Jakarta, ItWorks: Ruang siber terbentuk karena adanya sistem elektronik yang terhubung dengan internet dengan beragam kepentingan, meliputi sektor Pemeritah, BUMN, Infrastruktur Kritis Nasional dan para pengguna internet lainnya. Kian meningkatnya penggunaan internet di satu sisi memiliki risiko dengan kian masifnya ancaman serangan siber yang kini menjadi isu utama pengguna internet di berbagai belahan dunia.
Indonesia dengan jumlah pengguna internet yang terus meningkat, juga tak luput dari ancaman ini. Menurut Data Laporan Serangan Siber Tahun 2019 yang dikeluarkan oleh Pusat Operasi Keamanan Siber Nasional BSSN, terdapat lebih dari 296 juta percobaan serangan siber ke Indonesia. Berdasarkan metoda serangannya, jenis serangan yang terbesar adalah percobaan pembocoran informasi dengan jumlah 158 juta serangan, kemudian diikuti oleh trojan-activity melalui penyebaran malware di dalam jaringan yang mencapai 120 juta serangan.
Demikian diungkapkan Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Hinsa Siburian saat memberikan paparan dalam Ceramah Pembekalan Perwira Dikreg LVIII SESKOAD TNI 2020 secara virtual dari kantor Ragunan, Jakarta Selatan, pada (18/6) dilansir Bagian Komunikasi Publik, Biro Hukum dan Kerjasama – BSSN, baru-baru ini. Kegiatan diikuti oleh Komandan SESKOAD Mayjen TNI Kurnia Dewantara, 445 peserta Pasis TNI, serta pejabat di lingkungan SESKOAD.
Dalam kesempatan tersebut, Hinsa memaparkan berbagai hal terkait dengan Cyber Warfare dan pengelolaan keamanan ruang siber Indonesia. Dalam paparannya, Hinsa mengatakan generasi peperangan telah sampai pada perang generasi kelima. Peperangan yang dulunya bersifat fisik sudah mengalami perubahan dari waktu ke waktu seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Saat ini merupakan generasi perang informasi, teknik perang ini dinilai lebih efisien dan relatif murah dibandingkan dengan bentuk-bentuk perang generasi sebelumnya. “Perang informasi menggunakan teknologi informasi dan komunikasi yang bersifat nonfisik namun langsung menyerang infrastruktur kritis dan Center of Gravity,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Hinsa juga menjelaskan keberadaan BSSN yang merupakan lembaga negara yang disiapkan oleh Presiden menjadi badan koordinasi tertinggi pemegang komando pada domain siber. BSSN mempunyai tanggung jawab sebagai penopang utama keamanan ruang siber bagi instrumen kekuatan nasional lainnya yaitu, militer, intelijen, diplomasi, penegakan hukum, informasi, finansial dan ekonomi.
Menutup paparan, Hinsa meyampaikan ancaman yang paling nyata sekarang ini adalah serangan dalam bentuk serangan siber. Dalam tataran itulah lanjutnya, peranan TNI Angkatan Darat dituntut hadir. “Adik-adik saya sekalian yang nanti akan dilantik tanggal 27 Juni 2020, jadilah perwira perekat persatuan dan kesatuan bangsa, jadilah sosok yang dapat memberikan rasa aman pada seluruh warga negara Indonesia. Sehingga kepentingan nasional yaitu: keamanan nasional, pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan nasional dapat terwujud,” pungkasnya. (AC)














