Indonesia memiliki sumber energi yang sangat beragam dalam jumlah yang melimpah untuk dikembangkan sebagai bahan bakar alternatif. Oleh karena itu, semestinya bukan hal yang sulit untuk memperbesar pangsa pasokan energi tebarukan dalam bauran energi nasional.
Di masa mendatang, ada dua isu utama yang terkait dengan produksi energi yaitu bahan bakar bersih dan efisiensi yang lebih tinggi dalam proses konversi. Karena itu, dalam hal ini, teknologi memegang peran penting dalam keberhasilan pengembangan bahan bakar alternatif. Saat ini konsumsi LPG domestik mencapai sekitar 47,2 juta Barrel Oil Equivalent (BOE). Dalam kurun waktu 17 tahun mendatang, konsumsi LPG diprediksi akan tumbuh dengan kecepatan rata-rata 4 persen per tahun, lebih tinggi dari pertumbuhan produksi LPG sebesar 2,6 persen per tahun.
BPPT dalam beberapa tahun terakhir menurutnya telah mengembangkan aktivitasnya dalam produksi bahan bakar alternatif, terutama yang difokuskan pada bahan bakar nabati (BBN), bahan bakar sintetis dari batubara cair, Compressed Natural Gas (CNG) dan DME. Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi dan Material, Unggul Prijanto menyebut bahwa DME dapat diproduksi dari sumber bahan baku yang beragam, mencakup gas alam, biomassa dan batubara.
Penggunaan DME mencakup sebagai bahan bakar ramah lingkungan, serta bahan baku kimia. Potensi pasar DME sangat besar, sehingga memungkinkan terciptanya industri dalam rantai suplainya. BPPT telah melakukan kajian kelayakan dalam pemanfaatan DME sebagai pengganti LPG di sektor rumah tangga dan transportasi di Indonesia.
Meski demikian, DME menghadapi beberapa masalah global yang mencakup antara lain tingkat keekonomian yang kompetitif dalam pasar bahan bakar, kemitraan strategis di antara industri terkait, dan diterbitkannya standar mengenai DME. Dimana saat ini produksi DME masih dipimpin oleh negara-negara di wilayah Asia seperti Jepang, Cina, Korea dan Iran. (*/)














