Jakarta, Itech- Data dari Kementerian Kesehatan menyebut jumlah penderita diabetes 2015 mencapai 10 juta jiwa dan jumlah penderita prediabetes mencapai 40 juta. Penderita prediabetes adalah seseorang yang kadar gula sesaatnya mencapai 150-200 mg/dl, dan bila ini tidak diperhatikan dalam jangka 1 sampai 2 tahun akan menjadi diabetes.
Dalam upaya upaya pencegahan meluasnya penyakit diabetes yang merupakan penyakit degeneratif di negeri Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui Pusat Teknologi Agroindustri (PTA) telah mengembangkan beras non padi yang berasal dari berbagai sumber karbohidrat yang tersedia di dalam negeri, seperti dari ubi kayu, ubi jalar, jagung, sorghum dan sagu.
“Dengan adanya rekayasa teknologi beras sagu ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif penyediaan beras non padi dan dapat menyehatkan masyarakat yakni memiliki khasiat mengendalikan gula darah dan sekaligus mengendalikan lemak darah seperti kolestrol dan trigleserida darah relawan, ” ungkap Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAN-BPPT) Soni Solistia Wirawan di gedung BPPT Jakarta, (6/6)
Saat ini, produk beras sagu sudah diproduksi oleh mitra sebagai pihak ketiga yaitu PT. Mitra Aneka Solusi (PT MAS) dan dijual ke masyarakat melalui model off line maupun on line. Dalam tiga bulan ini beras sagu ini sudah diproduksi sekitar 1,5 ton. “Ke depan dengan adanya beras sagu ini dapat digunakan sebagai pendamping penyediaan beras dalam rangka menunjang ketahanan pangan,” tambah Soni.
Dikatakan, pangan karbohidrat non padi tersebut sebelumnya merupakan bahan pangan di daerah-daerah tertentu yang secara agroklimat tanaman padi kurang dapat tumbuh dengan baik. Pangan karbohidrat non padi tersebut sering disebut sebagai pangan lokal.
“Masyarakat di daerah tertentu ini sudah terbiasa mengonsumsi pangan lokal sebagai sumber karbohidratnya, namun keberadaan beras yang melalui program swasembada beras sangat berhasil menggeser keberadaan pangan lokal tersebut,” ujar Soni
“Mengingat masyarakat Indonesia sudah terbiasa mengonsumsi nasi dari beras, maka melalui rekayasa teknologi bahan pangan lokal tersebut dibuat menyerupai bulir padi. Dengan membentuk bulir seperti beras maka diharapkan ketersediaan beras non padi dapat diterima oleh konsumen dalam negeri,” terangnya.
Data yang diperoleh dari Outlook Pangan Karbohidrat menyebutkan, pada 2015 di Indonesia terdapat 7 Provinsi yang mengalami difisit neraca beras padi. Ketujuh provinsi tersebut adalah Papua, Papua Barat, Maluku Utara, Riau, Jambi, Bangka Belitung, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari 7 provinsi tersebut difisit berasnya mencapai 1,4 juta ton.
Ditinjau dari sisi agroklimate tujuh provinsi tersebut dapat memanfaatkan sumber pangan lokalnya, misalnya Papua, Papua Barat, Maluku Utara, Jambi dan Riau dapat memanfaatkan sagu sebagai pangan karbohidratnya, sedangkan NTT dapat memafaatkan jagung, dan Bangka Belitung dapat menggunakan ubi kayu. Agar pangan lokal tidak disediakan dalam bentuk seperti aslinya maka dibentuklah seperti bulir beras padi.
Melalui teknologi ektrusi ini pengembangan beras non padi difokuskan menggunakan bahan baku sagu dengan pertimbangan areal sagu di Indonesia mencapai 2 juta ha dan belum dikelola secara maksimal. Disamping itu, ketersediaan pati sagu selalu tersedia dan tidak tergantung dengan musim. (red/ju)














