ItWorks.id-Lahan bekas tambang di Kalimantan Timur (Kaltim) mulai diarahkan menjadi kawasan produktif berbasis teknologi dan inovasi. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggagas pembangunan Agro Techno Park (ATP) yang mengintegrasikan peternakan, perikanan, hortikultura, tanaman pangan, dan perkebunan dalam satu ekosistem agribisnis berkelanjutan.
Gagasan tersebut menjadi bagian dari upaya BRIN mendorong pemanfaatan lahan pascatambang sekaligus mengembangkan model usaha peternakan terpadu yang layak secara ekonomi dan dapat direplikasi di wilayah lain.
Kepala Pusat Riset Peternakan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Santoso, mengatakan, pemanfaatan lahan bekas tambang untuk peternakan membutuhkan pendekatan yang berbeda dibandingkan lahan pertanian pada umumnya.
Menurutnya, aspek kondisi tanah dan lingkungan, produktivitas serta kesehatan ternak, hingga kebutuhan investasi dan kelayakan usaha harus dikaji secara terpadu. “Kita tidak ingin sekadar membuktikan bahwa ternak dapat dipelihara di lahan bekas tambang. Yang lebih penting adalah menentukan model seperti apa yang tepat, teknologi apa yang diperlukan, komponen apa yang harus dioperasikan, dan dalam kondisi seperti apa usaha tersebut dapat berkembang,” ujar Santoso dalam Webinar Risnov Ternak Series #31, (9/9),dilansir melalui portal web BRIN (13/09/2026).
Webinar bertema “Prospek Pengembangan Usaha Peternakan Terpadu pada Lahan Bekas Tambang: Tantangan dan Peluang, Contoh Kasus – Kalimantan Timur” tersebut diselenggarakan Pusat Riset Peternakan ORPP BRIN secara daring.
Rancang Kawasan Percontohan di Loa Kulu
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Peternakan ORPP BRIN, Sindu Akhadiarto, menjelaskan, gagasan pembangunan ATP di lahan bekas tambang Kaltim merupakan hasil kajian dan survei BRIN bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Salah satu lokasi yang disiapkan berada di Loa Kulu, melalui kolaborasi BRIN dengan PT Bramasta Sakti. Kawasan ini dirancang sebagai percontohan peternakan terpadu dengan dukungan teknologi modern dan konsep smart farming.
Dalam rancangan tersebut, kegiatan peternakan tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan perikanan, hortikultura, tanaman pangan, dan perkebunan. Integrasi ini diharapkan menciptakan efisiensi produksi, mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya, serta menghasilkan nilai tambah dari berbagai kegiatan agribisnis.“Peternakan tidak hanya menghasilkan daging dan telur untuk manusia, tetapi juga menjadi mesin biologis yang mempercepat pemulihan fungsi ekonomi. Maka terjadilah konsep bioekonomi sirkular,” jelas Sindu.
Melalui pendekatan tersebut, peternakan dapat menghasilkan pupuk organik, menyediakan hijauan pakan, dan mengurangi limbah biomassa. Sistem ini sekaligus membuka peluang sumber pendapatan baru bagi masyarakat di sekitar kawasan.
BRIN mengarahkan ATP bukan hanya sebagai lokasi produksi peternakan, tetapi juga sebagai kawasan percontohan dan ekosistem kolaborasi yang mempertemukan pemerintah daerah, perguruan tinggi, pelaku usaha, serta lembaga riset.Selain mendukung kegiatan riset dan produksi, kawasan tersebut diproyeksikan menjadi wadah pengembangan agroeduwisata serta penerapan teknologi pertanian dan peternakan terpadu.
Model yang dikembangkan diharapkan dapat menjadi referensi untuk optimalisasi lahan bekas tambang di wilayah lain dengan karakteristik yang sesuai.
Perspektif pengembangan usaha turut disampaikan Guru Besar Fakultas Pertanian, Jurusan Peternakan Universitas Mulawarman Samarinda, Prof. Taufan Purwokusumaning Daru. Ia menguraikan tantangan dan peluang pengembangan usaha peternakan di lahan bekas tambang, khususnya dalam konteks Kalimantan Timur.
Sementara itu, Direktur PT Bramasta Sakti, Wiwin Suhartanto, memberikan perspektif pelaku usaha mengenai pemanfaatan lahan bekas tambang untuk kegiatan agribisnis, termasuk pengalaman dan tantangan pengembangan ternak di kawasan tersebut.
Melalui kolaborasi riset, akademisi, pemerintah, dan dunia usaha, BRIN mendorong agar pemanfaatan lahan bekas tambang tidak berhenti pada upaya pemulihan lahan. Lebih dari itu, lahan pascatambang diharapkan dapat menjadi basis pengembangan agribisnis baru yang produktif, berkelanjutan, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Konsep Agro Techno Park di Kaltim menjadi salah satu upaya untuk menghubungkan inovasi teknologi dengan kebutuhan pengembangan usaha, sekaligus membuka peluang transformasi lahan bekas tambang menjadi kawasan ekonomi produktif.














