ItWorks.id- Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan menegaskan komitmennya dalam meningkatkan berbagai layanan kepabeanan dan cukai melalui pemanfaatan teknologi digital, termasuk smart technology, seperti teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) secara terpadu. Hal itu ditegaskan Direktur Informasi Kepabeanan dan Cukai (IKC), Rachmad Solik, S.Sos., M.M., saat presentasi dalam ajang penjurian “TOP Digital Awards 2026” yang dihelat Majalah ItWorks melalui presentasi bertajuk “CEISA 4.0: Transformasi Digital Bea Cukai Menuju Kepabeanan Cerdas dan Terpercaya”.
Dalam paparannya, Rachmad Solik menjelaskan bahwa transformasi digital di tubuh Bea Cukai terus berevolusi dari era sistem terfragmentasi di masa lalu, menuju ekosistem kepabeanan yang terintegrasi secara nasional yang saat ini dilakukan melalui platform CEISA 4.0 (Customs-Excise Information System and Automation). Melalui inovasi yang terus dilakukan pada CEISA, Bea Cukai berkomitmen untuk menghadirkan fasilitas layanan yang mudah, modern, cepat dan transparan bagi masyarakat.
“Sejak pertama dikembangkan tahun 2019, sistem aplikasi digital CEISA terus kita perkuat dengan inovasi baru, yang kini menjadi CEISA 4.0 (Customs-Excise Information System and Automation). Transformasi CEISA 4.0 diperkuat dengan teknologi mutakhir, scalable untuk mendukung layanan kepabenanan berstandar global yang memiliki kemampuan untuk perkuat integrasi layanan, kolaborasi melalui API, serta pemanfaatan data kepabeanan terintegrasi untuk mendukung kelancaran ekosistem perdagangan dan logistik dengan siatem layanan yang makin mudah, cepat dan transparan,” ungkap Rachmad Solik, S.Sos., M.M. dalam sesi penjurian secara daring (04/11/2026).
Turut hadir dari Bea dan Cukai dalam wawancara penjurian ini, di antaranya Rahmad Hindardi, Sekretaris Direktur IKC, Muslim Kholid Arifin, Kasubdit SPSI, Purwadi, Kasubdit PKIMLE, Dartono, Kasi PTKKTI, Hotmauli Simamora, Kasi AAKTI, Tedy Iskandar, Kasi ALD, Shinjiro Rachmad Fadly, Fungsional Mahir dan tim lainnya (Rika, Seven Siregar, Faisal Amri, Adi Surya Aulia Rahman, dan Mugi A). Sedangkan Tim Juri penilai terdiri Prof.DR Satya Arinanto (Guru Besar FH Universitas Indonesia), DR. Melani K Harriman (Ceo Melani K Harriman & Associate), Nurul Yakin Setyabudi (Ketua IDTUG-BPSK DKI), serta Febrizal Efendi (ASPILUKI -KADIN) yang dimoderatori oleh Ahmad Chury, Managing Editor ItWorks.id (MSI Group).
Ditjen Bea dan Cukai Kemenkeu merupakan instansi yang melayani masyarakat dalam bidang Kepabeanan dan Cukai. Kepabeanan sendiri memiliki definisi segala sesuatu yang berhubungan dengan pengawasan atas lalu lintas barang yang masuk atau keluar daerah pabean serta pemungutan bea masuk dan bea keluar. Sedangkan cukai memiliki definisi pungutan negara yang dikenakan terhadap barang-barang tertentu yang mempunyai sifat atau karakteristik yang ditetapkan dalam Undang-undang Cukai. Bahkan DJBC juga banyak menjalankan peran yang lebih luas, termasuk mendukung pelaku UMKM melalui pendampingan dan dukungan pelatihan agar pelaku usaha ini bisa meningkatkan usaha melalui kegiatan ekspor.
Secara umum, Ditjen Bea Cukai menjalankan 4 fungsi utama, yaitu Trade Facilitator yaitu memberikan fasilitasi perdagangan melalui berbagai upaya strategis. Industrial Assistance mendukung industry yang ada di dalam negeri dengan membantu meningkatkan daya saing. Community Protector yang berarti DJBC berperan sebagai aparatur pengawasan lalu lintas barang dalam rangka melindungi kepentingan masyarakat dan pelaku usaha dalam negeri melalui upaya-upaya pencegahan dan perlindungan. Selain itu juga fungsi untuk Revenue collector yaitu mengadministrasikan penerimaan negara dalam bentuk Bea Masuk, Bea Keluar, Pungutan dalam rangka impor dan lainnya.
Guna mendukung optimalisasi dalam menjalankan tugas dan fungsinya di bidang pengawasan, pelayanan, dan optimalisasi penerimaan negara, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) membangun sistem teknologi informasi utama yang bernama CEISA yangtelah bertransformasi menjadi CEISA 4.0, sebuah platform digital berbasis cloud yang mengusung prinsip terpusat (centralized), terintegrasi (integrated), otomatis (automated), kolaboratif, dan berbasis data (data-driven).
CEISA 4.0 menyediakan interkoneksi langsung dengan sistem ERP perusahaan, sistem logistik nasional (LNSW), serta instansi pemerintah lainnya guna mempercepat validasi dokumen. “Penerapan teknologi informasi ini bertujuan untuk memotong birokrasi, mempercepat waktu logistik (dwelling time), menekan potensi fraud, serta menciptakan transparansi penuh dalam ekosistem perdagangan internasional Indonesia,” terangnya.
Inovasi “Trade AI” dan Delapan Agen Pintar End-to-End
Salah satu sorotan utama dalam presentasi tersebut adalah penerapan Trade AI—sebuah langkah strategis untuk mengubah data kepabeanan menjadi intelijen yang andal guna mengoptimalkan pengawasan sekaligus memfasilitasi perdagangan.
Trade AI didukung oleh delapan agen AI (AI Agents) yang bekerja secara end-to-end dalam proses penelitian kepabeanan, meliputi:
- Agent Analisis Pasar & Harga: Mengambil nilai wajar (Fair Value) secara real-time dari berbagai marketplace terkemuka untuk menguji konsistensi harga.
- Klasifikasi HS Code: Mengidentifikasi kode HS secara akurat berdasarkan atribut semantik dan karakteristik produk.
- Validasi Dokumen & AI Matching: Memastikan konsistensi serta keakuratan dokumen perdagangan dan invoice guna mendeteksi potensi kecurangan (fraud).
- Analisis X-Ray & Logistik Cargo: Memindai kontainer untuk mendeteksi un-manifest, anomali densitas, serta memastikan kargo cocok secara logis dengan berat dan kapasitas kontainer.
- Risk Profiling & Analisis ECOO: Memetakan hubungan jaringan perusahaan (graph analysis) serta memverifikasi asal barang (Certificate of Origin) secara elektronik.
- Inspeksi Barang & Smart PCC: Mempercepat proses pemeriksaan fisik secara mobile serta mendukung targeting perusahaan audit secara presisi.
Inovasi berbasis AI ini terbukti memberikan dampak nyata bagi negara. Berdasarkan data perbandingan, pemanfaatan Trade AI berhasil mendongkrak penerimaan negara dari sektor terkait hingga mencapai Rp1,8 triliun dengan peningkatan nilai Surat Penetapan Tarif dan Nilai Pabean (SPTNP) per dokumen.
Penguatan Tata Kelola, Keamanan Siber, dan Apresiasi Nasional
Tidak hanya berfokus pada layanan operasional dan otomasi proses bisnis, DJBC juga menempatkan aspek keamanan siber dan tata kelola (digital trust) sebagai fondasi utama. Kematangan Keamanan Siber (IKAS) Bea Cukai tercatat berada di Level 4 (Terkelola), melampaui target nasional yang ditetapkan BSSN (level 3.0). Keandalan sistem ini juga dibuktikan dengan diraihnya sejumlah penghargaan bergengsi pada September 2026, di antaranya penghargaan GovCyber Innovator of the Year (Indosec Award 2026) serta Public Sector Reasoning AI Award (Dataiku Summit 2026) yang diterima langsung oleh Rachmad Solik.
Keberhasilan transformasi digital ini tidak lepas dari strategi pengembangan kapabilitas sumber daya manusia (SDM) yang solid. Dengan dukungan demografi pegawai yang didominasi oleh generasi muda yang melek teknologi (Gen Y dan Gen Z) serta latar belakang pendidikan IT yang kuat, DJBC terus memastikan budaya kerja yang adaptif, inovatif, dan berorientasi pada kepuasan pengguna jasa.
Melalui peta jalan (IT Blueprint) 2025–2029, Bea Cukai optimis dapat terus mewujudkan layanan kepabeanan dan cukai yang cepat, mudah, efisien, serta mampu mengoptimalkan penerimaan negara demi mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berdaya saing global.
Adapun TOP Digital Awards 2026 merupakan ajang penilaian, pembelajaran dan penghargaan tahunan di Indonesia yang diselenggarakan oleh majalah IT Works untuk mengapresiasi instansi pemerintah, korporasi, serta lembaga yang sukses mengimplementasikan teknologi informasi, transformasi digital, serta Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). Penilaian tahun ini dan sesuai tema yang diangkat, yakni berfokus pada pemanfaatan teknologi digital, tata kelola TIK yang terintegrasi, penerapan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI) yang bertanggung jawab, serta keamanan siber dan perlindungan data pribadi.














