ItWorks.id- Mewujudkan pelabuhan yang bersih, transparan, dan berintegritas membutuhkan komitmen bersama seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan operasional. Untuk memperkuat upaya tersebut, IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) Terminal Tanjung Priok bersama mitra operasional mendeklarasikan komitmen bersama untuk menolak segala bentuk pungutan liar (pungli).
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Komitmen Bersama tentang Anti Pungutan Liar Menuju Pelabuhan Bersih, yang melibatkan Keluarga Besar Sopir Indonesia (KBSI) Perjuangan serta perusahaan bongkar muat (PBM) PT Olah Jasa Andal dan PT Tangguh Samudera Jaya, pada (21/10/2026), di Jakarta.
Langkah ini menegaskan bahwa upaya memberantas pungli tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan perusahaan, tetapi juga memerlukan partisipasi aktif, pengawasan, dan integritas seluruh mitra yang berinteraksi langsung dalam aktivitas kepelabuhanan.
Senior Manager Sekretariat Perusahaan IPC TPK, Daniel Setiawan, mengatakan pemberantasan pungli harus menjadi tanggung jawab bersama agar tercipta lingkungan kerja yang profesional dan kondusif bagi seluruh pemangku kepentingan.”Kami menyadari bahwa pemberantasan pungli tidak dapat dilakukan secara sepihak oleh korporasi, melainkan membutuhkan sinergi, pengawasan yang ketat, dan integritas dari seluruh elemen yang terlibat langsung dalam kegiatan bongkar muat di lapangan,” ujar Daniel dalam rilis pers, baru-baru ini.
Melalui deklarasi tersebut, seluruh pihak sepakat menolak segala bentuk pungutan liar, menjalankan kegiatan operasional sesuai ketentuan, serta menjunjung tinggi profesionalisme dan tanggung jawab dalam memberikan layanan.
Kesepakatan ini sekaligus menjadi upaya membangun hubungan kerja yang sehat antara perusahaan dan mitra operasional. Setiap pihak diharapkan saling mengingatkan, menjaga ketertiban, dan tidak memberikan ruang bagi praktik yang berpotensi merusak integritas layanan pelabuhan.
Dukungan terhadap komitmen ant pungli juga disampaikan Ketua KBSI Perjuangan, Nuratmo. Ia menegaskan kesiapan organisasinya untuk mengajak seluruh anggota menjaga profesionalisme serta berperan aktif menciptakan lingkungan pelabuhan yang tertib dan berintegritas.”Kami berkomitmen untuk mengajak seluruh anggota senantiasa menjunjung tinggi profesionalisme, serta turut menjaga ketertiban dan integritas di lingkungan pelabuhan. Kami juga siap bersinergi dengan seluruh pihak dalam mencegah praktik pungutan liar dan mendukung pelaporan setiap indikasi penyimpangan melalui saluran resmi yang tersedia,” kata Nuratmo.
Menurut dia, komitmen bersama tersebut diharapkan menjadi langkah nyata dalam membangun ekosistem pelabuhan yang bersih, transparan, dan kondusif bagi semua pihak.
Untuk memastikan komitmen tidak berhenti pada deklarasi, IPC TPK juga mendorong seluruh mitra operasional berpartisipasi aktif dalam pengawasan. Apabila menemukan indikasi praktik pungli, para pihak diharapkan segera melaporkannya melalui saluran pengaduan resmi atau Whistleblowing System (WBS) sesuai ketentuan yang berlaku.
Mekanisme pelaporan tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong penanganan dugaan pelanggaran secara objektif dan bertanggung jawab. Dengan keterlibatan seluruh pihak, upaya pencegahan diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan konsisten dalam aktivitas operasional sehari-hari.
Zero Tolerance
Bagi IPC TPK, komitmen ant pungli merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance (GCG), sekaligus meningkatkan kualitas layanan dan menjaga kepercayaan pengguna jasa serta mitra usaha.
Daniel menegaskan, perusahaan menerapkan prinsip zero tolerance terhadap praktik pungutan liar dan segala bentuk pelanggaran integritas yang terbukti terjadi di lingkungan operasional perusahaan.”IPC TPK menerapkan prinsip zero tolerance terhadap praktik pungutan liar dan segala bentuk pelanggaran integritas yang terbukti terjadi di lingkungan operasional perusahaan. Komitmen tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan perusahaan dalam memperkuat tata kelola, meningkatkan kualitas layanan, serta menjaga kepercayaan para pengguna jasa dan mitra usaha,” tutup Daniel.
Melalui kolaborasi dengan organisasi sopir dan perusahaan bongkar muat, IPC TPK berharap budaya ant pungli semakin mengakar di lingkungan pelabuhan. Konsistensi dalam menjalankan kesepakatan, memperkuat pengawasan, dan menindaklanjuti laporan menjadi kunci agar deklarasi tersebut menghasilkan perubahan nyata.
Pelabuhan yang bersih bukan hanya mencerminkan integritas para pelakunya, melainkan juga menjadi fondasi bagi terciptanya layanan kepelabuhanan yang profesional, transparan, dan mendukung kelancaran kegiatan logistik nasional.














