ItWorks.id- PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) memperkuat fokus pada pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui percepatan pembiayaan digital guna mendorong inklusi keuangan dan memperkuat ketahanan ekonomi digital nasional di tengah momentum pemulihan ekonomi.
Direktur Utama Amar Bank, Vishal Tulsian, mengatakan digitalisasi layanan keuangan menjadi kunci untuk membuka potensi besar UMKM yang selama ini belum tergarap optimal. Melalui solusi keuangan digital yang mudah diakses dan andal, perseroan ingin memperluas peluang pelaku usaha untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing.
“Melalui solusi keuangan digital yang mudah diakses dan andal, kami ingin membuka peluang lebih besar bagi UMKM untuk tumbuh lebih produktif dan kompetitif. Ini adalah bagian dari komitmen kami dalam membangkitkan potensi besar UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional,” kata Vishal dalam rilis pers (08/04/2026), di Jakarta.
Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan jumlah UMKM di Indonesia mencapai 64,2 juta unit dengan kontribusi sekitar 61% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) serta menyerap 97% tenaga kerja nasional. Namun, akses pembiayaan masih menjadi tantangan, tercermin dari realisasi porsi kredit UMKM pada 2025 yang baru mencapai sekitar 19,4%, masih di bawah target pemerintah sebesar 30%.
Menurut Vishal, perbankan digital berperan penting menjembatani kesenjangan tersebut melalui proses pembiayaan yang lebih sederhana, cepat, dan aman sehingga mampu memperluas inklusi keuangan.
Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, menilai keterbatasan akses pembiayaan masih menjadi hambatan utama bagi UMKM. Dalam forum Digital Banking & Economic Outlook 2026: Awakening Indonesia’s Sleeping Giant, ia menyebut banyak pelaku usaha kecil masih bergantung pada modal pribadi atau pinjaman informal akibat hambatan administratif dan tingginya biaya layanan perbankan.
Ia menilai skema pembiayaan berbasis kemampuan (ability-based financing) yang diusung bank digital berpotensi memperluas akses keuangan, terutama di wilayah yang masih bergantung pada pembiayaan informal. Di sisi lain, ekonomi digital Indonesia terus tumbuh, dengan nilai transaksi pembayaran digital diperkirakan mencapai Rp4.000 triliun pada 2026, didorong peningkatan penggunaan internet, perangkat mobile, dan adopsi QRIS. Meski demikian, isu keamanan data dan keterbatasan talenta digital masih menjadi tantangan.
Untuk memperkuat dukungan kepada UMKM, Senior Vice President of MSME Amar Bank, Josua Sloane Solagracia, mengatakan perseroan menghadirkan layanan Amar Bank Bisnis yang membantu pelaku usaha membangun administrasi dan pengelolaan keuangan yang lebih sistematis dan terdokumentasi. Rekam jejak keuangan yang lebih rapi diharapkan meningkatkan kelayakan UMKM dalam mengakses pembiayaan formal.
Sementara itu, Direktur Teknologi Informasi dan Operasional Amar Bank, Kevin Kane, menegaskan perusahaan terus memperkuat inovasi teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (AI). Teknologi tersebut digunakan untuk otomatisasi proses, underwriting secara real-time, serta analisis perilaku nasabah guna menghasilkan keputusan pembiayaan yang lebih cepat, akurat, dan aman. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat inklusi keuangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi digital yang lebih inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.














