih dari pembuktian potensi AI menjadi pembuktian value AI dalam menjawab kebutuhan bisnis yang spesifik.

Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, AI mendorong transformasi yang signifikan di berbagai sektor seperti retail, keuangan, telekomunikasi, dan manufaktur. Pertumbuhan infrastruktur AI dipacu oleh meningkatnya permintaan aplikasi berbasis AI, percepatan transformasi digital, serta investasi pemerintah dalam pembangunan pusat data yang siap mendukung AI.

Studi terbaru IDC menemukan bahwa 70% organisasi di Asia Pasifik memperkirakan agentic AI akan mendisrupsi model bisnis mereka dalam 18 bulan mendatang.¹ Perusahaan mulai menyadari bahwa masa depan AI bukan terletak pada model yang mencoba melakukan segalanya, melainkan pada sistem yang dirancang khusus, ukurannya tepat, dan dapat dijelaskan, yang didesain untuk industri dan alur kerja tertentu. Pergeseran ini sejalan dengan prediksi IDC lainnya: bahwa pada tahun 2027, sebanyak 40% organisasi akan menggunakan custom silicon, termasuk prosesor ARM atau chip khusus AI/ML, untuk memenuhi kebutuhan pengoptimalan performa, efisiensi biaya, dan komputasi spesifik² yang terus meningkat.

Di sektor jasa keuangan, khususnya, AI yang tepat guna dapat membantu mengotomatiskan proses yang kompleks dan berskala besar seperti onboarding klien baru, pemantauan transaksi, dan analisis penipuan, area-area yang hingga kini masih dilakukan secara manual. Bagi institusi yang menghadapi tekanan regulasi dan operasional yang semakin besar, sistem AI yang dirancang khusus menawarkan cara yang lebih jelas untuk meningkatkan akurasi, menekan biaya, dan memperkuat manajemen risiko.

BACA JUGA:  Dampak Virtualisasi, Kurangi Belanja Server

Para pemimpin bisnis perlu meninjau kembali strategi infrastruktur mereka untuk mendukung beban kerja AI yang semakin beragam dan menuntut. Kita akan melihat makin meningkatnya ketertarikan terhadap layer inferensi terpadu yang bisa mendukung berbagai model AI tanpa mengorbankan performa dan penghematan biaya. Pada saat yang sama, terdapat momentum yang kuat untuk menghubungkan platform aplikasi enterprise dengan akselerator AI berbasis cloud, sehingga organisasi dapat mengoperasionalkan AI dalam skala besar dengan lebih mulus. Dengan memadukan platform yang fleksibel dan komputasi yang dirancang khusus, perusahaan dapat mempercepat transisi dari proyek percontohan menuju dampak bisnis yang terukur.

Virtualisasi berkembang untuk menjawab tuntutan beban kerja era AI
AI mengubah cara perusahaan melihat infrastruktur. Pendekatan virtualisasi tradisional, yang dirancang untuk beban kerja yang dapat diprediksi dan seragam, kini berada di bawah tekanan akibat kebutuhan AI modern yang menuntut kinerja lebih tinggi, latensi lebih rendah, dan fleksibilitas yang jauh lebih besar.

Pada tahun 2026, perusahaan akan semakin banyak mengadopsi strategi virtualisasi yang menyatukan virtual machine, container, dan komputasi khusus dalam satu model operasional. Pendekatan ini memungkinkan tim platform melakukan modernisasi sesuai dengan kecepatan mereka sendiri, sambil tetap mensupport aplikasi yang sudah ada maupun beban kerja AI yang baru. Hasilnya adalah fondasi infrastruktur yang cukup fleksibel untuk menjalankan aplikasi tradisional dan sistem cerdas secara bersamaan tanpa mengorbankan tata kelola maupun kontrol.

Hybrid cloud menjadi arsitektur standar untuk AI modern
Seiring model AI semakin bergantung pada data real time, sistem terdistribusi, dan sumber daya komputasi yang dirancang khusus, perusahaan membutuhkan arsitektur yang memungkinkan mereka menjalankan beban kerja sedekat mungkin dengan sumber data, sekaligus tetap menjaga skalabilitas dan ketahanan sistem.

Demand terhadap AI menjadikan hybrid cloud sebagai kebutuhan. Pada tahun 2026, hybrid cloud akan semakin mengukuhkan posisinya sebagai model operasional standar bagi sistem enterprise cerdas. Organisasi akan memprioritaskan platform yang membantu mereka mempertahankan kontrol atas beban kerja sensitif di lingkungan on-premise, berkembang dengan memanfaatkan kemampuan public cloud, dan membawa intelligence lebih dekat ke sumber data di edge.

BACA JUGA:  Revolusi Teknologi Retail - Bagaimana Menghadirkan Pengalaman Terintegrasi Terbaik?

Bagi institusi keuangan, model hybrid cloud sangat krusial. Beban kerja yang sensitif dan sangat diawasi ketat oleh regulasi harus tetap berada di lingkungan on-premise, sementara analitik berbasis AI seringkali membutuhkan elastisitas dan komputasi khusus dari lingkungan public cloud. Keseimbangan ini kini menjadi fondasi dalam modernisasi sistem risiko, kepatuhan, dan layanan nasabah di sektor jasa keuangan.

Hal ini mencerminkan realitas industri yang lebih luas: tidak akan ada satu tempat tunggal untuk menjalankan AI. Perusahaan yang mampu merancang lingkungan yang mampu menjalankan AI di mana saja akan berada pada posisi terbaik untuk menggali valuenya.

Kerangka tata kelola membentuk ulang strategi digital di Asia Pasifik
Seiring adopsi AI yang semakin cepat, tata kelola akan menjadi salah satu kekuatan yang paling menentukan dalam membentuk strategi digital di Asia Pasifik. Kerangka tata kelola yang semakin kuat akan memengaruhi bagaimana AI diadopsi di seluruh kawasan ini. Organisasi menginginkan sistem dengan tingkat keamanan yang lebih kuat, transparansi, dan keselarasan dengan regulasi setempat, serta berharap platform teknologi mereka mampu mendukung kebutuhan tersebut di lingkungan hybrid dan multi-cloud.

Di Indonesia, untuk mempercepat pengembangan dan pemanfaatan AI yang inklusif, berkelanjutan, aman, dan bertanggung jawab, pemerintah telah menerbitkan Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial 2020 – 2045 dan akan mengeluarkan regulasi untuk Peta Jalan dan Etika AI pada awal 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga telah merilis Panduan Kode Etik untuk AI yang bertanggung jawab dan tepercaya dalam industri teknologi keuangan.

Sektor jasa keuangan akan memainkan peran yang sangat besar dalam membentuk standar tersebut. Dengan persyaratan ketat terkait audit, ketertelusuran (traceability), dan perilaku model, organisasi di sektor jasa keuangan sudah menetapkan tolok ukur dalam adopsi AI yang bertanggung jawab, menciptakan pola yang kemungkinan besar akan diikuti oleh industri lainnya.

Rambu-rambu pengaman ini bukanlah penghambat inovasi, melainkan justru memungkinkannya. Pada tahun 2026, perusahaan akan semakin memprioritaskan sistem AI yang dapat diaudit, dimonitor dan dikelola di lingkungan hybrid, sehingga setiap keputusan tetap dapat ditelusuri dan perilaku model dapat dikendalikan. Pergeseran tata kelola ini juga akan memengaruhi pilihan arsitektur, pemilihan vendor, dan prioritas pengembangan keahlian. Perusahaan akan mencari solusi yang terbuka dan tepercaya, yang memungkinkan mereka memahami bagaimana model dibangun, bagaimana data digunakan, dan bagaimana keputusan diambil. Dalam industri yang diawasi sangat ketat oleh regulasi seperti layanan keuangan, kemampuan ini tidak bisa ditawar.

BACA JUGA:  Acer Rilis Jajaran Perangkat Gaming Seri Nitro Terbaru

Sejalan dengan Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial 2020 – 2045, Indonesia terus memperkuat infrastruktur digitalnya untuk memenuhi ambisi menjadi salah satu pusat pengembangan AI di kawasan ini. Upaya ini termasuk pembangunan jaringan serat optik sepanjang 12.100 kilometer serta pembangunan fasilitas pusat data di berbagai kota. Indonesia juga mendirikan AI Innovation Hub sebagai pusat pengembangan inovasi AI.

Keahlian, komunitas, dan kolaborasi menjadi akselerator sesungguhnya
Tidak ada transformasi yang berhasil tanpa manusia. Permintaan akan talenta cloud-native, AI dan keamanan siber terus melampaui ketersediaan di Asia Pasifik. Pada tahun 2026, kesenjangan ini diperkirakan akan semakin melebar kecuali organisasi berinvestasi pada pendekatan yang berfokus pada pengembangan keahlian untuk membangun, mengoperasikan, dan mengoptimalkan sistem digital modern.

Komunitas open source akan memainkan peran sentral dalam perubahan ini. Mereka menyediakan pengetahuan bersama, transparansi, dan ekosistem global yang berakar pada kolaborasi. Berbagai tool dan kerangka kerja tersedia bagi semua pihak, bukan hanya untuk segelintir orang. Seiring semakin banyak perusahaan berkontribusi kembali ke komunitas ini, dengan mengembangkan ide secara cepat dan bertanggung jawab, Asia Pasifik akan memperkuat posisinya dalam inovasi digital, tidak hanya sebagai konsumen namun juga sebagai kreator.

Sekitar 42% organisasi di Asia Tenggara (40% di Indonesia) telah mengimplementasikan agentic AI, baik sebagai solusi mandiri maupun terintegrasi dalam aplikasi SaaS mereka yang sudah ada, dengan fokus pada pengembangan kapasitas talenta dan menumbuhkan kemitraan publik-swasta. Survei lain menemukan bahwa 92% knowledge worker sudah menggunakan AI generatif dalam pekerjaan mereka. Tingginya adopsi ini didukung oleh para pemimpin bisnis, di mana 92% menyadari bahwa AI merupakan faktor penting agar mereka tetap kompetitif.

Model yang tepat, di lingkungan yang tepat, dengan arsitektur yang tepat akan menentukan era berikutnya dari enterprise AI. Keberhasilan agentic AI tidak hanya bergantung pada kekuatan modelnya, namun juga pada infrastruktur, tata kelola, dan keahlian yang mendukungnya. Pada tahun 2026, keterbukaan, fleksibilitas, dan kolaborasi akan tetap menjadi prinsip utama yang membantu organisasi bergerak dari potensi menuju outcome yang nyata dan terukur. Karena tidak ada satu model pun yang cocok untuk semua konteks enterprise, open source akan terus menjadi fondasi kebebasan dan inovasi dalam membangun masa depan.

Tags: Agentic AIAIopen sourceRed Hat
Previous Post

Layanan 5G SMARTFREN Kini Jangkau Makassar

Next Post

Resmi Diluncurkan, ION Buka Akses Pasar Lebih Luas bagi UMKM

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP DIGITAL AWARDS

hanwha-life-top-digital-awards-2025-level-stars-5

Hanwha Life Raih TOP Digital Awards 2025 Level Stars 5

Teguh Imam Suyudi
23 December 2025 | 16:00

Rumah Pendidikan Kemendikdasmen TOP Digital Awards 2025

Rumah Pendidikan Kemendikdasmen Raih Penghargaan Bergengsi TOP Digital Awards 2025

Teguh Imam Suyudi
7 December 2025 | 09:00

Moratelindo TOP Digital Awards

Moratelindo Perkuat Kepemimpinan Transformasi Digital Lewat Dua Penghargaan Nasional TOP Digital Awards 2025

Teguh Imam Suyudi
6 December 2025 | 09:00

Ilham Habibie: Digital adalah Instrumen Strategis Daya Saing Global, Kedaulatan, dan Ketahanan Ekonomi Bangsa

Ilham Habibie: Digital adalah Instrumen Strategis Daya Saing Global, Kedaulatan, dan Ketahanan Ekonomi Bangsa

Fauzi
5 December 2025 | 13:58

PT Pertamina International Shipping (PIS) Raih Penghargaan TOP Digital Awards 2025 Bintang 5

PT Pertamina International Shipping (PIS) Raih Penghargaan TOP Digital Awards 2025 Bintang 5

Ahmad Churi
5 December 2025 | 11:14

Load More

TERPOPULER

  • Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cara Mudah Cek Plat Nomor Kendaraan Atas Nama Siapa, Lewat Aplikasi dan Website

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemkot Balikpapan Kandidat Raih TOP Digital Awards 2023, Hadirkan Digitalisasi Layanan Masyarakat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Survei BI: Keyakinan Konsumen Januari 2026 Meningkat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cara Mudah Mengurus Surat Pindah Domisili secara Online

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
iklan bni
cover it works
cover it works

ICT PROFILE

pabrik-miliarder-2025-perusahaan-cetak-kekayaan-triliunan

Pabrik Miliarder 2025 Terungkap! 8 Perusahaan Ini Cetak Kekayaan Triliunan dalam Sekejap

Teguh Imam Suyudi
27 December 2025 | 17:00

Reli pasar saham Amerika Serikat yang menembus rekor tertinggi sepanjang masa melahirkan fenomena baru di dunia bisnis global. Sejumlah perusahaan...

ashjari-cto-nutanix-apj

Cari Tahu Rahasia Sukses: Daryush Ashjari Jabat CTO Nutanix APJ!

Teguh Imam Suyudi
9 December 2025 | 17:00

Pada November 2024, Nutanix (NASDAQ: NTNX) mengumumkan ekspansi peran strategis Daryush Ashjari untuk memegang jabatan Chief Technology Officer (CTO) untuk kawasan Asia Pasifik...

EXPERT

Red Hat Perkenalkan Konsep Baru ‘Any Model, Any Accelerator, Any Cloud’

Lima Kekuatan yang Membentuk Masa Depan AI di Asia Pasifik Tahun 2026

Fauzi
6 February 2026 | 15:09

Oleh: Vony Tjiu, Red Hat Country Manager for Indonesia Organisasi di kawasan Asia Pasifik memasuki tahun baru dengan fokus yang...

Dari Akses ke Peran Aktif: Memberdayakan Generasi Muda dalam Menciptakan Pengajaran di Era Digital

Dari Akses ke Peran Aktif: Memberdayakan Generasi Muda dalam Menciptakan Pengajaran di Era Digital

Fauzi
6 February 2026 | 14:07

Oleh: CU Kim, President & CEO Samsung Electronics Southeast Asia and Oceania Pada 3 Desember 2018, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa...

TIK TALKS

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

redaksi
16 August 2022 | 15:30

Di masa akan datang banyak aplikasi yang akan membutuhkan low latency connectivity. Lalu apa kaitannya dengan Edge DC yang hadir...

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

redaksi
15 August 2022 | 12:30

Bagaimana cara mengolah Big Data sehingga dapat divisualisasikan, serta bagaimana dapat melakukan analitik dan dapat memprediksikan apa yang harus dilakukan...

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Itworks - Inspire Great & Telco for Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto