ItWorks.id- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat perannya dalam mendorong inovasi teknologi pengelolaan sampah melalui pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Bantargebang. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya strategis untuk menjawab tantangan krisis pengelolaan sampah perkotaan.
Penelitian strategis tersebut akan dipaparkan oleh Peneliti Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih, Wiharja dalam acara Media Lounge Discussion (MELODI) di Lobby Media Lounge, Gedung BJ. Habibie, Jakarta, Kamis (16/4).
BRIN telah mengembangkan fasilitas pilot PLTSa sejak tahun 2017 yang dirancang sebagai proof of concept teknologi konversi sampah menjadi energi untuk menjawab keraguan masyarakat terhadap implementasi Peraturan Presiden No 18/2016 mengenai Percepatan Pembangunan PLTSa di 7 Kota. Regulasi ini kemudian diperbaharui dengan diterbitkannya Peraturan Presiden No 35/2018 mengenai Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan, yang selanjutnya diperbaharui melalui Peraturan Presiden No 109/2025 mengenai Penanganan Sampah Perkotaan Melalui Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.
Peneliti Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih, Wiharja menerangkan bahwa secara sederhana, sistem ini bekerja dengan memanfaatkan sampah kota sebagai bahan bakar. Sampah yang masuk terlebih dahulu melalui proses pemilahan dan pengeringan untuk meningkatkan nilai kalor atau energi panas.
Selanjutnya, sampah dibakar pada tungku pembakaran untuk menghasilkan panas. Panas ini digunakan untuk menghasilkan uap yang kemudian menggerakkan turbin dan generator untuk menghasilkan listrik. Gas hasil pembakaran sampah juga di-filter melalui serangkaian alat penyaring pencemaran udara yang telah sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup.
“Pendekatan ini mampu mengolah dan mengurangi volume sampah secara cepat dan signifikan hingga 80 persen sekaligus mengkonversinya menjadi energi,” tandas Wiharja dirilis Humas BRIN m,elalui portal web (15/04/2026), di Jakarta.
Menurut Wiharja, fasilitas pilot project PLTSa Merah Putih yang telah dikembangkan BRIN masih berada pada skala demonstratif. Pilot project ini dibangun dengan kapasitas pengolahan sampah 100 ton per hari, yang sejak tahun 2018-2022 pengelolaannya bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Kapasitas listrik yang dihasilkan sebesar 700kW yang digunakan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan internal. Hal itu karena fasilitas ini masih berstatus pilot project dan belum berada pada skala komersial.
“Dalam skala pengembangan penuh, potensi energi dari sampah perkotaan di kota besar seperti Jakarta dapat mencapai puluhan megawatt, tergantung pada volume dan karakteristik sampah,” ungkap Wiharja.
Secara teknologi, sistem pengolahan waste to energy melalui proses insinerasi merupakan sebuah pendekatan yang telah terbukti dan teruji secara luas. Negara-negara maju seperti Jerman, Perancis, China, Jepang, Singapura, dll, telah lama menggunakan pendekatan ini untuk mengolah sampah kota. Berdasarkan data World Bank, UNEP program WtE global teknologi insinerasi, menguasai pasar 78-79%.
Dengan teknologi proven tersebut kami adaptasi dengan menggunakan sampah Indonesia. Ke depan jika Kabupaten Kota di Indonesia ingin mengadopsi proses tersebut diperlukan beberapa catatan, antara lain: Ketersediaan dan kualitas pasokan sampah, Kebutuhan investasi awal dan biaya operasinya (Capex dan Opex), serta Penerimaan sosial dan isu lingkungan. Oleh karena itu, keberhasilan implementasi PLTSa memerlukan kolaborasi erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat.
PLTSa ini diproyeksikan menjadi salah satu pilar penting dalam sistem pengelolaan sampah terpadu di Indonesia. Teknologi ini tidak hanya mampu mengurangi ketergantungan pada landfill, tetapi juga berkontribusi dalam penyediaan energi terbarukan. Dengan pendekatan yang tepat, PLTSa dapat memainkan peran signifikan dalam mendukung transisi menuju ekonomi sirkular, mengurangi emisi gas rumah kaca, serta meningkatkan ketahanan energi nasional.














