ItWorks.id- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat sinergi dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) riset melalui pembaruan kebijakan beasiswa 2026 dan pengembangan skema Doctor by Research (DbR).
Kepala Organisasi Riset Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat BRIN, Agus Eko Nugroho, mengatakan pendidikan pascasarjana, khususnya jenjang S2 dan S3, menjadi fondasi penting dalam meningkatkan kapasitas dan daya saing periset.“Pendidikan menjadi sangat kritikal untuk kita bisa meningkatkan dan memperkuat potensi kita,” ujar Agus dalam kegiatan Unlock Your Potential: LPDP dan Degree by Research untuk Pegawai BRIN pada (03/09/2026), di KST Sarwono Prawiroharjo, Jakarta, dirilis melalui portal web BRIN, baru-baru ini.
Menurutnya, pendidikan lanjutan tidak semestinya dipandang sebagai tujuan akhir, melainkan pijakan untuk menghasilkan karya dan kontribusi lebih besar di bidang riset.
Sementara itu, Kepala Divisi Kerja Sama dan Pengembangan Beasiswa LPDP, Agam Bayu Suryanto, mengungkapkan sejumlah perubahan kebijakan seleksi beasiswa LPDP 2026. Program beasiswa kini dikelompokkan berdasarkan rumpun ilmu STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) serta SHARE (Social, Humanities, Art, Religious, Education).
LPDP juga memberikan kemudahan bagi pendaftar yang telah memiliki Letter of Acceptance (LoA) unconditional. Pemegang LoA tanpa syarat tersebut tidak perlu lagi menyertakan sertifikat kemampuan bahasa Inggris maupun mengikuti Tes Bakat Skolastik dan dapat langsung mengikuti tahap wawancara.
Untuk studi luar negeri, LPDP juga menerima sertifikat kemampuan bahasa Inggris berbasis Duolingo. Adapun untuk studi di dalam negeri, peserta dapat menggunakan sertifikat dari pusat bahasa perguruan tinggi yang diakui LPDP. Periode pendaftaran juga diperluas dengan tambahan jadwal seleksi di luar gelombang reguler.
Khusus skema Doctor by Research LPDP-BRIN, penerima beasiswa mendapat fleksibilitas mobilitas internasional. Peserta diperbolehkan melakukan perjalanan pulang-pergi Indonesia dan luar negeri hingga empat kali selama masa studi. Penerima juga tetap dapat menjalankan aktivitas profesional di lembaga riset.
Kepala Tim Manajemen Talenta 3 BRIN, Bakhtiardi Putra Siswinanda, mengatakan Degree by Research tidak sekadar dirancang sebagai program beasiswa, tetapi sebagai instrumen kolaborasi riset antara BRIN dan perguruan tinggi.
Skema tersebut melibatkan mahasiswa, promotor dari perguruan tinggi, serta ko-promotor dari BRIN dalam penelitian berbasis full research. Gelar akademik, menurutnya, merupakan hasil dari kolaborasi riset yang telah dirancang bersama. Untuk memperluas keterlibatan peneliti sosial humaniora, BRIN juga menyesuaikan persyaratan ko-promotor. Sejak awal 2025, ko-promotor BRIN tetap mensyaratkan H-index minimal 3, tetapi indeksasi tidak harus Scopus dan dapat menggunakan Google Scholar.
Saat ini, program DbR BRIN memasuki masa transisi menuju pengelolaan yang lebih terintegrasi dengan LPDP. Implementasi awal program bersama BRIN-LPDP masih berfokus pada bidang STEM dengan melibatkan lima perguruan tinggi mitra.
Ke depan, BRIN mendorong perluasan skema ke bidang sosial, humaniora, dan kebahasaan. Sinergi tersebut diharapkan memperbanyak lahirnya doktor dan talenta riset unggul sekaligus memperkuat kapasitas Indonesia menghasilkan inovasi yang berdampak bagi pembangunan.














