Jakarta,Itech- Pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla terus berupaya untuk memastikan pemerataan pembangunan infrastruktur, termasuk telekomunikasi bagi masyarakat di kawasan Indonesia Timur. Hal sejalan dengan Visi Pemerintah untuk pemerataan dan memerdekakan dari internet sebagai upaya menghubungkan seluruh Indonesia.
“Indonesia merdeka dari penjajah sudah mau 73 Tahun, tapi kita belum merdeka dari internet. Itu artinya belum semua masyarakat Indonesia bisa memanfaatkan internet. Ini salah satu yang terus kita upayakan untuk dikejar,” ungkap Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dalam kunjungan kerja di Kec. Rote Tengah, Kab. Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, (22/6), seperti lansir dalam siaran persnya, di Jakarta, baru-baru ini.
Dalam kesempatan itu, Menteri Rudiantara berjanji, tahun 2019 jaringan internet sudah saling terhubung. Saling berhubungan, bahkan jaringannya bisa membentuk cincin atau ring. Bukan kecepatan saja yang menjadi perhatian, tapi harga yang harus dibayarkan juga tidak boleh lebih mahal dibandingkan dengan penduduk di jawa. “Itulah cara pola pikir pemerintah juga visi pak Jokowi dalam memerdekan Indonesia dari internet. Bapak Jokowi ini banyak memperhatikan pembangunan, seperti infrastruktur dari mulai jalan tol lalu lalu bandara juga telekomunikasi,” jelasnya.
Ditambahkan, pemerintah dengan kebijakan keberpihakan akan membangun akses internet untuk seluruh warga negara di Indonesia. Dalam kaitan ini, Pemerintah membuat kebijakan keberpihakan di daerah non komersil atau 3T, terutamam dibangun yang prioritasnya untuk pendidikan. Sejauh ini ada 2.700 titik akses internet khususnya sekolah. Dari total 226 ribu sekolah baik SMP dan SMA ada 80 ribu lebih yang belum terhubung.
Guna memastikan internet cepat bisa diakses, Menteri Rudiantara menyebut akan menggunakan satelit telekomunikasi dengan teknologi baru. Kominfo bersama BAKTI menyiapkan satelit terbaru yang diperkirakan selesai akhir tahun (2018) atau awal tahun (2019) selesai dan segera diluncurkan juga dioperasikan. Sehingga nanti pada tahun 2022, semua sekolah harus bisa mengakses dengan satelit yang baru, dan kecepatannya bisa lima kali lebih dari yang sekarang.Pemilihan sektor pendidikan sebagai pengungkit menurut Menteri Kominfo penting sebagai bagian dari kesiapan menghadapi bonus demografi.
“Adik-adik akan jadi usia produktif nanti sama dengan kekuatan ekonomi seluruh negara ASEAN kebayang tidak? Akan sebesar itu, tapi itu teoritis dan tidak bisa berjalan dengan sendirinya, harus didampingi dengan akses internet yang ada di sekolah salah satunya,” jelasnya.
Menteri Kominfo menargetkan pada Tahun 2020, 20 ribu desa yang saat ini belum tersentuh internet akan bisa terhubung dengan internet. “Jadi nanti kalau mau laporan tidak pakai kertas lagi datang ke kantor, tetapi pakai internet. Ini bukan hanya di Rote Ndao tapi di seluruh Indonesia nanti akan terhubung,” ungkapnya.
Selain melalui satelit high throughput yang kini sudah memiliki slot orbital, Menteri Rudiantara menjelaskan penyediaan koneksi antardesa juga dibantu oleh Palapa Ring. Palapa Ring dibangun dengan jaringan kabel laut sepanjang 250 kilometer dan lebih dari 1000 kilometer kabel darat, termasuk microwave (gelombang mikro).
“Nama Palapa Ring sendiri sesuai janji Gajah Mada, pada Sumpah Palapa-nya. Dengan nama Palapa mengambil ruh semangat untuk mempersatukan Indonesia. Itu selesai tahun 2019 dan harus sudah beroperasi,” imbuhnya.
Ada pula lima menara BTS yang sedang dibangun Kementerian Kominfo untuk memastikan bisa dimanfaatkan masyarakat. Di antaranya dibangun lima BTS untuk masyarakat di Rote Ndao. Pembangunan BTS dilakukan pada titik tertentu yang dianggap strategis tanpa menunggu Palapa Ring jadi. (Red-AC)














