ItWorks-PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (Maybank Indonesia atau Bank) mengumumkan kinerja keuangan konsolidasian untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Maret 2025. Laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) menguat sebesar 19,4% menjadi Rp727 miliar.
Bank membukukan Laba Sebelum Pajak (PBT) sebesar Rp506 miliar, naik 290,9%. Laba Setelah Pajak dan Kepentingan Non-Pengendali (PATAMI) meningkat sebesar 265,1% menjadi Rp376 miliar setelah pencadangan yang signifikan dibukukan pada triwulan pertama 2024.
Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan, mengatakan bahwa Maybank Indonesia telah memulai tahun 2025 dengan membukukan profitabilitas secara year-on-year yang solid didorong oleh pertumbuhan pembiayaan berkelanjutan pada segmen yang strategis. Selain itu, pencadangan pada triwulan I 2025 dibukukan lebih rendah dibandingkan dengan pencadangan yang dllakukan pada triwulan yang sama tahun lalu.
“Fokus berkelanjutan kami dalam memperkuat kapabilitas Bank telah menghasilkan pertumbuhan bisnis yang konsisten khususnya portofolio pembiayaan ritel, usaha kecil dan menengah, serta pembiayaan korporasi lokal berskala besar. Dalam upaya untuk meningkatkan ketangguhan dan kemampuan kami dalam menggapai peluang pertumbuhan lebih lanjut, secara proaktif kami akan terus meninjau, serta melakukan rebalancing terhadap portofolio pembiayaan agar selaras dengan strategi super growth yang telah ditetapkan,” ujarnya dilansir dalam rilis pers, di Jakarta,belum lama ini.
Iktisar kinerja, antara lain tercatat laba sebelum pajak (PBT) naik 290,9% menjadi Rp506 miliar. Laba setelah pajak dan kepentingan non-pengendali (PATAMI) naik 265,1% menjadi Rp376 miliar. Pendapatan non-bunga (fee-based income) meningkat sebesar 54,3% menjadi Rp571 miliar, didukung pendapatan fee. Global Market (GM) yang naik 309,5% menjadi Rp107 miliar. Non-GM meningkat sebesar 10,2% menjadi Rp464 miliar, didukung oleh solusi wealth management dan asset recovery.
Adapun total kredit yang disalurkan mencapai Rp122 triliun, relatif sama dibandingkan pada Maret 2024. Namun kredit tumbuh pada segmen utama yakni: Pembiayaan ritel dan non-ritel Community Financial Services (CFS), yang tumbuh 10,4% menjadi Rp83,78 triliun. Pembiayaan korporasi Global Banking untuk segmen Large Local Corporates (LLC) naik 31,4% menjadi Rp12,90 triliun. Laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) menguat sebesar 19,4% menjadi Rp727 miliar.
Rasio BOPO (Beban Operasional Pendapatan Operasional) sebesar 87,5% pada Maret 2025 dibandingkan 107,5% pada Maret 2024 dan Cost to income ratio (CIR) sebesar 69,8% pada Maret 2025 dibandingkan 72,2% pada Maret 2024 .Rasio Non-performing loans/NPL membaik dari 2,7% (gross) dan 1,7% (net) pada Maret 2024 menjadi 2,4% (gross) dan 1,5% (net) pada Maret 2025.
Rasio Loan to Deposit/LDR (Bank saja) berada di level 92,0%, Liquidity Coverage Ratio/LCR (Bank saja) berada pada level yang sehat yaitu 168,1% dan Net Stable Funding Ratio/NSFR (Bank saja) sebesar 106,7%. Rasio kecukupan modal (CAR) tetap kuat di level 25,7% dan CET1 di 24,5%.
Selaras dengan strategi super growth, pembiayaan ritel dan non-ritel CFS berbasis Syariah mencatat pertumbuhan sebesar 15,8% menjadi Rp20,98 triliun. Pembiayaan CFS non-ritel Syariah meningkat 25,7% didorong pertumbuhan pada segmen komersial, SME+ dan RSME.
Pembiayaan CFS ritel Syariah juga tumbuh 5,9% ditopang oleh kinerja yang solid pada pembiayaan otomotif Anak Perusahaan dan properti. Aset Perbankan Syariah membukukan kenaikan sebesar 0,7% menjadi Rp41,52 triliun. Ada pun total aset Perbankan Syariah ini berkontribusi sebesar 23,5% terhadap aset Bank (Bank saja).
Platform Digital
Selain melalui sistem konvensional, flatform perbankan digital untuk nasabah ritel juga terus memberikan kontribusi dengan peningkatan yang signifikan. Tercatat, Platform perbankan digital untuk nasabah ritel (M2U) mencatat peningkatan transaksi sebesar 27,7% mencapai 7,2 juta transaksi, sementara platform untuk nasabah korporasi (M2E) juga mengalami kenaikan transaksi sebesar 21,3% mencapai 1,3 juta transaksi.
Bank terus berinvestasi dalam meningkatkan kapabilitas teknologi informasi serta merealisasikan inisiatif strategis yang selaras dengan strategi Maybank Group M25+. Selain itu, Bank juga terus memperkuat kapabilitas SDM-nya sehingga biaya overhead meningkat sebesar 7,1%.
Steffano menegaskan bahwa Maybank Indonesia akan terus mengedepankan pendekatan consumer centric berfokus pada nasabah dalam setiap penyelenggaraan solusi dan layanan Bank sejalan dengan strategi M25+ Maybank Group. Langkah ini diharapkan dapat mendukung terwujudnya nilai tambah dalam jangka panjang bagi para pemangku kepentingan Bank.














