Pada 7 Mei, petugas bea cukai di Ostend, Belgia, menerima sekotak tiram dari Inggris.

Hewan moluska itu ditangkap di Essex dan diangkut ke Belgia dengan kapal lambung aluminium berukuran 12 meter (39 kaki), yang melintasi Selat Inggris tanpa manusia di dalamnya.

Akankah kapal tanpa pelaut jadi masa depan perdagangan?
Tiram yang dikirim dari Inggris ke Belgia dengan kapal tanpa awak (dok: Hushcraft)

Itu adalah operasi pengiriman komersial tanpa awak pertama di dunia.

Kapal tanpa awak itu diawasi dengan cermat oleh empat orang di pusat kendali di Tollesbury, Essex, markas besar Hushcraft, perusahaan di balik desain dan pengembangan kapal itu.

Penjaga pantai Inggris dan Belgia juga memantau kemajuan pengiriman tiram dari Inggris ke Belgia itu.

“Anda benar-benar bisa mendengarkan ombak menghantam kapal,” kata Ben Simpson, direktur pengelola Hushcraft.

Kapal yang dibanggakan ini menggunakan mesin diesel hibrida, generator listrik, tautan satelit, CCTV dan kamera termal, sistem identifikasi otomatis untuk memperingatkan kapal yang mendekat dari posisinya dan banyak lagi.

Sea-Kit telah memenangkan hadiah

Kapal itu diberi nama Sea-Kit, dan telah membantu tim hidrograf internasional, yang didanai oleh Nippon Foundation, sebuah yayasan nirlaba asal Jepang dan telah memenangkan Shell Ocean Discovery Xprize sebesar $ 4juta (£ 3,2 juta) untuk kemajuan dalam memetakan lautan secara otonom.

Akankah kapal tanpa pelaut jadi masa depan perdagangan?
Sea-Kit telah meraih penghargaan Shell Ocean Discovery Xprize ((dok: Hushcraft)

Sekarang Hushcraft ingin Sea-Kit digunakan untuk mengangkut kargo, karenanya perusahaan itu memasang kotak tiram seberat 5kg – sebuah makanan lokal – ke kapal dan mengirimkannya ke Ostend. Tetapi apakah ada pasar untuk itu?

“Manfaatnya banyak,” kata Simpson. “Anda dapat mengirim kapal ini ke seluruh dunia untuk melakukan pekerjaan yang berbeda dengan biaya yang jauh berkurang. Maka, Anda tidak harus memiliki dapur, Anda tidak harus memiliki toilet. Anda dapat memanfaatkan ruang.”

Kapal ini lebih baik untuk lingkungan karena mereka dapat digerakkan menggunakan listrik. Dan karena mereka dapat menggunakan pelabuhan yang lebih kecil mereka dapat mengganti transportasi jalan dan mengurangi lebih banyak asap, katanya.

Kapal hantu

Bagi Lawrence Brennan, pensiunan kapten angkatan laut AS dan asisten profesor bidang maritim dan kelautan di Fakultas Hukum Universitas Fordham, semua keutamaan kapal kargo tanpa awak ini menghadirkan ancaman tertentu.

Kapal tanpa pelaut berarti tidak ada risiko bagi kehidupan manusia dari kebakaran atau bahaya lain di laut. Tidak ada yang perlu merekrut staf, membayar mereka, melatih mereka atau menjaga terhadap awak yang tidak berlisensi. Perahu bisa pergi ke mana saja.

Akankah kapal tanpa pelaut jadi masa depan perdagangan?
Kamera dan mikrophone yang ada di atas kapal memasok informasi ke pusat kontrol di darat (dok: Hushcraft)

Tetapi, dalam pandangan Prof. Brennan, kelemahan utama yang pertama dari pengiriman dengan kapal tanpa awak adalah teknologi yang membuatnya.

Kegagalan dalam komunikasi antara kapal dan pangkalan akan menjadikannya sebuah kapal hantu, tanpa harapan melayang tanpa jiwa di atas kapal, menimbulkan bahaya bagi pemiliknya, pemilik muatannya, dan lingkungan, ia berpendapat.

Menjadi kreatif

“Kapal tak berawak dapat dihentikan oleh bajak laut dengan tembakan melumpuhkan yang merusak baling-baling dan kemudi kapal,” Prof Brennan melanjutkan.

Karolina Zwolak, kepala Bagian Navigasi di Institut Navigasi dan Hidrografi Laut Akademi Angkatan Laut Polandia, berkontribusi pada keberhasilan pelayaran tiram dari Inggris ke Belgia itu. Sebagian dari pekerjaannya adalah menghindari tabrakan.

Dr Zwolak sudah bekerja pada upaya ambisius tim internasional Sea-Kit berikutnya, yang akan berlayar melintasi Atlantik tahun depan, tapi menyadari keterbatasan teknologi.

Baca: Garuda Indonesia Uji Coba Terbangkan Drone untuk Bawa Kargo

“Ketika situasi tak terduga terjadi di atas kapal maka kreativitas manusia, pengalaman, dan pemikiran non-skematis dapat menyelesaikan masalah,” katanya.

Jadi dia tidak melihat revolusi dalam industri perkapalan dalam waktu dekat.

“Saya hanya percaya semakin banyak tugas akan didelegasikan di darat, menggunakan teknologi komunikasi,” katanya.

Dari kru kapal ke kantor

Sementara itu,Simpson, yang percaya transportasi laut pendek tanpa awak akan jadi hal biasa dalam lima tahun dari sekarang, mengatakan bahwa masalah seperti risiko pembajakan merupakan ‘wabah’ bagi kapal berawak dan tak berawak.

Dia juga berpikir tidak ada alasan ekonomis untuk memecat orang.

“Kapal tak berawak perlu dibangun, dipelihara, dan dikendalikan. Orang-orang yang seharusnya mengendalikan kapal berawak kini ada di kantor,” katanya, seraya menambahkan bahwa banyak pelatihan akan dilakukan dalam masa transisi.

Kendala lainnya adalah hukum.

Akankah kapal tanpa pelaut jadi masa depan perdagangan?
Kapal tanpa awak akan jadi hal biasa dalam 5 tahun mendatang (dok: Hushcraft)

“Rezim hukum telah berusia beberapa dekade, jika bukan satu setengah abad yang ketinggalan zaman,” kata Prof Brennan. “Karena kapal tak berawak tidak pernah dibayangkan sampai saat ini, undang-undang mengatakan adanya awak kapal sangat penting untuk memiliki kapal yang layak melaut, diklasifikasikan, dan diizinkan untuk beroperasi di perairan nasional dan di laut lepas,” jelasnya.

Hukum selalu tertinggal

Agar kapal yang menavigasi sendiri dapat melintasi samudera bebas dari hambatan hukum, undang-undang kelautan yang sepenuhnya baru harus disusun dan dimasukkan ke dalam hukum nasional dan rezim internasional, jika tidak pemodal akan ketakutan.

Meski demikian, komunitas maritim internasional sedang melalui hiruk pikuk kreativitas teknologi, sehingga bagi Dr Zwolak akan ada solusi segera.

“Teknologi selalu mendahului hukum,” katanya.

Sumber: BBC.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here