Jadi Kampus Fintech Pertama, BRI Institute Tawarkan Paket Lengkap Lulusan ‘Cerdas IT dan Keuangan’

Penulis adam

Inovasi dan teknologi kini mulai merambah ke beragam sektor, termasuk bidang keuangan (finansial) yang kini disebut sebagai financial technology (fintech). Indonesia memang tengah menghadapi revolusi industri 4.0, di mana seluruh sektor terdampak adanya disrupsi digital.

Saat ini fintech menjadi tren baru di industri keuangan tanah air yang memudahkan masyarakat menikmati akses terhadap produk keuangan secara praktis dan efektif. Dunia perbankan Indonesia pun mulai beradaptasi dan mengadopsi inovasi ini dalam produk keuangan mereka.

Satu diantaranya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) yang kini telah memiliki lembaga pendidikan yang berfokus di bidang fintech, yakni BRI Institute.

Mencoba untuk ‘anti mainstream’ dengan mendirikan kampus ini, BRI mengharapkan hadirnya lulusan yang tidak hanya cerdas dalam menguasai bidang Information Technology (IT), namun juga sektor keuangan. Karena dua hal ini kini tidak dapat dipisahkan seiring dengan perkembangan teknologi.

Rektor BRI Institute Dana S Saroso menjelaskan alasan mengapa Bank BRI berani mendirikan lembaga pendidikan yang khusus berfokus pada bidang fintech. Bank pelat merah ini tentunya menangkap adanya peluang bisnis yang potensial dari disrupsi pada sektor satu ini yang mempengaruhi nyaris seluruh transaksi keuangan menjadi ‘transaksi serba digital’

“Kita melihat bahwa financial dan technology itu menjadi hal yang berdampak ke semua sektor industri. Bank BRI pemikirannya, beberapa tahun yang lalu saat mau mendirikan perguruan tinggi ini, sektor keuangan adalah salah satu sektor yang terdisrupsi dengan perkembangan teknologi khususnya digital, ini yang cukup terasa,” ujar Dana dalam siaran persnya, Kamis (16/1).

Dana menyadari perubahan teknologi yang begitu pesat saat ini tidak hanya merambah industri manufaktur, otomasi serta robot saja, bahkan hampir seluruh sektor tidak luput dari perubahan ini.

Banyak pihak yang tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa teknologi bisa mendisrupsi sektor keuangan, namun faktanya hal itu benar terjadi.

“Kalau kemarin mungkin perkembangan teknologi 10 tahun yang lalu, itu lebih kepada sifatnya adalah industri-industri manufaktur, otomasi, robot. Tapi dengan perkembangan teknologi, ternyata teknologi (finansial) tersebut masuk juga ke sektor keuangan,” jelas Dana.

Bank BRI yang memiliki pengalaman panjang dalam sektor keuangan khususnya terkait keuangan mikro atau micro finance, tentu saja melihat fintech ini bisa menjadi peluang baru dalam menciptakan ‘talenta lengkap’ untuk mengisi beragam posisi di sektor keuangan masa depan.

Melalui BRI Institute, diharapkan lahir para talenta muda yang memiliki paket lengkap, yakni memiliki literasi yang kuat terkait IT dan bidang perbankan.

“Nah karena Bank BRI dengan 124 tahun pengalaman di financial khususnya di micro finance atau di keuangan mikro, maka mata rantainya paling panjang. Karena yang bicara kredit kecil itu kan mayoritas adalah Bank BRI, oleh karena itu men-set up BRI Institute adalah (upaya) menyiapkan talenta-talenta di bidang perbankan tapi yang fasih atau yang literate dengan IT khususnya dengan digital,” tegas Dana.

Didirikan 14 November 2018, BRI Institute memang baru ‘seumur jagung’, namun kampus ini memiliki 6 program studi yang sangat menarik, 5 diantaranya berbasis teknologi,
“Di BRI Institute ini ada 6 jurusan atau program studi, 5 dari 6 itu adalah IT basicnya,” ucapnya.

Lima program studi berbasis IT itu meliputi Sistem Teknologi Informasi dengan konsentrasi Micro Finance, Sistem Informasi dengan konsentrasi Digital Banking, kemudian Teknologi Informasi dengan kekhususan bidang Syariah.

Lalu Ilmu Informatika dengan konsentrasi Insurance, serta Teknologi Bisnis Digital dengan kekhususannya adalah Perbankan, kemudian program studi ke enam adalah Entrepreneurship dengan kekhususan Technopreneur.

“Jadi 5 dari 6 progam studi tersebut menghasilkan sarjana llmu Informatika tapi dengan major Micro Finance, Syariah dan sebagainya,” kata Dana.

Sedangkan program studi Entrepreneurship tentunya akan memberikan kesempatan bagi para mahasiswa BRI Institute dalam mengembangkan perusahaan rintisan (startup).

“Yang (program studi) Entrepreneurship, anak-anak muda zaman sekarang kan pengennya bikin startup, nah nanti technopreneurnya ada di situ,” papar Dana.

Dana kembali menekankan alasan dibalik dibangunnya kampus fintech pertama di tanah air ini, karena Bank BRI berkomitmen untuk menciptakan lulusan yang memiliki paket lengkap.

Agar bisa mendorong peningkatan perekonomian nasional sekaligus menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) Unggul sesuai dengan salah satu fokus dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

“Jadi itu alasan kami kenapa BRI Institute didirikan, karena menyiapkan anak-anak muda sekarang untuk nggak hanya tahu IT saja, atau nggak hanya tahu bisnis saja. Jadi kami menjahit ‘satu set pakaian’ (yang menggabungkan) antara IT dan kekhususan-kekhususan itu tadi, itu kira-kira stand up position dari BRI Institute, jadi berada di antara IT dan keuangan,” tutur Dana.

Oleh karena itu menurutnya, didirikannya BRI Institute adalah hal yang tepat untuk menjawab tantangan teknologi di sektor keuangan masa depan.

“Makanya kita (namanya) Institut Teknologi dan Bisnis, penggabungan dua bidang yang memang hari ini sudah nggak bisa terpisahkan,” pungkas Dana.

Perlu diketahui, para milenial yang tertarik berkuliah di BRI Institute pada tahun ini bisa mendaftar dengan membayar uang pangkal sebesar Rp 15.000.000, sedangkan uang per semesternya dikenakan Rp 10.000.000.

Besarnya pembiayaan ini berlaku untuk tahun ini saja, sehingga total pengeluaran untuk menempuh studi di kampus ini sebesar Rp 95.000.000. Masa perkuliahan pun dilakukan selama 8 semester, namun untuk dua semeter akhir, para mahasiswa akan langsung terjun magang di industri yang menjadi mitra dari BRI Institute.

BACA JUGA

Leave a Comment