ItWorks.id-Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memanfaatkan teknologi berbasis virtual reality untuk menghadirkan pengalaman belajar geologi yang interaktif. Melalui digitalisasi koleksi ilmiah geodiversitas, objek batuan dapat ditampilkan dalam bentuk digital, sehingga pengguna dapat dengan jelas mengenali karakteristiknya melalui pengalaman belajar yang lebih menarik serta interaktif.
Hal tersebut disampaikan Pelaksana Fungsi Pemrosesan Koleksi Ilmiah Batuan, Kawasan Konservasi Ilmiah (KKI) Geodiversitas Sukendar Asikin, Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN, Tri Kukuh Prasetiyo pada webinar (2/11/2026). Ia menjelaskan, koleksi ilmiah geodiversitas, seperti batuan, mineral, fosil, dan tanah, memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai media pendidikan melalui pengembangan teknologi digital.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan sebagai media pendidikan geodiversitas melalui pengembangan teknologi digital adalah mengubah koleksi fisik menjadi model tiga dimensi (3D) melalui proses pemindaian atau scanning. Dari proses tersebut, objek batuan dapat dipresentasikan secara digital dan pengguna dapat melihat secara jelas dari bentuk dan tekstur batuan tersebut.
Tri menjelaskan, model tiga dimensi memberikan pengamatan yang lebih luas dibandingkan gambar dua dimensi. Jika melalui foto, pengguna hanya akan dapat melihat objek dari satu sisi saja, namun dengan model 3D memungkinkan objek dilihat dari berbagai sudut hingga 360 derajat. “Kalau gambar, kita hanya mengamati dari satu sisi, ketika menggunakan model tiga dimensi kita bisa mengamati secara 360 derajat,” jelasnya dirilis Humas BRIN melalui portal web resmi BRIN, baru-baru ini.
Model digital tersebut selanjutnya dapat dimanfaatkan dalam berbagai media pembelajaran, seperti presentasi, situs web, Content Management System (CMS), maupun Learning Management System (LMS). Pengguna juga dapat berinteraksi dengan objek melalui fitur memutar, menggeser, dan membesarkan tampilan untuk mengamati detail koleksi.
Lebih lanjut dijelaskan perbedaan pemanfaatan teknologi Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR). Pada AR, objek digital ditambahkan ke dalam lingkungan nyata, sedangkan VR membawa pengguna masuk ke dalam lingkungan digital. Kedua teknologi tersebut dapat menjadi alternatif dalam menghadirkan objek pembelajaran yang lebih menarik.
Pemanfaatan teknologi ini juga dapat menjadi solusi ketika pada saat sedang ada pelatihan dan koleksi batuan terlalu besar dan berat untuk di bawa ke kelas. Melalui pemanfaatan teknologi digital, objek tersebut dapat dihadirkan sebagai materi pembelajaran tanpa harus memindahkan benda aslinya.
Namun, pengembangan media pembelajaran tidak hanya bergantung pada teknologi yang digunakan. Tri menekankan pentingnya penyusunan materi multimedia yang menggabungkan teks, gambar, audio, video, dan animasi secara tepat agar informasi dapat diterima dengan lebih mudah.
Lima Prinsip
Ia memaparkan lima prinsip pembelajaran multimedia, yaitu penggunaan kombinasi kata dan gambar, menghilangkan elemen yang tidak relevan, memberikan penanda pada informasi penting, menempatkan teks berdekatan dengan gambar yang berkaitan, serta menyajikan informasi kompleks secara bertahap.
Ia menekankan penyajian materi pembelajaran perlu memperhatikan kombinasi elemen visual dan verbal agar informasi mudah dipahami. Salah satunya melalui penggunaan teks yang dilengkapi gambar untuk membantu pengguna memahami objek yang dipelajari.“Orang belajar lebih baik dengan kata-kata plus gambar daripada kata-kata saja,” ungkap Tri.
Selain itu, pemanfaatan media digital diharapkan dapat mendukung pembelajaran mandiri. Melalui perangkat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti smartphone, pengguna dapat memperoleh informasi mengenai koleksi ilmiah ketika membutuhkannya.














