ItWorks.id- Pusat Riset Teknologi Konversi Energi (PRTKE) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan teknologi gasifikasi dan penangkap karbon terintegrasi untuk mengatasi persoalan sampah di Indonesia. Inovasi ini mengubah sampah menjadi energi bersih (waste to energy), sekaligus menekan emisi gas rumah kaca dan mengolah material sisa menjadi produk bernilai tinggi seperti Carbon Nanotube (CNT).
Peneliti dari Pusat Riset Teknologi Konversi Energi BRIN, Nina Konitat Supriatna, menjelaskan bahwa manajemen sampah yang buruk saat ini memberikan dampak yang sangat berbahaya bagi kesehatan maupun ketahanan iklim. Pembuangan sampah secara sembarangan, penumpukan di tempat pembuangan akhir (landfill), hingga pembakaran terbuka menjadi penyumbang gas beracun dan pemicu pemanasan global.
“Saat ini masih banyak sekali sampah yang dibuang secara sembarangan dan tidak melalui manajemen sampah. Sampah yang tidak terkelola akan memicu metan, di mana metan ini sangat besar perannya menyebabkan naiknya gas emisi rumah kaca. Selain itu, pembakaran yang tidak terkelola, juga akan menghasilkan emisi CO2, dioksin, dan furan yang berbahaya bagi kesehatan kita,” ungkap Nina dalam Energy Week 2026 di Gedung B.J. Habibie, M. H. Thamrin, Jakarta, (22/9) dirilis Humas BRIN melalui portal web resmi BRIN, baru-baru ini.
Sebagai solusi, BRIN menawarkan alternatif teknologi gasifikasi terkontrol. Proses pengolahan biomassa dan sampah padat (Refuse Derived Fuel/RDF) ini menghasilkan syngas yang mudah terbakar, dengan kandungan gas hidrogen, karbon monoksida, dan metana. Melalui sistem ini, potensi lepasnya gas metana dan CO2 dari tumpukan sampah berkapasitas 150 ton per hari dapat direduksi hingga 90 persen.
Guna memaksimalkan proses tersebut, PRTKE BRIN merancang sistem pemilahan sampah otomatis menggunakan Artificial Intelligence (AI). Pengembangan teknologi pemilahan ini telah menyelesaikan fase pertama dan akan dilanjutkan ke fase kedua dengan penempatan fasilitas di Parepare Sulawesi Selatan.
Selain energi, gasifikasi yang dikembangkan BRIN mampu mengolah limbah plastik pada suhu 1.600 derajat Celcius menjadi Carbon Nanotube (CNT), yaitu sebuah material maju berkinerja tinggi. Dengan demikian, tidak ada sisa limbah yang terbuang dan residu turunan gasifikasi berupa tar dan char (arang) juga berhasil diinovasikan menjadi bahan isolator yang performanya setara dengan komposit komersial.
Dalam rangka menekan laju pemanasan global dari sektor industri besar, BRIN memperluas inovasinya pada teknologi penangkap emisi karbon. Terdapat dua inovasi utama yang tengah dikembangkan, yakni teknologi Calcium Looping yang bekerja sama dengan University of Waterloo, Kanada, serta Direct Air Capture (DAC) berbasis solvent ramah lingkungan yang berhasil dikembangkan bersama Universitas Indonesia (UI).”Calcium looping ini bisa menangkap CO2 sampai 90 persen. Ini untuk industri semen, karena itu adalah sektor yang masalah emisinya bukan hanya dari bahan bakar, tapi juga dari perubahan kalsium karbonat (CaCO3) menjadi kalsium oksida (CaO). Di tahun depan kita juga sedang mencari industri yang akan menerapkan dan memodifikasikan calcium looping ini,” papar Nina.
Urgensi penanganan sampah ini turut dikhawatirkan oleh praktisi industri dari PT CCEPC Environment Protection and Energy Comprehensive Utilization Indonesia, Daffa Khairi. Ia menekankan bahwa penerapan teknologi pengolahan sampah menjadi energi (PSEL) atau Waste to Energy (WtE) telah menjadi kebutuhan mendesak di tengah minimnya pengelolaan sampah.
“Mengapa ada urgensi untuk pengelolaan sampah menjadi energi? Karena pengelolaannya hampir 50 hingga 65 persen belum dilakukan secara penuh. Kita tetap perlu menekankan bahwa tujuan utama dari PSEL ini adalah untuk mengelola sampah. Energi listrik yang dihasilkan itu hanya sebagai nilai tambah,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga memaparkan bahwa fasilitas semacam ini sangat fleksibel dan adaptif terhadap berbagai jenis limbah. Pendekatan industri sangat selaras dengan visi inovasi pengolahan biomassa dan sampah padat yang dikembangkan BRIN.
Teknologi gasifikasi ini dipamerkan secara terbuka kepada publik. Simulasi sistem yang memanfaatkan combustor dan ventilator tekanan tinggi tersebut saat ini dapat dilihat langsung oleh masyarakat maupun mitra industri pada 22–24 September 2026 di Lobi Gedung B.J. Habibie, Jl. M.H. Thamrin, Jakarta Pusat.














