Saat ini adalah era pembayaran digital atau e-wallet. Kita tidak perlu lagi membawa uang cash untuk melakukan pembayaran berbagai aktivitas kita sehari-hari. Cukup tempel atau gesek, beres sudah. Mudah, cepat, dan aman itulah yang diinginkan masyarakat terutama kalangan milenial. Bagi suatu negara, pembayaran digital dapat memberikan manfaat diperolehnya efisiensi dalam perekonomiannya. Juga mendukung terciptanya ketahanan sistem pembayaran nasional.
Penyedia layanan e-wallet ada yang kelas internasional seperti Paypal, Amazon Pay dan Alipay. Untuk yang lokal ada OVO, Gopay, dan Dana.
Satu yang baru saja diluncurkan pada 30 Juni 2019 lalu adalah LinkAja dari PT Fintek Karya Nusantara (Finarya), start up anak perusahaan Telkomsel. Ada 7 BUMN yang ikut membidani lahirnya LinkAja yaitu: Telkomsel, Bank Mandiri, BRI, BNI, BTN, Pertamina, dan Jiwasraya.
“LinkAja adalah e-money asli Indonesia. Merupakan gabungan semua pemain e-money dari perusahaan BUMN besar, dari sektor perbankan maupun telekomunikasi Seperti Bank Mandiri e-cash, Telkomsel t-cash, t-bank dari BRI Finpay, t-money dari Telkom dan UnikQu dari BNI. Jadi bisa dibilang LinkAja adalah Dari dan Untuk Indonesia,” kata Benny B.A, New Product Development PT Fintek Karya Nusantara (Finarya) di sesi Presentasi dan Wawancara dengan Dewan Juri TOP DIGITAL Awards 2019 di Jakarta, Rabu 16 Oktober 2019.
LinkAja adalah produk teknologi finansial berupa aplikasi yang dapat diunduh di Google Play dan App Store. Cara pembayaran menggunakan QR code di merchant offline dan menggunakan PIN dan/atau OTP untuk pembayaran e-commerce.
Di sisi pembayaran, LinkAja ingin membuat ekosistem yang holistik yaitu mempermudah dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat Indonesia.
“Dari peta pasar, ada e-money yang mengkhususkan pada segmen-segmen tertentu, seperti lifestyle. Namun, LinkAja ingin memanfaatkan ekosistem kebutuhan sehari-hari manusia mulai dari bangun tidur bahkan sampai tidur lagi. Seperti kebutuhan tempat tinggal, kesehatan, pendidikan, transportasi, komunikasi, makanan, dll. Semua itu bisa dilakukan dengan satu aplikasi yaitu LinkAja. Jadi fokus kita di tahun pertama ini adalah menyasar ekosistem kebutuhan sehari-hari, yang diharapkan dengan proses cashless bisa mempermudah masyarakat,” jelas Benny.
Ditambahkannya, bersatunya berbagai platform itu juga untuk efisiensi dan mendukung ketahanan sistem pembayaran nasional.
Mengutip data Bank Indonesia, nilai transaksi uang elektronik mencapai Rp 47,2 triliun pada 2018, naik 281 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara jumlah transaksi mencapai 2,9 miliar pada 2018, tumbuh 210 persen dari 2017.
Dalam jangka panjang, bukan tidak mungkin LinkAja akan jadi Unicorn baru kebanggaan anak bangsa.
Penulis: Miroji














