Jakarta, ItWorks- Indonesia kembali menunjukan komitmennya di dunia kemaritiman. Kali ini Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan bersama negara yang tergabung dalam Port Autorities Roundtable (PAR) mendeklarasikan lawan Covid-19 melalui International Maritime Organization (IMO).
Indonesia diwakili oleh Otoritas Pelabuhan (OP) Utama Tanjung Priok bersama lebih dari 50 Otoritas Pelabuhan di dunia, menyerukan kepada otoritas pelabuhan di seluruh dunia untuk berkolaborasi dan berbagi praktik terbaik untuk memastikan bahwa operasional pelabuhan tidak terganggu dan tetap dapat melayani di masa pandemi Covid-19 saat ini. Hal sangat penting mengingat angkutan perdagangan dunia, sebagian besar diangkut melalui kapal laut di pelabuhan.
Kepala Kantor OP Utama Tanjung Priok, Jece Julita Piris menjelaskan pentingnya deklarasi ini, sehingga IMO menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor No.4204/Add.12/Rev.1 tanggal 29 May 2020 yang menginformasikan kepada seluruh anggotanya di mancanegara. “SE Sekretaris Jenderal IMO menekankan pentingnya untuk menjaga agar alur perdagangan melalui laut tidak terganggu. Keselamatan kehidupan di laut serta perlindungan lingkungan maritim juga harus menjadi prioritas utama,” ujar Jece di kantor PO Tanjung Priok di Jakarta, dilansir Humas Kementerian Perhubungan RI dalam web resminya, di Jakarta, baru-baru ini.
Jece menambahkan, salah satu tujuan Sekjen IMO sebagaimana dikemukakan dalam konvensi adalah untuk memastikan ketersediaan layanan pengiriman ke perdagangan dunia untuk kepentingan kemanusiaan. Pasalnya, lebih dari 80% barang di dunia, termasuk barang mesin industri, elektronik, bahan baku produksi, dan lainnya diangkut melalui jalur laut. Sehingga sektor pelabuhan dan maritim memainkan peranan penting dalam menjaga arus perdagangan, meski di tengah pandemi Covid-19.
Saat WHO menyatakan Covid-19 sebagai pandemi, berbagai kegiatan operasional pelabuhan tersibuk dan terpenting di dunia banyak dibatasi guna menekan penyebaran Covid-19. sehingga penurunan trafik logistik pun tak bisa dihindarkan. Seperti halnya pelabuhan di China yakni Pelabuhan Shanghai yang memiliki jalur pelayaran utama dunia sempat terputus dengan perdagangan global dampak dari serangan pendemi Corona Virus.
Diikuti pembatasan Pelabuhan Long Beach dan Los Angeles(Pelabuhan kembar di pantai barat AS), Pelabuhan Singapura (pelabuhan tersibuk kedua di dunia), serta dikuti pelabuhan besar lain di Asia, Afrika dan Eropa.
Minimkan Gangguan
Mengatasi masalah pembatasan operasional pelabuhan akibat dari pandemi Covid-19, untuk pertamakali PAR berkumpul di Singapura pada 24 April 2020 dengan diikuti 20 anggota dari Asia, Eropa, Timur Tengah, dan Amerika Utara. Mereka berkomitmen memastikan pelabuhan mereka tetap terbuka di tengah pandemi untuk menjaga arus perdagangan dalam perang global melawan Covid-19.
Dalam pertemuan tersebut juga, terdapat pencanangan deklarasi kedua PAR yang menekankan pentingnya meminimalkan gangguan terhadap perdagangan, distribusi melalui laut dan kegiatan pelayaran sehingga barang-barang vital, terutama kebutuhan dan pasokan medis yang penting dapat terus mengalir dengan baik ke berbagai wilayah di dunia. “Tidak ada satu negara pun yang dapat memenangkan pertarungan melawan Covid-19 sendiri, tanpa memiliki akses berkelanjutan kepada barang-barang penting di dunia,” tegas Jece.
Sebagai platform multilateral yang terdiri dari Otoritas-Otoritas Pelabuhan terkemuka di Asia, Oceania, Timur Tengah, Afrika, Eropa dan Amerika, anggota PAR berkomitmen untuk berkolaborasi dengan cara berbagi praktik terbaik dan langkah-langkah yang diterapkan, sehingga pelabuhan tetap terbuka untuk perdagangan lintas Negara. (AC)














