ItWorks.id- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mendorong transformasi riset pertanian melalui pemanfaatan teknologi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI). Teknologi ini kini diintegrasikan dengan pemuliaan tanaman, karakterisasi morfologi, dan sains data untuk mempercepat pengembangan varietas cabai unggul yang lebih produktif, adaptif, dan berdaya saing.
Upaya untuk terus hadirkan inovasi tersebut terungkap dalam webinar DESAIN (Dialog Eksplorasi Sains Data dan Informasi) Seri ke-6 bertajuk Integrasi Pemuliaan, Karakterisasi, dan AI untuk Identifikasi Presisi Varietas Cabai yang diselenggarakan Pusat Riset Sains Data dan Informasi (PRSDI) BRIN, baru-baru ini.
Kepala PRSDI BRIN, Esa Prakasa, mengatakan cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura strategis dengan nilai ekonomi tinggi serta memiliki keragaman varietas yang luas. Setiap varietas memiliki karakteristik berbeda, mulai dari tingkat kepedasan, produktivitas hingga ketahanan terhadap kondisi lingkungan.
Menurut Esa, riset cabai yang telah berlangsung sejak sebelum BRIN berdiri kini memasuki babak baru dengan memanfaatkan AI, analisis spasio-temporal, serta pemantauan berbagai faktor lingkungan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan akurasi identifikasi varietas sekaligus mempercepat proses pengembangan cabai yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim dan kondisi lapangan. “Potensi pemanfaatan cabai sangat besar bagi masyarakat dan dapat menjadi sumber ekonomi bagi petani. Integrasi AI akan membuat proses identifikasi varietas menjadi lebih akurat dan efisien,” ujarnya dirilis Humas BRIN (20/07/2026), di Jakarta.
Dalam kesempatan yang sama, Nurdini Khadijah dari Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PVTPP) Kementerian Pertanian menjelaskan bahwa perlindungan hukum terhadap varietas tanaman diawali dengan pengujian BUSS (Baru, Unik, Seragam, dan Stabil). Pengujian tersebut dilakukan melalui analisis terhadap 61 karakter morfologi tanaman. Data hasil karakterisasi itu tidak hanya menjadi syarat perlindungan varietas, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam pengembangan sistem identifikasi varietas berbasis AI.
Sementara itu, Peneliti Ahli Madya PRSDI BRIN, Devi Munandar, memaparkan pengembangan model hibrida ST-LMM-FNN yang mampu mengevaluasi ketahanan sekaligus kemurnian benih cabai. Model tersebut dapat memprediksi pertumbuhan tanaman sekaligus meningkatkan akurasi evaluasi kemurnian varietas sehingga mendukung proses seleksi benih unggul secara lebih efektif.
Dari sisi pemuliaan tanaman, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Hortikultura BRIN, Rinda Kirana, menjelaskan proses pemuliaan presisi hingga pendaftaran perlindungan varietas tanaman untuk cabai rawit unggul CR 58.
Menurutnya, keberhasilan menghasilkan varietas unggul tidak hanya bergantung pada inovasi pemuliaan, tetapi juga pada perlindungan hak varietas agar inovasi tersebut memiliki nilai tambah dan mampu bersaing di pasar.
Terobosan lain diperkenalkan oleh Peneliti Ahli Utama PRSDI BRIN, Wiwin Suwarningsih, melalui pengembangan smart phenotyping system berbasis deep learning menggunakan arsitektur ResNet50. Teknologi ini mampu mengenali varietas cabai hanya berdasarkan karakteristik morfologi daun secara cepat dan presisi di lapangan. Pendekatan tersebut dinilai berpotensi menggantikan proses karakterisasi konvensional yang selama ini membutuhkan waktu lebih lama dan tenaga yang lebih besar.
Moderator webinar sekaligus Peneliti Ahli Muda PRSDI BRIN, Ira Maryati, menegaskan bahwa identifikasi varietas cabai di era digital membutuhkan pendekatan multidisiplin. Kolaborasi antara pemuliaan tanaman, karakterisasi morfologi, sains data, big data analytics, dan AI menjadi kunci untuk menghasilkan sistem identifikasi yang lebih cepat, objektif, dan akurat.
Esa Prakasa menambahkan, kolaborasi riset yang dibangun BRIN bersama berbagai mitra diharapkan mampu mempercepat lahirnya inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi sektor pertanian nasional. Menurutnya, integrasi pemuliaan tanaman, karakterisasi, dan sains data tidak hanya akan mempercepat pengembangan varietas cabai unggul, tetapi juga meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen, memperkuat daya saing hortikultura Indonesia, serta mendukung terwujudnya ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan.














