Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta, sudah ‘memerintahkan’ Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk menghasilkan bibit tanaman yang tahan di lahan kering agar tanaman tidak cepat mati. Saat ini, katanya, sudah ada bibit padi tahan kering dan siap diperbanyak. Untuk benih tanaman lain juga tengah disiapkan.
Usai membuka membuka ‘APEC Climate Symposium (APCS) 2013’,
Senin (11/10), di auditorium Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), menristek menyebut, sesungguhnya BMKG sudah memberikan informasi awal kepada pemerintah daerah agar bersiap-siap menghadapi musim kering.
“Namun, sayangnya banyak yang tidak mengabaikan. Pas kejadian baru panik. Padahal dengan membaca peta-peta rawan bencana seperti kekeringan, pemda bisa bersiap-siap, paling tidak memperkecil dampak kerugiannya,” kata menristek.
Ia menambahkan, kegiatan ristek berperan sangat penting dalam upaya menemukan teknologi tepat guna untuk mendukung ketahanan pangan. Salah satunya dengan kegiatan pengembangan teknik permodelan monitoring dan prediksi iklim, khususnya permodelan kekeringan.
“Dalam tataran nasional BMKG berperan penting dalam pengembangan monitoring kekeringan serta sistim peringatan dini iklim di Indonesia,” tambahnya.
Kepala BMKG, Dr. Andi Eka Sakya, M.Eng, mengatakan, pihaknya telah membangun suatu sistem peringatan dini iklim (Climate Early Warning System, CEWS) yang mulai beroperasi pada 2013. Sistem ini memonitoring dan prediksi kekeringan di wilayah Indonesia, khususnya di daerah sentra pangan.
BMKG berharap teknologi ini dapat diterjemahkan dengan baik dan benar oleh end user, seperti pemerintah daerah sebagai pengambil keputusan, petani/nelayan, dan pihak-pihak lainnya. CEWS ini menginformasikan kandungan air tanah dalam tanah, standar indeks hujan dengan membandingkan rata-rata hujan, serta berapa lama suatu daerah tadak hujan dalam kurun waktu 3 bulan berturut-turut.
“Pihak-pihak yang berwenanglah yang melakukan sesuatu untuk peningkatan mekanisme kewaspadaan menghadapi potensi bencana kekeringan di iklim ekstrim,” tambahnya.
Dalam simposium bertemakan ‘Regional Cooperation on Drought Prediction Science to Support Disaster Preparedness and Management’ ini dihadiri beberapa ahli yang berasal dari Amerika Serikat, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), Australia (BoM dan CSIRO), New Zealand, Rusia, Mexico, Peru, Cili, Jepang, China, Korea, Iran dan perwakilan Negara ASEAN.
Dari simposium itu terungkap, kejadian cuaca dan iklim ekstrim secara nyata telah terjadi di banyak negara sehingga banyak menimbulkan kerugian jiwa dan materil. Kejadian ini sebagai dampak perubahan atmosfer dan lingkungan. Salah satu dampak iklim ekstrim yang berdampak sangat luas adalah terjadinya kekeringan.
APCS sendiri, kegiatan rutin tahunan sejak 2005 yang dihadiri sekitar 100 saintis, perwakilan dari Badan Meteorologi dan Hidrologi, akademisi, politisi dan mahasiswa dari seluruh dunia untuk berdiskusi tentang berbagai isu terkait prediksi iklim dan aplikasinya terhadap sector terkait. (*)














