ItWorks
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
ItWorks
No Result
View All Result

Studi: 4 dari 10 Pasien Khawatir Masalah Supply Chain di Industri Farmasi

Fauzi
16 December 2021 | 10:00
rubrik: Business Solution, Research
Studi: 4 dari 10 Pasien Khawatir Masalah Supply Chain di Industri Farmasi
Share on FacebookShare on Twitter

Zebra Technologies Corporation merilis temuan-temuan menarik dari Pharmaceutical Supply Chain Vision Study. Penelitian ini mendapati adanya ketidakpercayaan pasien terhadap obat yang mereka terima dan segmentasi di dalam supply chain farmasi, termasuk pihak yang memproduksi, mendistribusikan, meresepkan dan mengeluarkan obat-obatan tersebut. Sebanyak 43 persen pasien mengatakan takut akan timbulnya penyakit lain dan/atau kematian yang disebabkan oleh obat yang sudah terkontaminasi atau tercemar, tanpa adanya upaya untuk memperbaiki supply chain.

Melihat Sumber Ketakutan Pasien dan Obat-obatan Mereka
Efikasi dan keamanan obat ada di urutan pertama bagi pasien, di mana 3 dari 4 pasien menyatakan mereka agak atau sangat khawatir terhadap ketidakefektifan obat dalam mengobati kondisi atau penyakit mereka. Dan 7 dari 10 pasien khawatir saat menerima:

  • Dosis obat yang tidak sesuai karena kesalahan dalam pelabelan, dan bahaya yang bisa mengintai mereka
  • Obat hasil pencurian, terkontaminasi, tercemar, kadaluarsa, atau palsu
  • Obat yang tidak ditangani/disimpan dengan benar selama masa transit dan kemungkinan mengalami kerusakan atau efikasinya hilang.

Pasien tahu bahwa supply chain yang di bawah standard akan berisiko pada kualitas obat dan efikasinya. Pasien ingin lebih diyakinkan bahwa obat yang mereka konsumsi aman dan asli. Sebanyak 9 dari 10 pasien mengatakan akan cukup atau sangat penting jika mereka bisa memverifikasi keaslian obat yang diberikan kepada mereka, memastikan bahwa obat tidak dirusak dan memastikan bahwa obat yang sensitif terhadap suhu tetap disimpan di kisaran suhu yang disarankan

Menurut survei ini, pasien juga mengharapkan produsen obat menunjukkan cara mereka memproduksi/menangani obat (81 persen) dan pengangkutan/penyimpanan obat (82 persen). Sebanyak 80 persen mengatakan penting untuk memverifikasi sumber bahan-bahan obat, termasuk negara asal dan standar lokal obat itu sendiri. Selain itu, 79 persen dari responden mengatakan ingin tahu obat mereka berasal dari sumber yang berkelanjutan dan mengkonfirmasi bahwa produsennya menggunakan teknik yang memperhatikan kelestarian lingkungan, perlindungan hewan dan komunitas manusia, serta kesehatan masyarakat.

BACA JUGA:  Kejahatan Keuangan Model Money Mule Diprediksi Meningkat di 2020-2021

“Meskipun pemenuhan standar regulasi adalah fokus para pemimpin industri farmasi, perubahan demand pasien ini menunjukkan bahwa ada banyak hal yang harus dilakukan,” ucap Christanto Suryadarma, Southeast Asia (SEA) Sales Vice President, Zebra Technologies Asia Pacific. “Penting sekali adanya kerja sama dari manufaktur, instansi pemerintah, farmasi, dan layanan kesehatan, untuk meraih kepercayaan konsumen terhadap supply chain.”

Penelitian ini menunjukkan bahwa industri farmasi harus bekerja lebih keras untuk membuktikan bahwa mereka menempatkan kepentingan pasien di urutan teratas, apabila mereka ingin mendapatkan kepercayaan dan kesetiaan konsumen dalam skala besar.

Pasien Meminta Transparansi dan Dapat Dipertanggungjawabkan
Lebih dari 8 dari 10 pasien setuju bahwa pemerintah/regulator dan perusahaan farmasi harus bekerja sama dengan lebih baik lagi untuk melindungi pasien dan memastikan obat yang mereka terima aman dan efektif. Dan lebih dari 40 persen pasien serta pembuat keputusan dalam industri farmasi mengatakan bahwa regulator, perusahaan farmasi dan produsen memiliki tanggung jawab paling besar untuk memerangi obat palsu, pencurian obat dan obat terkontaminasi. Namun, tanggung jawab untuk menerapkan protokol keamanan yang terpercaya ada di pundak mereka yang memproduksi, merilis, dan mengedarkan obat, di mana 57 persen pasien menganggap beban terbesar ada di pundak rumah sakit.

“Sangat penting bagi industri farmasi di Asia Pasifik untuk memastikan ada peningkatan dalam traceability dan transparansi di seluruh supply chain,” kata Aik Jin Tan, Vertical Solutions Lead, Zebra Technologies Asia Pacific. “Dengan bantuan transparansi yang technology-driven, kekhawatiran mengenai kualitas dan kontrol temperatur, obat yang tepat maupun obat yang di bawah standar, bisa diatasi dan hasilnya adalah terciptanya kepercayaan dalam jangka panjang.”

Mayoritas dari pembuat keputusan dalam industri farmasi (84 persen) merasa bahwa mereka siap mematuhi mandat traceability dan transparansi. Sebanyak tiga perempat menegaskan mereka sudah menggunakan teknologi location service atau berencana untuk menggunakannya pada tahun depan – langkah yang akan meningkatkan workflow produksi dan tracking obat, mengurangi penyusutan maupun perubahan, serta memberikan visilibilitas dan informasi yang diinginkan oleh pasien.

BACA JUGA:  Dukung UKM Indonesia, AWS Luncurkan Program AWS Lift

Tantangan terbesar yang dihadapi para pemimpin ini adalah memproduksi – dan memindahkan – obat-obatan yang sesuai dengan kebutuhan pasien. Selain penundaan karena masalah regulasi, pembuat keputusan di industri ini mengatakan bahwa mereka juga berurusan dengan batas produksi, distribusi dan masalah penyimpanan, batasan kapasitas pengiriman, dan penundaan transportasi. Sebagai konsekuensi, 92 persen berencana menambah investasi mereka di sektor manufaktur farmasi dan tool pemantauan supply chain pada tahun depan.

Masalah di Point of Sales dan Lainnya
Lebih dari tiga perempat pasien yang disurvei mengatakan mereka pernah menghadapi masalah, baik saat melakukan pembelian atau saat mengonsumsi obat pada masa lalu. Yang mengejutkan, keluhan ini lebih banyak berasal dari generasi millennial (82 persen) dibandingkan generasi boomers (61 persen). Generasi millennial tidak menoleransi kesalahan, dan memiliki kemungkinan dua kali lipat dibandingkan generasi boomer untuk berpindah apotek demi mendapatkan layanan yang bisa memenuhi kebutuhan mereka. Dan 70 persen pasien mengonfirmasikan bahwa mereka pernah beralih ke pemberi resep, apotek atau pemberi obat lain pada masa lalu karena pengalaman yang tidak menyenangkan.

Di antara berbagai masalah yang dialami pasien, masalah isu efek samping yang berat adalah salah satu dari lima masalah terbesar, tapi ini bukan yang teratas:

  1. Obat yang dibutuhkan tidak tersedia atau stok kosong (32 persen)
  2. Hanya menerima sebagian obat karena ketidaktersediaan pada saat itu (29 persen)
  3. Menemukan produk yang sama dengan harga yang lebih rendah di tempat lain (27 persen)
  4. Tidak menerima obat tepat waktu atau saat dibutuhkan (22 persen)
  5. Mengalami efek samping yang parah (21 persen)

Mayoritas kekhawatiran berkepanjangan pasien berpusat pada ketersediaan obat (76 persen), dan kurang pasokan (73 persen). Namun, penyedia obat tidak lepas tangan mengenai masalah keamanan dan efikasi. Sebanyak 85 persen pasien mengatakan semua apotek harus memonitor obat yang dijual, termasuk apotek yang menerima pesanan lewat jasa delivery.

BACA JUGA:  2 Perangkat Zebra Technologies Ini Sabet Penghargaan Desain

“Zebra memiliki portofolio solusi yang dapat membantu mentransformasi supply chain di industri farmasi, seperti TC52ax, TC52ax-HC, L10ax, VC8300, RFD40, dan ZD621,” kata Tan menambahkan.

Temuan Penting Berdasarkan Kawasan
Asia Pasifik (APAC): Lebih dari tiga perempat pasien mengatakan perlu lebih banyak regulasi yang mengatur tentang farmasi, dan hampir semua (95 persen) pembuat keputusan mengatakan dibutuhkan kerja sama yang lebih baik antara pemerintah/ regulator dan perusahaan industri farmasi untuk melindungi pasien, tertinggi di antara semua kawasan.

Eropa: Hanya 64 persen pasien dan 74 persen pembuat keputusan industri setuju bahwa pengiriman langsung ke pasien melalui jasa delivery adalah cara yang mudah dan secara konsisten adalah cara yang aman untuk menerima obat – terendah dibandingkan semua kawasan.

Amerika Latin: Pasien di Amerika Latin memiliki toleransi paling rendah terkait masalah obat mereka, dibandingkan dengan kawasan lain, di mana 87 persen melaporkan bahwa mereka pernah mengganti apotek, penyedia atau obat mereka karena pengalaman yang tidak menyenangkan.

Amerika Utara: Pasien di Amerika Utara adalah yang paling sedikit tahu mengenai traceability farmasi, hanya 33 persen yang mengatakan mereka agak, atau sangat mengetahui konsep ini.

Tags: Zebra
Previous Post

Dirjen Aplikasi Informatika: “TOP Digital Awards Selaras dengan Kebijakan Pemerintah yakni Percepatan Transformasi Digital”

Next Post

Webinar TOP Digital Awards 2021: Kemendikbud Ristek Tegaskan Data dan Teknologi Informasi ‘Backbone’ Tata Kelola Pendidikan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP DIGITAL AWARDS

TOP Digital Awards 2026: Aplikasi SITUNTAS, Inovasi Andalan PA Jakpus Tingkatkan Layanan Masyarakat

TOP Digital Awards 2026: Aplikasi SITUNTAS, Inovasi Andalan PA Jakpus Tingkatkan Layanan Masyarakat

Ahmad Churi
22 September 2026 | 16:46

TOP Digital Awards 2026: Angkasa Pura Dorong Penerapan AI Efektif & Efisien Selaras Prinsip GCG

TOP Digital Awards 2026: Angkasa Pura Dorong Penerapan AI Efektif & Efisien Selaras Prinsip GCG

Fauzi
17 September 2026 | 23:06

TOP Digital Awards 2026: Transformasi Digital Pengadilan Agama Soreang, Permudah Akses Layanan bagi Pencari Keadilan

TOP Digital Awards 2026: Transformasi Digital Pengadilan Agama Soreang, Permudah Akses Layanan bagi Pencari Keadilan

Fauzi
11 September 2026 | 22:31

TOP Digital Awards 2026: Transformasi Digital Mitra Tours Dorong Efisiensi dan Pertumbuhan Bisnis

TOP Digital Awards 2026: Transformasi Digital Mitra Tours Dorong Efisiensi dan Pertumbuhan Bisnis

Ahmad Churi
11 September 2026 | 22:27

MSI Group Kembali Gelar Ajang Corporate Rating TOP Digital Awards 2026

MSI Group Kembali Gelar Ajang Corporate Rating TOP Digital Awards 2026

Fauzi
10 September 2026 | 13:18

Load More

TERPOPULER

  • Huawei Kenalkan Lini Smartwatch Terbaru

    Huawei Kenalkan Lini Smartwatch Terbaru

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penawaran Surat Utang Sebesar US$350 Juta Dengan Jangka Waktu 5 Tahun PT Tower Bersama Infrastructure Tbk

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Agoda Rilis AI Developer Report 2026, Ini Hasilnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • RELEX Solutions Mengakuisisi Optimity

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
iklan bni

ICT PROFILE

Google Cloud Tunjuk Karim Siregar Jadi Country Director untuk Indonesia

Google Cloud Tunjuk Karim Siregar Jadi Country Director untuk Indonesia

Fauzi
23 June 2026 | 14:43

Google Cloud menunjuk Karim Siregar sebagai Country Director untuk Indonesia. Karim akan memimpin operasional dan strategi pasar Google Cloud di...

Transformasi Digital Kian Gencar, Akamai Luncurkan Akamai Connected Cloud dan Layanan Baru

Tunjuk Fiona Zhang, Akamai Perkuat Strategi Channel-First Kawasan APJ

Fauzi
8 April 2026 | 16:26

Akamai menunjuk Fiona Zhang sebagai Wakil Presiden Regional Bidang Penjualan dan Program Saluran untuk kawasan Asia-Pasifik dan Jepang. Penunjukan Fiona...

EXPERT

Adopsi AI Makin Tinggi, Keamanan Siber Harus Diperkuat

Adopsi AI Makin Tinggi, Keamanan Siber Harus Diperkuat

Ahmad Churi
24 September 2026 | 16:30

Oleh: Sheila S. Fauzi Regional Marketing Manager, Concentrix. Dewasa ini perkembangan penggunaan atau adopsi teknologi kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia...

BSSN Dorong Penguatan Sandiman Tanggulangi Rantai Kejahatan Siber

BSSN Dorong Penguatan Sandiman Tanggulangi Rantai Kejahatan Siber

Ahmad Churi
2 September 2026 | 10:17

ItWorks.id- Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mendorong penguatan peran fungsional sandiman dalam menghadapi kejahatan siber yang semakin kompleks dan...

TIK TALKS

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

redaksi
16 August 2022 | 15:30

Di masa akan datang banyak aplikasi yang akan membutuhkan low latency connectivity. Lalu apa kaitannya dengan Edge DC yang hadir...

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

redaksi
15 August 2022 | 12:30

Bagaimana cara mengolah Big Data sehingga dapat divisualisasikan, serta bagaimana dapat melakukan analitik dan dapat memprediksikan apa yang harus dilakukan...

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Itworks - Inspire Great & Telco for Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto