Jakarta, Itech – Para penjahat siber masih mengincar pengguna smartphone yang memiliki aplikasi mobile banking dan berpeluang besar menjadi korban pencurian mobile banking.
Gagan Singh (Wakil Presiden Senior dan General Manager Mobile di Avast) mengatakan Avast telah mendeteksi sejumlah trojan mobile banking dalam beberapa bulan terakhir sehubungan dengan ancaman privasi dan keamanan yang sedang meningkat. Para penjahat dunia mayar mengincar bank-bank termasuk Citibank, Wells Fargo, Santander, HSBC, ING, Chase, Bank of Scotland dan Sberbank.
“Meskipun bank memiliki sistem pengamanan yang ketat, para penjahat siber membuat aplikasi palsu yang meniru aplikasi resmi bank tersebut dan membuat pelanggan bank terkecoh,” katanya dalam siaran persnya, Selasa.
Avast’s Threat Labs Mobile menemukan ancaman baru dari Trojan BankBot di Google Play yang menargetkan rincian login bank konsumen. Trojan bersembunyi di dalam aplikasi flashlight dan Solitaire yang layak dipercaya. Setelah diunduh, malware akan memulai dan menargetkan aplikasi bank blue chip yang besar.
“Jika pengguna membuka aplikasi perbankan, malware tersebut akan membuat overlay palsu di atas aplikasi asli dengan tujuan mengumpulkan informasi perbankan pelanggan dan mengirimkannya ke penyerang,” ujarnya.
Singh menganjurkan para pelanggan untuk harus tetap waspada walaupun telah mengunduh aplikasi melalui toko aplikasi terpercaya seperti Google Play dan Apple’s App Store. Para pelanggan harus mengonfirmasi bahwa aplikasi perbankan harus terverifikasi. Jika antarmuka terlihat asing atau tidak pada tempatnya, periksa kembali dengan tim Customer bank.
“Anda harus menggunakan autentikasi dua faktor jika tersedia dan pastikan Anda memiliki antivirus kuat untuk Android yang terpasang untuk mendeteksi dan melindungi Anda dari perampokan uang,” ucapnya.
Avast, pemimpin dalam produk keamanan digital melakukan survei terhadap 40.000 konsumen di Spanyol dan sebelas negara lain di seluruh dunia untuk membandingkan keaslian aplikasi antarmuka perbankan resmi dan palsu.
Hasilnya, 58 persen responden mengidentifikasi aplikasi antarmuka mobile banking resmi sebagai penipuan (antarmuka palsu), 36 persen responden telah salah dan menganggap aplikasi antarmuka palsu itu sebagai yang asli.
Kira-kira dua dari lima (43%) responden survei di seluruh dunia mengatakan mereka menggunakan aplikasi mobile banking. Di Spanyol dan A.S., hampir setengah (46%) mengatakan bahwa mereka adalah pengguna aktif. Dari responden yang tidak melakukan kegiatan banknya melalui smartphone atau tablet, hampir sepertiga (30%) menunjuk kurangnya keamanan menjadi perhatian mereka yang utama. Hal tersebut diiungkap oleh 21% responden di Spanyol dan 36% di A.S.
Survei online dilakukan di 12 negara, termasuk A.S., Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, Jepang, Meksiko, Argentina, Indonesia, Republik Cheska, Brasil, dan Spanyol. Sebanyak 39.091 responden ikut ambil bagian dalam survei online ini.














