Jakarta, ITWorks- Schneider Electric, menegaskan kembali kepemimpinannya di industri manufaktur yang cerdas dan berkelanjutan melalui transformasi pabriknya di Cikarang – pabrik Engineer-to-order Schneider Electric terbesar di Asia dengan menggabungkan sistem otomasi industri dan pemanfaatan energi terbarukan. Langkah ini juga merupakan bagian dari program transformasi digital Schneider Electric secara global dan komitmen perusahaan terhadap netralitas karbon pada tahun 2030.
Pabrik pintar Schneider Electric di Cikarang, Indonesia merupakan percontohan dari integrasi antara sistem otomasi industri dan pemanfaatan energi terbarukan. Pabrik Engineer-to-Order ini menunjukkan manfaat yang terukur dan real-time – peningkatan efisiensi energi dan produktivitas hingga 15%, mengurangi waktu dan biaya dan pada saat yang sama melindungi lingkungan. Peningkatan produktivitas ini dimungkinkan dengan sistem otomatisasi yang bisa mengurangi kesalahan operator, memberikan dukungan yang lebih baik kepada para staff dalam kegiatan operasional dan pemeliharaan melalui visibilitas yang lebih baik.
Melalui inovasi ini, Schneider Electric berkomitmen untuk melakukan percepataan implementasi industri 4.0 di Indonesia melalui solusi komprehensif EcoStruxure™ serta berbagi praktik-praktik terbaik dalam penerapan transformasi pabrik pintar kepada para pelaku industri. “Transformasi digital di pabrik Cikarang ini lebih menekankan pada peningkatan produktivitas tenaga kerja dengan merampingkan proses komunikasi dan meningkatkan keakuratan data/informasi melalui pemanfaatan solusi EcoStruxure. Transformasi digital ini meningkatkan visibilitas dan koordinasi antar operator, serta meningkatkan efisiensi energi dan pelestarian lingkungan,” papar Country President Schneider Electric Indonesia Xavier Denoly pada (25/6), dalam keterangan persnya.
Ditambahkan digitalisasi pabrik ini memungkinkan presisi yang lebih baik dalam pemeliharaan perangkat operasional sehingga mengurangi risiko kecelakaan, meningkatkan kualitas produk bagi pelanggan dan yang lebih penting, mengembangkan keterampilan tenaga kerja terhadap kemampuan analisa dan trend teknologi industri terkini. “Pabrik pintar Cikarang merupakan salah satu dari yang pertama yang menggunakan energi terbarukan dalam kegiatan operasionalnya dari seluruh pabrik Schneider Electric di Asia.
Sumber energi terbarukan berasal dari panel tenaga surya di atap gedung yang menyediakan listrik yang dihasilkan tenaga surya untuk operasi gedung. Pemanfaatan tenaga surya ini sekaligus mengurangi jejak karbonnya hingga mencapai 181 ton CO2 per tahun. Lebih dari dua puluh persen (> 20%) dari konsumsi energi bulanan di pabrik saat ini dihasilkan dari tenaga surya dan ditargetkan untuk mencapai 100 persen energi terbarukan pada tahun 2030,” ujarnya.
Sebagai pabrik Engineer-to-Order Schneider Electric terbesar di Asia, Cikarang adalah pabrik perakitan panel dengan spesifikasi khusus untuk berbagai macam produk dari peralatan listrik bertegangan rendah hingga menengah. Terletak di Kawasan Industri Jakarta Timur, dengan area seluas 33.000 meter persegi, pabrik Cikarang mempekerjakan 800 karyawan dan memiliki sertifikasi berdasarkan standar nasional dan internasional. (AC)














