Dalam riset terbarunya, Morgan Stanley melihat peluang Indonesia bisa menjadi negara berbasis ekonomi digital terbesar di dunia.
Lembaga ini menjabarkan beberapa alasan mengapa Indonesia sangat matang untuk pertumbuhan ekonomi digital.
Pertama, besarnya populasi usia produktif di Indonesia. Hal ini berdasarkan data pada tahun 2019, populasi di Indonesia sebanyak 270 juta jiwa dengan 50 persennya berada dalam rentang usia di bawah 30 tahun.
Kedua, rendahnya jumlah populasi yang memiliki rekening bank. Melansir Bain, hanya sekitar 23 persen orang dewasa di Indonesia yang memiliki akses memadai ke layanan dan produk keuangan per tahun 2018.
Penetrasi kartu kredit pun juga dinilai rendah. Hingga Juli 2020, hanya tercatat sekitar 6 persen yang memiliki kartu kredit. “Sehingga ini, menjadi peluang bagi masuknya platform kartu kredit virtual (PayLater) untuk mendapatkan pangsa pasar di Indonesia,” ujar Morgan Stanley.
Ketiga, tingginya penetrasi gawai cerdas. Menurut data dari Statista, hingga akhir 2019, penetrasi gawai cerdas sudah mencapai 63 persen dan bahkan diprediksi bisa mencapai 89 persen di tahun 2025.
Riset Statista juga mengungkap meski penetrasi gawai cerdas sudah tinggi, tapi penetrasi broadband baru 15 persen. Ini berarti, akses internet untuk orang Indonesia sangat bergantung pada gawai cerdas.
Keempat, penggunaan teknologi seluler yang tinggi. Menurut laporan dari Google, Temasek, dan Bain, rata-rata orang Indonesia lebih terlibat dengan teknologi seluler daripada negara-negara di Asia lainnya.
“Orang Indonesia menghabiskan 4,5 jam sehari di ponsel mereka, lebih tinggi dibandingkan orang India yang hanya 3,75 jam sehari, orang China 3,3 jam, dan penggunaan rata-rata orang di dunia yang sebesar 3,2 jam per hari,” tulis riset itu.
Baca: Menkominfo: “Startup Berinovasi Memperkuat Ekosistem Ekonomi Digital di Indonesia”














