Jakarta, Itech- Berdasarkan riset dari Gartner, layanan komputasi cloud diharapkan meningkat tiga kali lipat dari USD 23.3 miliar di tahun 2016 menjadi USD 68.4 miliar di tahun 2020, sehingga menjadikan cloud infrastruktur adalah area pertumbuhan yang baru.
Riset dari Oracle mengungkapkan hal yang serupa, di mana sebagian dari perusahaan di Asia Pasifik setuju bahwa infrastruktur cloud mempengaruhi bisnis mereka dalam tiga tahun ke depan. Namun, banyak yang belum benar-benar menentukan strategi cloud mereka, terutama mengenai bagaiamana menjalankannya.
“Setiap perusahaan itu unik dan memiliki beban kerja yang berbeda. Karena itulah tiap perusahaan membutuhkan infrastruktur yang berbeda, tergantung dari strategi perusahaan itu sendiri,” kata Chin Ying Loong, Vice President, Oracle Fusion Middleware, ASEAN dan SAGE. “Ada perusahaan yang membutuhkan software-as-a-service atau SaaS untuk sistem CRM atau HR mereka, ada juga yang membangun model bisnisnya dengan mengembangkan aplikasi di platform-as-a-service atau infrastructure-as-service.”
Chin Ying Loong melanjutkan, di dalam perusahaan, fokus tiap bagian pun bisa berbeda-beda. Di bagian bisnis, yaitu divisi Penjualan, Layanan, Pemasaran, HR, dan Keuangan, fokusnya ada pada kecepatan, pelanggan, dan pengalaman pengguna. Untuk bagian IT, ada kriteria tambahan sekitar integrasi, performa sistem, reliabilitas, dan keamanan.
Ditambah lagi, ada kebutuhan untuk model bisnis yang bisa dirombak, seperti komputasi, jaringan, storage, risk modelling, riset dan pengembangan, atau big data crunching. Sebagian besar perusahaan ingin lebih dari sekadar mengakses manfaat ekonomis dengan menjalankan pusat data sendiri. Pada dasarnya, mereka ingin memodernisasi, ingin mengambil kesempatan untuk bertransformasi dan berinovasi. (red/ju)













